Tanda - Tanda Kecintaan Allah Terhadap Hambanya

Tanda - Tanda Kecintaan Allah Terhadap Hambanya

Allah berfirman: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."  [Ali Imran:31]   Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 Ayat ini mencakup beberapa hal penting:

1. Allah menghukumi atas orang yang mengaku mencintai Allah, namun bukan dengan cara yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, maka dia adalah seorang pendusta dalam pengakuannya, sampai dia mengikuti syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan agama yang dibawanya dalam semua perkataan, perbuatan, dan keadaannya. 
2. Dengan mengikuti Nabi saw., maka dia akan mendapatkan cinta Allah kepadanya, yang mana hal itu lebih agung daripada cintanya kepada Allah.
  • Sebagian orang bijak yang alim berkata: Hal yang terpenting bukanlah kamu mencintai, namun yang terpenting adalah kamu dicintai.
  • Hasan Basri dan ulama Salaf lainnya mengatakan: Suatu kaum mengira bahwa mereka mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini: "Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu'" [Ali Imran:31]
3. Dengan mengikuti Rasulullah saw., maka dosa-dosa akan terampuni. Allah telah menyifati diri-Nya dengan sifat pengampun dan pengasih. 
(Ibnu Katsir: 2/25)

Hadis - hadis tentang kecintaan Allah terhadap Hambanya : 
1. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman -dalam hadits Qudsi: "Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka Aku memberitahukan padanya bahwa ia akan Kuperangi (Kumusuhi). Tidaklah seorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Tidaklah seorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan melakukan hal-hal yang sunnah, sehingga akhirnya Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Akulah telinganya yang ia pakai untuk mendengarkan, Akulah matanya yang ia pakai untuk melihat, Akulah tangannya yang ia pakai untuk mengambil dan Aku pulalah kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Jikalau ia meminta sesuatu padaKu, pasti Kuberi dan jikalau ia mohon perlindungan padaKu, pasti Kulindungi." (Riwayat Imam Bukhari).

Penjelasan:
Namanya hadits Qudsi yakni yang menyatakan firman-firman Allah selain yang tercantum dalam al-Quran. Dalam hadits ini dijelaskan betapa tingginya derajat seseorang itu apabila telah diakui sebagai kekasih oleh Allah Ta'ala atau yang lazim disebut waliyullah. Banyak orang yang salah pengertian perihal siapa yang dapat disebut waliyullah itu. Sebagian ada yang mengatakan bahwa waliyullah ialah semacam dukun yang dapat menyembuhkan beberapa orang sakit atau yang dapat meneka nasib seorang dikemudian harinya, atau orang yang tidak mudah ditemui karena selalu menghilang-hilang saja dan siapa yang ditemui olehnya adalah orang yang bahagia, dan bahkan ada yang mengatakan bahwa waliyullah itu tidak perlu bershalat dan berpuasa sebab sudah menjadi kekasih Allah.

Persangkaan sebagaimana di atas itu tidak benar, sebab memang tidak sedemikian itu sifatnya waliyullah. Maka yang lebih dulu perlu kita ketahui ialah: Siapakah yang sebenarnya dapat disebut waliyullah atau kekasih Allah itu? Jawabnya: Dalam al-Quran, Allah berfirman: "Tidak ada yang dianggap sebagai kekasih Allah, melainkan orang-orang yang bertaqwa kepadaNya." Alangkah ringkasnya pengertian waliyullah itu, tetapi benar-benar dapat menyeluruhi semua keadaan. Kalau ada pengertian waliyullah selain yang difirmankan oleh Allah sendiri itu, jelaslah bahwa itu hanyalah penafsiran manusia sendiri dan tidak berdasarkan kepada agama Islam sama sekali. Waliyullah yang berupa orang-orang yang bertaqwa kepada Allah itulah yang dijamin oleh Allah akan mendapatkan perlindungan dan penjagaanNya selalu dan siapa saja yang hendak memusuhinya, pasti akan ditumpas oleh Allah, sebab Allah sendiri menyatakan permusuhan terhadap orang tadi. Sekarang bagaimanakah taraf pertamanya agar supaya kita dikasihi oleh Allah? Jawabnya: Mendekatkan (bertaqarrublah) kepada Allah dengan penuh melakukan segala yang difardhukan (diwajibkan). Inilah cara taqarrub yang sebaik-baiknya dalam taraf permulaan. Kemudian sempurnakanlah taqarrub kepada Allah Ta'ala itu dengan jalan melakukan hal-hal yang sunnah-sunnah. Kalau ini telah dilaksanakan, pastilah Allah akan menyatakan kecintaanNya. 

Selanjutnya, apabila seorang itu telah benar-benar bertaqarrub kepada Allah dan Allah sudah mencintainya, maka baik pendengarannya, penglihatannya, tindakan tangan dan kakinya semuanya selalu mendapatkan petunjuk dari Allah, selalu diberi bimbingan dan hidayat serta pertolongan oleh Allah. Bahkan Allah menjanjikan kalau orang itu meminta apa saja, pasti dikabulkanNya, mohon perlindungan dari apa saja, pasti dilindungiNya. Dengan demikian, maka seringkali timbullah beberapa macam karamah dengan izin Allah. Karamah ialah sesuatu yang tampak luar biasa di mata umum yang dapat dilakukan oleh seorang waliyullah itu, semata-mata sebagai suatu kemuliaan atau penghargaan yang dikurniakan oleh Allah kepadanya. Tetapi ingatlah bahwa tidak seorang waliyullah pun yang dapat mengetahui bahwa dirinya itu menjadi waliyullah. Kalau seorang sudah mengatakan sendiri bahwa dirinya itu waliyullah, jelaslah bahwa ia telah tertipu oleh anggapan atau persangkaannya sendiri dan sudah pasti ia telah tertipu oleh ajakan syaitan yang menyesatkan. Selain itu, bagaimana juga hal ihwal dan keadaan seorang waliyullah itu, pasti ia tidak dapat mengetahui hal-hal yang ghaib, misalnya mengetahui apa yang tersimpan dalam hati orang lain, mengetahui nasib orang di kemudian harinya, kaya miskinnya dan lain-lain lagi. Dalam al-Quran, Allah berfirman: "Allah yang Maha Mengetahui perkara ghaib, maka tidak diberitahukanlah keghaiban-keghaiban itu kepada siapapun jua, selain kepada Rasul yang dipilih olehNya."

2. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. pula dari Nabi shalallahu 'alaihi wasallam., sabdanya: "Jikalau Allah Ta'ala itu mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril untuk memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu -hai Jibril- si Fulan itu. Jibril lalu mencintainya, kemudian ia mengundang kepada seluruh penghuni langit memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua (wahai penghuni-penghuni langit) si Fulan itu. Para penghuni langitpun lalu mencintainya. Setelah itu diletakkanlah penerimaan baginya (yang dimaksudkan ialah kecintaan padanya) di kalangan penghuni bumi." (Muttafaq 'alaih). 

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai seorang hamba, lalu memanggil Jibril kemudian berfirman: "Sesungguhnya Saya mencintai si Fulan, maka cintailah ia." Jibril lalu mencintainya. Seterusnya Jibril memanggil pada seluruh penghuni langit lalu berkata: "Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua si Fulan itu." Orang itupun lalu dicintai oleh para penghuni langit. Selanjutnya diletakkanlah penerimaan (kecintaan) itu baginya dalam hati para penghuni bumi. Dan jikalau Allah membenci seorang hamba, maka dipanggillah Jibril lalu berfirman: "Sesungguhnya Saya membenci si Fulan itu, maka bencilah engkau padanya." Jibril lalu membencinya, kemudian ia memanggil semua penghuni langit sambil berkata: "Sesungguhnya Allah membenci si Fulan, maka bencilah engkau semua padanya." Selanjutnya diletakkanlah rasa kebencian itu dalam hati para penghuni bumi."

3. ” Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci . Tetapi Dia tidak memberikan (kesadaran ber) agama, kecuali kepada yang Dia Cintai. Maka barang siapa diberikan (kesadaran ber) agama oleh Allah, berarti ia dicintai olehNya” ( HR. Imam Ahmad, Al Hakim dan Al Baihaqi)

Related Posts:

Jauhilah Berprasangka Buruk



Prasangka buruk dalam Islam disebut su’ul zhan (سوء الظنّ). Lawannya adalah husnul zhan (حسن الظنّ) yaitu prasangka baik atau berbaik sangka. Prasangka buruk merupakan pendapat anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui, menyaksikan, atau menyelidiki sendiri. Hal ini sebenarnya dapat merusak ukhuwah dan tali silaturrahim, karena dapat menimbulkan fitnah dan itu dapat merugikan orang lain. Oleh karena itu, hal ini sangat ditentang dalam Islam. Bahkan Allah mengumpamakan dosa fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan. Sesuai dengan firman-Nya pada surat al-Baqarah [2]: 191 : "......dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan......" dan pada Surat al - Baqarah [2]: 217 : "........ Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.........".

Sesungguhnya sifat su’ul zhan dapat memutus ukhuwah Islamiyah dan tali silaturahmi. Padahal sebagai seorang muslim, sudah seharusnyalah saling menghormati dan menghargai, baik sesama muslim maupun kepada manusia secara umum. Kita juga diwajibkan untuk saling tolong-menolong. Kita pun tidak seharusnya mencari - cari kesalahan atau aib orang lain Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam surat al - Hujurat [49] : 12 : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذّبُ الْحَدِيْث yang artinya: "Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta" (H.R Muslim). Akdzabul Hadits dapat pula diartikan sebagai ‘ucapan yang paling dusta’, ‘paling dustanya perkataan’, ‘berita yang paling dusta’, ‘kedustaan besar’, dan lainnya. Meskipun dengan redaksi yang berbeda, semua terjemahan tersebut mengandung esensi dan maksud yang sama, yaitu prasangka itu merupakan sebuah ucapan atau perkataan yang paling dusta.

Imam al-Nawawi berkata untuk menjelaskan ucapan al-Khaththabi tentang zhan yang dilarang  dalam hadits ini, “Zhan yang diharamkan adalah zhan yang terus menetap pada diri seseorang, terus mendiami hatinya, bukan zhan yang sekadar terbetik di hati lalu hilang tanpa bersemayam di dalam hati. Karena zhan yang terakhir ini di luar kemampuan seseorang. Sebagaimana yang telah lewat dalam hadits bahwa Allah I memaafkan umat ini dari apa yang terlintas di hatinya selama ia tidak mengucapkannya atau ia bersengaja.” (Al-Minhaj, 16/335)

Dimungkinkan pula, kata Al-Qadhi ‘Iyadh, bahwa zhan yang dilarang adalah zhan yang murni atau tidak beralasan, tidak dibangun di atas asas dan tidak didukung dengan bukti. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa`id Muslim, 8/28). Pernyataan di atas menjelaskan bahwa dosa dari prasangka buruk muncul ketika seseorang telah memiliki zhan, kemudian terus bersemayam di hati hingga akhirnya ia mengucapkannya. Apalagi jika itu tidak beralasan dan tidak didukung oleh bukti-bukti yang jelas.

Oleh Karena Itu, Jangan biarkan prasangka itu bercongkol dalam hati walaupun hanya sedikit. Sesungguhnya prasangka itu berawal dari hati, dan kemudian berlanjut pada ucapan yang tidak-tidak, seperti ngata-ngatain, menggunjing, membicarakan seseorang, gosip, menyebarkan isu, menjelek-jelekkan orang, dan lain sebagainya.

Cara Menjauhi Sifat Prasangka Buruk

Setidaknya ada beberapa cara untuk menghilangkan munculnya prasangka buruk, Yaitu:
Pertama, mendahulukan prasangka baik daripada prasangka buruk. Ini dapat diartikan dengan selalu berpikir positif kepada orang lain. Segala sesuatu yang kita dengar dan lihat dapat menimbulkan prasangka baik atau buruk. Tergantung dari cara kita menanggapinya. Oleh karena itu, selalu dahulukan prasangka baik adalah pilihan utama. Dengan berprasangka baik, maka kita tidak akan terkotori oleh bisikan-bisikan setan yang terus membumbui pemikiran kita dengan prasangka buruk.

Kedua, mencari alasan-alasan positif bagi orang lain saat mereka melakukan kekeliruan. Semua manusia pasti melakukan kesalahan. Namun tidak mesti kesalahan itu kita tanggapi dengan cara yang buruk. Bisa jadi kesalahan tersebut dilakukan karena ketidaksengajaan. Tinggalkan sikap mencari-cari kesalahan orang lain.

Ketiga, jauhi sikap suka menggali-gali rahasia dan membicarakan aib orang lain.  Sikap ini sangat berdekatan dengan prasangka buruk. Dari sikap inilah muncul prasangka buruk yang pada akhirnya menimbulkan fitnah.

Insya Allah dengan mengikuti tips ini kita semua dapat terhindar dari sifat "Prasangka Buruk". Amin Ya Allah

Sumber : http://alrasikh.uii.ac.id/2013/06/07/jangan-berprasangka-buruk-2/ (Dengan Beberapa Perubahan)

Related Posts:

Apa Itu Penyakit 'Ain?

558303_269901723127379_1039950217_n

Pengertian Penyakit 'Ain

‘Ain itu diambil dari kata ‘ana-Ya’inu (bahasa Arab) artinya apabila ia menatapnya dengan matanya. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, kemudian diikuti oleh jiwanya yang keji, kemudian menggunakan tatapan matanya itu untuk menyampaikan racun jiwanya kepada orang yang dipandangnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, untuk meminta perlindungan dari orang yang dengki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan dari keburukan orang yang dengki ketika dengki.” (QS. Al-Falaq:5)

Setiap orang yang menimpakan ‘ain adalah hasid (pendengki) dan tidak setiap hasid adalah orang yang bisa menimpakan ‘ain. Karena hasid itu lebih umum ketimbang orang yang bisa menimpakan ‘ain, maka meminta perlindungan dari hasid berarti meminta perlindungan dari orang yang bisa menimpakan ‘ain. Yaitu panah yang keluar dari jiwa hasid dan pelaku ‘ain yang tertuju pada orang yang didengki (mahsud atau ma’in), yang adakalanya menimpanya dan adakalanya tidak mengenainya. Jika ‘ain itu kebetulan menimpa orang yang dalam keadaan terbuka tanpa pelindung, maka itu berpengaruh pada orang tersebut. Sebaliknya, bila ia menimpa orang yang waspada dan bersenjata, maka panah itu tidak berhasil mengenainya, tidak berpengaruh padanya. Bahkan barangkali panah itu kembali kepada pemiliknya. (diringkas dari Zad al-Ma’ad)

‘Ain dapat terjadi meskipun tanpa kesengajaan pelakunya

Ibnu Qoyyim rohimahulloh mengatakan bahwa terkadang seseorang bisa mengarahkan ‘ain kepada dirinya sendiri. Pelakunya termasuk jenis manusia yang paling jahat. Sahabat-sahabat kami dari kalangan ahli fiqh menyatakan, :Sesungguhnya bila diketahui ada orang yang melakukan hal itu, maka penguasa kaum muslimin harus memenjarakannya, lalu dipenuhi seluruh kebutuhannya hingga akhir hayat.”

Namun terkadang pengaruh buruk ain terjadi tanpa kesengajaan dari orang yang memandang takjub terhadap sesuatu yang dilihatnya. Lebih dari itu pengaruh buruk ini juga bisa terjadi dari orang yang hatinya bersih atau orang-orang yang sholih sekalipun mereka tidak bermaksud menimpakan ain kepada apa yang dilihatnya. Hal ini pernah terjadi diantara para sahabat Nabi shollallohu alaihi wa sallam, padahal hati mereka terkenal bersih,tidak ada rasa iri atau dengki terhadap sesamanya. Akan tetapi dengan izin Alloh dan takdirnya, pengaruh buruk ain ini dapat terjadi diantara mereka.

"Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dia berkata bahwa Amir bin Robi’ah melihat Sahl bin Hunaif sedang mandi, lalu berkatalah Amir : ‘Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini” Maka terpelantinglah Sahl. Kemudian Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata :”Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!Maka Amir mandi dengan menggunakan suatu wadah air, dia mencuci wajahnya,dua tangan,kedua siku,kedua lutut,ujung-ujung kakinya,dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia. (HR Malik dalam Al-Muwaththo 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. Sanadnya shohih,para perawinya terpercaya,lihad Zadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al-Arnauth dan Abdul Qodir al-Arnauth 4/150 cetakan tahun 1424 H)"

Banyak hadis-hadis shahih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang terserang ‘ain ini.

Di antaranya apa yang disebutkan dalam Shahihain dari Aisyah, ia mengatakan,


  • “Bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya supaya meminta diruqyah dari ‘ain.” Muslim, Ahmad dan At-Tirmidzi; ia menshahihkannya,
  • Dari Ibnu Abbas dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,“‘Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya ‘ainlah yang mendahuluinya. Jika kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.”
  • Diriwayatkan Imam Ahmad dan At-Tirmidzi, ia menshahihkannya, dari Asma binti Umais bahwa ia mengatakan,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja’far tertimpa ‘ain; apakah aku boleh meminta ruqyah untuk mereka?” Beliau menjawab, “Ya, seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya ‘ainlah yang mendahuluinya.”
  • Diriwayatkan dengan shahih dari Ummu Salamah bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah melihat seorang budak wanita di rumahnya yang wajahnya terlihat kusam. Beliau berkata,”Ruqyah wanita ini, ia terkena ‘ain. (Dikeluarkan oleh Al-Bukhori dan Muslim,Al-Hakim,Abu Nu’aim dan Al-Isma’ili dalam Mustakhroj-nya serta Ath-Thobroni)

Tanda - tanda seseorang terkena penyakit 'ain :
Jika seseorang sehat dari penyakit jasmani, maka gejalanya secara umum :
    1. Pusing yg berpindah-pindah
    2. Wajah pucat
    3. banyak keluar keringat dan sering kencing
    4. Tidak nafsu makan
    5. Kesemutan, kepanasan atau kedinginan pada bagian tubuh.
    6. Detak jantung tdak teratur
    7. Rasa sakit yg selalu berpindah-pindah pada bawah punggung dan bahu
    8. Merasa sedih dan tertekan
    9. Susah tidur di malam hari
    10. Emosi yg berlebihan, Rasa takut (paranoid) dan marah yg tdk wajar
    11. Sering bersendawa dan menarik nafas panjang (dada sesak)
    12. Sering menyendiri, tdk bersemangat, malas, banyak tidur, dan masalah-masalah kesehatan lain yg sebabnya bukan karena bukan faktor medis
Sunnah bagi orang yang memandang takjub terhadap sesuatu :

Penyakit 'Ain ini tidak hanya disebabkan oleh seseorang yang memandang takjub terhadap sesuatu yang dipandangnya dengan rasa dengki. Namun pada kenyataannya dapat terjadi pula kepada seseorang yang memandang takjub sesuatu tanpa rasa dengki sekalipun. Bahkan Sahabat Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam yang terkenal akan kebaikan hatinya pun terkena dengan penyakit ini. 

Adapun diantara sunnah ketika seseorang memandang takjub terhadap sesuatu adalah :
1. Mendoakan keberkahan kepada apa yang dilihatnya
Dari Amir bin Robi’ah rodhiyallohu anhu :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).

Di antara cara mendoakan keberkahan terhada apa yang dilihatnya adalah :

اللَّهُمَّ بَارَكَ اللَّهُ فِيهِ
‘Ya Allah Semoga Allah memberikan berkah padanya”

اللَّهُمَّ بَارِكْعَلَيْهِ

"Ya Allah berkahilah atasnya”

اللَّهُمَّ بَارِكْلَهُ

"Ya Allah Berkahilah Baginya "

2. Hendaknya Mengucapkan :

مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Sungguh atas kehendak Allohlah semua ini terwujud”

Hal ini didasari firman Alloh dalam surat Al-Kahfi ayat 39. Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan :”Ketika engkau masuk suatu kebun dan kau merasa takjub akan keindahannya,mengapa engkau tidak memuji Alloh atas nikmat yang telah diberikan kepadamu seperti nikmat harta dan anak keturunan yang tidak diberikan kepada selain engkau dan mengapa kamu tidak mengucapkan masya’Allah la quwwata illa billah.

Upaya-upaya untuk mengantisipasi dari Penyakit ‘Ain:

1. Hendaklah orang tua membiasakan diri mereka membentengi anak-anaknya dari bahaya ‘ain dengan ruqyah-ruqyah (bacaan-bacaan) yang diajarkan dalam Islam.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam memohon perlindungan Alloh untuk Hasan dan Husain dengan doa :
أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
"Aku berlindung kepada Alloh untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala syaitan, binatang yang berbisa dan pandangan mata yang jahat." (HR Abu Daud)

Atau dengan Bacaan :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَامَّةِ مِنْ شَرِ مَا خَلَق

"“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang diciptakan-Nya."

2. Dengan Membaca ayat - ayat Al - Qur'an

حَسْبِيَ اللهُ لآَإِلَهَ إِلاَّهُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiiki ‘Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 129)"

Selain itu, ayat - ayat Al - Qur'an yang dianjurkan adalah ayat mu’awwidzatain (An-Nas dan Al-Falaq), surat Al-Ikhlas, surat Al-Fatihah, dan ayat Kursi.

Upaya-upaya bila sudah terkena pengaruh buruk ‘Ain :
1. Jika pelakunya diketahui, maka hendaklah orang itu diperintahkan untuk mandi, kemudian orang yang terkena pengaruh mata itu mandi dengan bekas air mandi orang itu. Hal ini sebagaimana kisah sahabat nabi shollallohu alaihi wa sallam Sahl bin Hunaif rodhiyallohu anhu dalam hadits yang telah lalu,bahwa nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan Amir bin robi’ah radhiyallahu anhu untuk mandi dan sisa air mandinya diguyurkan pada Sahl bin Hunaif radhiyallahu anhu.

At-Tirmidzi menjelaskan :”Pelaku ‘ain diperintahkan untuk mandi dengan menggunakan air dalam baskom. Lalu meletakkan telapak tangannya di mulut dan berkumur-kumur,lalu disemburkan ke dalam baskom tersebut. Baru setelah itu membasuh wajahnya dengan air dalam baskom tersebut,lalu memasukkan tangan kirinya dan mengguyurkan air ke lutut kanannya dengan air baskom tersebut.Kemudian memasukkan tangan kanannya dan menyiramkan air baskom itu ke lutut kirinya.Baru kemudian membasuh tubuh di balik kain, namun baskom itu tidak usah diletakkan di atas tanah atau lantai.Setelah itu sisa air diguyurkan ke kepala orang yang terkena ‘ain dari arah belakang satu kali guyuran.

2. Memperbanyak membaca Surat al - Ikhlas, Al-muawwidzatain (surat al-Falaq dan surat an-Nas), al - Fatihah, ayat kursi, bagian penutup surat al - Baqarah (dua ayat terakhir), dan mendoakan dengan   doa - doa yang disyariatkan dalam ruqyah

3. Membaca doa' sebagai berikut :
بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ
“Dengan menyebut Nama Alloh,aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dan dari kejahatan setiap jiwa atau mata orang yang dengki.Mudah-mudahan Alloh subhanahu wa ta’ala menyembuhkanmu.Dengan menyebut Nama Alloh,aku mengobatimu dengan meruqyahmu.” (HR.Muslim no.2186 (40),dari Abu Said rodhiyallohu anhu)


Atau Dengan 
بِاسْمِ اللَّهِ يُبْرِيكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ
“Dengan menyebut nama Alloh,mudah-mudahan Dia membebaskan dirimu dari segala penyakit,mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu,melindungimu dari kejahatan orang dengki jika dia mendengki dan dari kejahatan setiap orang yang mempunyai mata jahat.” (HR. Muslim no. 2185 (39), dari Aisyah rhodiyallohu anha)


Ini adalah doa yang dibacakan malaikat Jibril kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam ketika mendapat gangguan syetan.

4. Membacakan pada air (dengan bacaan –bacaan ruqyah yang syar’i) disertai tiupan, dan kemudian meminumkan pada penderita,dan sisanya disiramkan ke tubuhnya. Hal itu pernah dilakukan Rosululloh shollallhu alaihi wa sallam kepada Tsabit bin Qois. (HR. Abu Daud no. 3885)

5. Dibacakan (bacaan) pada minyak dan kemudian minyak itu dibalurkan. (HR Ahmad III/497,lihat silsilah al-Ahaadits as-Shohihah :397). Jika bacaan itu dibacakan pada air zam-zam,maka yang demikian itu lebih sempurna jika air zam-zam itu mudah diperoleh atau kalau tidak,boleh juga dengan air hujan.

Sumber:
http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/akhlak/818-penyakit-%E2%80%98ain-dan-cara-melindunginya
http://www.konsultasisyariah.com/hakikat-ain/#
http://ajiprabowo.wordpress.com/2013/03/11/islam-ini-dia-penyakit-ain-yang-mungkin-belum-anda-tahu-sebelumnya/

(Dengan Beberapa Perubahan)


Related Posts: