Takdir Bukanlah Alasan untuk Berbuat Maksiat

Bismillahirrahmanirrahim
Ada sebagian orang yang melakukan kemaksiatan, kejahatan, kebid’ahan, dan kekufuran dengan alasan bahwa dia sudah ditakdirkan oleh Allah untuk melakukannya.
Seolah-olah dia ingin menyatakan bahwa dia tidak berhak untuk dihukum karena dia melakukan ini bukan karena kehendaknya. Dia ingin melegalkan hawa nafsunya untuk melakukan pelanggaran hukum dengan berdalih kepada takdir.
Alasan ini adalah alasan yang batil dan tidak dapat diterima. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullaah, di dalam kitab Syarh Ushulits Tsalatsah, telah membantah alasan seperti ini dari beberapa sisi, dan akan kita nukilkan di sini secara ringkas.
Bantahan Pertama:
Allah ta’ala telah mendustakan orang-orang yang berbuat kesyirikan dengan alasan takdir dan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih. Ini menunjukkan bahwa apa yang mereka dalihkan selama ini adalah salah. Allah berfirman:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

“Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak akan mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami akan mengharamkan sesuatu apapun (tanpa dalil).” Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kalian mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kalian mengemukakannya kepada kami? Kalian tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanyalah berdusta.” [QS Al-An’am: 148]
Kalau seandainya beralasan dengan takdir untuk melakukan kemaksiatan adalah boleh, maka tidaklah mungkin Allah mengatakan mereka berdusta dan menghukum mereka.
Bantahan Kedua:
Allah telah mengutus para rasul untuk menyampaikan syariat kepada umat mereka agar tidak ada alasan bagi manusia untuk meninggalkan perintah Allah dan melaksanakan larangan-Nya. Allah ta’ala berfirman:
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya para rasul itu. Allah adalah ‘Aziz (Maha Perkasa) lagi Hakim (Maha Bijaksana).” [QS An Nisa`: 165]
Kalau seandainya beralasan dengan takdir untuk melakukan kemaksiatan adalah boleh, maka apa gunanya Allah mengutus para Rasul untuk membawa syariat-Nya. Tentunya tidak ada gunanya karena mereka dapat beralasan dengan takdir.
Bantahan Ketiga:
Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang kita untuk meninggalkan amalan (sebab) dan berpangku tangan dengan takdir. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ {فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى} إِلَى قَوْلِهِ {لِلْعُسْرَى}
“Tidaklah salah seorang dari kalian melainkan telah ditentukan tempat duduknya di surga ataupun di neraka.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita cukup bertawakkal saja?” Nabi menjawab: “Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan jalannya.” Kemudian Nabi membaca ayat {فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى} sampai kepada {لِلْعُسْرَى}.” [HR Al Bukhari (4945)]
Bantahan Keempat:
Takdir Allah itu adalah rahasia tersembunyi yang tidak diketahui melainkan setelah peristiwa yang ditakdirkan itu terjadi, sedangkan kehendak hamba itu telah ada sebelum perbuatan terjadi. Ini berarti bahwa kehendak untuk melakukan suatu perbuatan tidaklah didasarkan pengetahuan dia terhadap takdir Allah. Dengan ini, maka tertolaklah alasannya dengan takdir, karena sesuatu yang tidak diketahui oleh seseorang tidaklah bisa menjadi hujjah baginya.
Bantahan Kelima:
Kita menyaksikan manusia bersemangat untuk mengejar perkara duniawi yang bermanfaat bagi dirinya sampai berhasil mendapatkannya. Bila dia tidak mendapatkan apa yang dikejarnya tersebut, dia tidak beralasan dengan takdir. Lantas mengapa dia meninggalkan perkara-perkara agama yang bermanfaat baginya dan berpaling kepada perkara-perkara yang membahayakannya, kemudian beralasan dengan takdir?! Bukankah kedua kondisi di atas adalah sama?
Bantahan Keenam:
Orang yang beralasan dengan takdir untuk meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan, bila dia dianiaya oleh orang lain dengan mengambil hartanya atau melecehkan kehormatannya, lalu orang itu beralasan bahwa dia melakukannya karena sudah ditakdirkan Allah, maka pastilah dia tidak akan menerima alasan dari si penjahat tadi.
Ini tentunya sangat berlawanan dan aneh. Di satu sisi dia menolak alasan orang yang mencuri hartanya karena takdir, namun di sisi lain dia malah beralasan dengan takdir ketika dia melakukan kemaksiatan. Lantas apa bedanya dia dengan si pencuri tadi?
Disebutkan di sebuah riwayat bahwa Amirul Mu`minin Umar ibnul Khaththab radhiyallaahu ‘anhu memerintahkan petugas untuk memotong tangan seorang pencuri. Lalu pencuri itu berkata:
“Tunggu dulu, wahai Amirul Mu`minin.
Sesungguhnya saya mencuri itu karena memang sudah takdir dari Allah.
” Lalu Umar membalas alasan si pencuri tadi dengan berkata:
“Kamipun akan memotong tanganmu karena ditakdirkan oleh Allah.”
Demikianlah beberapa bantahan terhadap orang-orang yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk melakukan kemaksiatan atau meninggalkan kewajiban. Allaahu a'lam
Semoga Allah Subhaanahu wa Ta'ala memberikan petunjuk kepada kaum muslimin dan memperbaiki keadaan mereka. Aamin Yaa rabbal ‘alamiin.

Related Posts:

Bahaya Penyalahgunaan Narkoba


Penggunaan salah satu atau beberapa jenis narkoba, yang dilakukan secara berkala di luar tujuan pengobatan dan penelitian, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan jasmani, jiwa (mental) dan fungsi sosial. 

1. Bahaya Terhadap Fisik
  • Akan menimbulkan ketagihan / ketergantungan.
  • Mengganggu mental
  • Mengganggu kesehatan
  • Cenderung menjadi pelaku kejahatan
  • Mengakibatkan kematian
1.1 Kerusakan Fungsi Sistem Saraf Pusat ( Otak )
Otak adalah bagian terpenting dalam sistem saraf pusat sehingga otak dilindungi oleh tulang tengkorak yang sangat kuat. Waspadalah penyalahgunaan narkoba dapat merusak dan membahayakan jaring fungsi sistem saraf pusat (otak). Otak terbuat dari bahan yang sangat halus dan lunak, dalam hal ini dilakukan milyaran pesan - pesan elektronik yang menggerakkan seluruh tubuh dan mengendalikan berbagai fungsi penting seperti jantung, paru - paru, kelenjar hormon, dan pencernaan.

Di samping itu juga terdapat kemampuan berbahasa, melakukan berbagai pemecahan masalah secara logis / rasional mengenai berbagai cita rasa benda dan cairan yang masuk ke dalam mulut dan menyentuh lidah, mengenali berbagai jenis bebauan dari gas atau udara yang masuk ke rongga hidung, mengingat sesuatu yang pernah dipelajari dan ribuan fungsi lainnya.

Untuk itu sistem saraf pusat (otak) adalah bagian tubuh yang memberi "hidup" pada kita yang harus kita jaga dengan sangat hati - hati. Penggunaan narkoba sangat membahayakan fungsi sistem saraf pusat. aka harus dicegah sedini mungkin dengan menjauhi narkoba.

1.2 Terjadi Infeksi Akut Otot Jantung, Gangguan Peredaran Darah
Jantung sebagai alat hidup kita. Setiap detik jantung memompakan darah ke seluruh tubuh kita. Terganggunya alat pompa darah kita karena narkoba berarti fungsi kesehatan, kekebalan tubuh hkita sedikit demi sedikit akan hilang dan rusak.

1.3 Menggunakan Jarum Suntik Secara Sembarangan Rentan Terhadap Penyakit.

1.4 Gangguan Pada Paru - Paru, Sukar Bernafas, Sesak Nafas, Dan Penyakit-Penyakit Paru - Paru Lainnya.

1.5 Susah Buang Air Besar Karena Kinerja Saluran Cerna Pada Lambung, Usus Besar.

1.6 Mudah Terinfeksi TBC, HIV / AIDS, Hepatitis, Infeksi Ginjal / Saluran Kencing, Peradangan Pada Otot, dan Kinerja Jantung Terganggu.

1.7 Daya Tahan Tubuh Melemah


2. Bahaya Terhadap Kejiwaan
Dalam kehidupan sosial, remaja diharapkan untuk mampu menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif dengan lingkungannya, dan berkomunikasi secara efektif, perasaan rendah diri di dalam pergaulan harus dihilangkan dan menumbuhkan sikap saling menghargai. Selain itu, remaja harus dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Bagi remaja pemakai narkoba hal ini akan sulit dilakukan karena mereka akan memiliki kecenderungan untuk :

  • Bersikap labil
  • Cepat memberontak
  • introvert dan penuh rahasia
  • sering berbohong dan suka mencuri
  • menjadi sensitif, kasar dan tidak sopan
  • memiliki kecurigaan yang sama terhadap semua orang
  • menjadi malas dan prestasi belajar menurun
  • akal sehat tidak berperan, berpikir irasional.
Pada saat remaja mengalami "intoksikasi" atau teler apapun akan dilakukannya tanpa memperhitungkan dengan akal sehat akibat - akibat negatif dari perbuatannya tersebut, yang penting kebutuhannya saat ini terpenuhi walaupun harus melakukan jalan pintas. Dalam mengamati perilaku remaja pemakai narkoba, sulit bagi orang tua dan guru untuk menentukan secara pasti apakah perilaku yang ditampilkan saat ini merupakan sebab atau akibat, karena biasanya muncul secara bersamaan.

3. Bahaya Terhadap Lingkungan Masyarakat
Bahaya narkoba terhadap keluarga :

  • Akan mengganggu keharmonisan keluarga
  • merongrong keluarga
  • membuat aib keluarga
  • hilangnya harapan keluarga
Bahaya narkoba terhadap lingkungan / masyarakat : 
  • Mengganggu keamanan dan ketertiban
  • mendorong tindak kejahatan
  • mengakibatkan hilangnya kepercayaan
  • menimbulkan beban ekonomi dan sosial yang besar
Dalam kehidupan sehari - hari di masyarakat termasuk juga dalam lingkungan sekolah, banyak dijumpai remaja yang hanya menjadi pemakai narkoba, pengedar ataupun kedua - duanya. Sebagai pengedar dan juga sebagai pemakai.

Di lingkungan sekolah yang sangat mengkhawatirkan karena dikhawatirkan akan memengaruhi siswa yang lain. Biasanya kamu sulit untuk menolak ataupun mengatakan tidak kepada teman yang menawarkan, apalagi yang bersangkutan adalah teman baiknya atau anggota kelompoknya. Hal ini akan berakibat munculnya keresahan - keresahan yang mempengaruhi proses belajar mengajar dan relasi antarsiswa. Tidak menutup kemungkinan karena merasa terancan siswa tertentu memilih untuk pindah sekolah.

Dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas banyak dijumpai ulah para pengedar dan pemakai narkoba yang meresahkan. Mereka tidak segan - segan untuk melakukan tindak kriminal seperti menodong, mencopet, merampok, mencuri, marak hanya semata - mata untuk mendapatkan narkoba. Bagi mereka yang sudah sampai pada tingkat ketergantungan yang tinggi, Apapun risikonya tidak diperhitungkan lagi yang penting untuk mendapatkan narkoba.

Melalui media massa cetak dan elektronik sering kita membaca dan melihat bagaimana perlakuan para pemakai dan pengedar terhadap masyarakat dan sebaliknya bagaimana masyarakat memperlakukan mereka yaitu dengan main hakim sendiri, dipukul sampai babak belur, bahkan dikenakan sanksi hukum.

Related Posts:

Kaya dan Cukup

Kaya dan Cukup

Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan; Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.
(QS. An - Najm [53] : 43 - 48)

Hidup itu berpasang - pasangan, Al - Quran sendiri banyak menyinggungnya dalam berbagai surat. Bahkan, tidak sedikit kalimat berpasang - pasangan telah Allah tampilkan dalam Al - Qur'an berulang kali, seperti hidup dan mati, baik dan buruk, malaikat dan setan, lelaki dan perempuan, baik dan buruk, dan masih banyak lagi.

Dalam Al - Qur'an terdapat sebuah kalimat yang belum tentu setiap kita mengetahui dan menyadarinya, yakni setiap kita mengetahui dan menyadarinya, yakni kalimat pada Surat An - Najm ayat 48, "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan (aghna) dan memberikan kecukupan (aqna).

Pertanyaannya, mengapa ketika Allah berbicara tentang kekayaan malah disandingkan dengan kecukupan? Bukankah sandingan kekayaan itu adalah kemiskinan atau keterpurukan?

Secara harfiah, kata aqna dalam ayat tersebut memiliki akar kata yang sama dengan qinyah, yang bermakna apa yang dikumpulkan atau dari kata qaniya, yang berarti ridha.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa makna dari "Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan (aghna) dan memberikan kecukupan (aqna) adalah Dia memberikan kepemilikan harga kepada para hamba - Nya dan menjadikan harta tersebut sebagai qinyah (sesuatu yang dikumpulkan) yang tetap di sisi mereka, sehingga mereka tidak perlu menjualnya. Ini adalah kesempurnaan nikmat kepada para hamba - Nya.

Dari sini kita bisa memahami bahwa Allah hanya menyandingkan kata kaya dengan cukup, Dia tidak menyandingkan kata kaya dengan miskin. Oleh karena itu, sudah sepantasnya ayat ini menjadi renungan untuk kita semua, bahwa sama sekali Allah tidak pernah memberikan kita kemiskinan, dan Allah juga tidak pernah menjanjikan kefakiran kepada kita.

Fenomena kemiskinan yang berada di sekeliling kita tiada lain hanyalah akibat kesalahan kita sendiri. Sebab, kita terkadang tidak mau berubah ke arah yang lebih baik, malas, tidak mau belajar, hidup pesimis, dan lalai. Hanya setan yang mengarahkan manusia terjerumus ke arah keterpurukan hingga akhirnya mereka menjadi miskin.

Allah berfirman : "Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al - Baqarah [2] : 268)

Oleh karena itu, perlu kita ketahui bahwa ikhtiar dalah bagian dari takwa, dan orang yang bertakwa rezekinya terjamin. Lalu, siapa yang menjamin? Tentu Allah yang Maha Kaya. Sebagaimana janji Allah dalam Surat At - Thalaq ayat 2 - 3 :  Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. "

Wallahu A'lam
(dikutip dari Buletin Jumat Pusdai 29 Agustus 2014)

Related Posts:

Penyebab Pergaulan Bebas dan Perbuatan Zina



Faktor Penyebab Pergaulan Bebas dan Perbuatan Zina


   Akar masalah dari pergaulan bebas di masyarakat adalah karena tidak dipahaminya ajaran agama dan dimunculkannya ajaran sekularisme dan liberalisme di tengah masyarakat. Sekularisme adalah paham yang menolak peran agama dalam kehidupan umum, Atau bisa dibilang juga memisahkan kaitan Agama dalam kehidupan sehari - hari atau dalam bermuamalah. Agama hanya dianggap sebagai urusan pribadi dan itu pun dipersempit sebatas urusan spiritual dan ritual. Padahal jika kita memperhatikan hadits - hadits shahih pasti banyak ditemukan contoh budi luhur dalam kehidupan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sehari - hari.

   Adapun Liberalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap manusia bebas berkeyakinan dan berperilaku meskipun menyimpang dari agama. Paham kebebasan ini juga mengajarkan bahwa setiap orang bebas menjalin hubungan dengan siapa saja dan bahkan berhubungan seks dengan siapa saja asal suka sama suka, dan tidak ada paksaan. Namun anehnya, kaum liberalis ini menolak nilai - nilai agama -bahkan melecehkannya- seperti menghina wanita yang menutup auratnya. Sedangkan mereka mendukung bahkan membela orang - orang yang memakai baju mini?? Jadilah mereka sebenarnya pendukung kebebasan gaya Eropa.

   Kembali ke topik pembahasan, Pergaulan bebas merupakan kenyataan pahit yang terjadi di sekitar kita. Hal tersebut perlu kita ketahui dan kita kupas secara jujur, agar diketahui pokok permasalahannya, serta tepat dalam mengambil upaya untuk mengatasinya. Oleh karena itu, pada kajian berikut akan diuraikan dua faktor utama penyebab pergaulan bebas dan perbuatan zina, yaitu faktor dari dalam diri pelaku dan faktor dari luar.


  1. Faktor dari Dalam.

  • Lemahnya Pemahaman Iman dan Islam

   Iman dan Islam sebagai fondasi dalam beragama Islam, keduanya tidak dapat dipisahkan. Iman seseorang menentukan keislaman dan perilaku kehidupan sehari-harinya. Keduanya sebagai pedoman dalam menjalani hidup, sekaligus sebagai pengendali agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama. Jika iman dan Islamnya kuat, maka diharapkan memiliki ketahanan mental serta mampu menghindari segala bentuk pergaulan bebas. Begitu pula sebaliknya, lemahnya pemahaman islam dan iman akan memunculkan terjadinya pelanggaran norma susila dan pergaulan, termasuk dalam pergaulan dengan lawan jenis.

  • Bisikan Setan, Pola Pikir, Rasa Ingin Tahu, dan Ingin Mencoba.

    Bertindak tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi dan didorong rasa ingin tahu, ingin mencari, dan ingin mencoba adalah semangat beberapa remaja yang harus diarahkan. Jika semangat dan sikap itu untuk hal - hal yang baik dan positif, maka tentu sangat bagus hasilnya. Namun, jika semangat itu untuk melakukan hal - hal negatif, maka sikap semacam ini harus terus diberikan pengetahuan dan arahan agar sadar, dan dapat menghindari perbuatan negatif, sehingga remaja tidak terjebak dalam pergaulan bebas yang melanggar ajaran agama.

   Tindakan - Tindakan negatif lain yang tidak segera diberikan penyadaran dapat mendorong seseorang mencoba melakukan tindakan penyimpangan lainnya. Seperti tindak kekerasan,merokok minum - minuman keras, bahkan narkoba.

  • Lemahnya Pemahaman Terhadap Dampak Pergaulan Bebas.

    Minimnya pemahaman terhadap dampak negatif dari pergaulan bebas didukung rasa ingin tahu serta keberanian mencoba, merupakan awal terjerumusnya seorang remaja dalam pergaulan bebas.
Pemicu lain adalah adanya kemudahan mengakses berbagai informasi yang didukung oleh ketersediaan fasilitas, seperti internet dan ponsel yang dengan mudah menyimpan gambar dan film yang tidak pantas untuk dilihat sehingga mengakibatkan dampak buruk bagi remaja.

  • Gaya Hidup

    Dewasa ini gaya hidup remaja Indonesia sudah banyak menyimpang jauh dari norma agama dan adat ketimuran. Zaman sekarang remaja Indonesia lebih banyak mengadopsi gaya hidup barat yang bebas ( liberal). Selain itu mereka juga lebih bangga jika memakai gaya hidup barat dalam kesehariannya.

   Memang tidak semua gaya hidup barat itu buruk, namun mayoritas remaja Indonesia meniru beberapa hal yang buruk dari gaya hidup barat, seperti memakai baju yang sangat mengumbar aurat, pergaulan bebas antara lawan jenis dan lain sebagainya. Supaya tidak salah kaprah, remaja Indonesia harus lebih selektif lagi.

  • Komunikasi tidak berjalan baik

    Komunikasi yang tidak berjalan dengan baik menjadi salah satu faktor pemicu pergaulan bebas dan perbuatan zina, karena komunikasi merupakan kegiatan yang biasa dilakukan sehari - hari.
Komunikasi yang harus dibina dengan baik adalah komunikasi dengan keluarga, sehingga apabila anak mempunyai masalah yang tidak bisa dia pecahkan sendiri, tidak lari dan mencari penyelesaian di luar.      

      2. Faktor dari Dalam.


  • Paham Sekularisme dan Liberalisme di Kalangan Masyarakat.

   Sekularisme adalah paham yang mengatakan bahwa kehidupan / kegiatan dalam urusan dunia dipisahkan dari kegiatan Agama. Sehingga nilai - nilai Agama hanya dipahami sebatas ritual dan spiritual saja.

    Liberalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap manusia bebas berkeyakinan dan berperilaku apapun meskipun menyimpang dari Agama.

  • Lemahnya Kontrol Orang Tua.

   Peran dan fungsi keluarga pada saat ini sudah mengalami pergeseran yang disebabkan karena masing - masing anggota keluarga memiliki kesibukan dengan alasan dan tujuan sendiri - sendiri. Banyak keluarga di kota yang lebih mementingkan kecukupan kebutuhan materi dan kurang memerhatikan kebutuhan rohani keluarganya, khususnya anak.

   Pada situasi semacam inilah persoalan akan muncul, yakni tidak terpenuhinya kebutuhan dan perkembangan jiwa seorang anak secara seimbang. Ketika usia anak bertambah, persoalan pun mulai berkembang, sementara komunikasi dan perhatian orang tua semakin berkurang. Apalagi jika diperhatikan masalah utama remaja adalah "tertarik pada lawan jenis". Sehingga tidak sedikit para remaja terjerumus dalam pergaulan bebas yang tidak terkendali. 

   Kunci terciptanya keluarga yang baik adalah kuatnya peran orang tua, khususnya ibu dalam menanamkan nilai akhlak mulia yang telah dicontohkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Jika ada anak yang tumbuh tidak benar, maka keluarga menjadi salah satu pendorong terjadinya 
   kenakalan dan pergaulan bebas di kalangan remaja. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."(QS. At - Tahrim ayat 6)

  • Menurunnya Fungsi Kontrol dari Masyarakat

    Lingkungan yang baik akan memberikan pengaruh baik terhadap perkembangan dan pertumbuhan remaja. Begitu pula sebaliknya. Pada saat ini, fungsi kontrol yang dilakukan oleh masyarakat semakin melemah. Sikap tidak peduli (egois) tidak peduli terhadap pihak lain yang disebabkan meningkatnya kesibukan masing - masing anggota masyarakat memungkinkan tidak adanya waktu untuk mengkomunikasikan masalah yang terjadi.

   Kerasnya pola hidup individu di perkotaan juga menyebabkan kurang atau tidak adanya komunikasi intensif antara tetangga yang satu dengan tetangga yang lain. Jika keadaan masyarakat sudah seperti ini, maka terjadinya penyimpangan kecil sampai pelanggaran norma dalam pergaulan menjadi semakin terbuka.

  • Pengaruh Media Massa

    Tidak dapat dipungkiri lagi, Internet, media cetak, dan media elektronik lainnya telah mengubah pemikiran manusia di seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh sifatnya yang dapat menerobos batas dan waktu dengan sangat singkat, sehingga sulit ditepis, ditangkal, atau dibatasi. Melalui media - media tersebut apa pun bisa disampaikan, termasuk berbagai persoalan yang menyangkut film yang tidak layak untuk ditonton serta berbagai menu acara yang dapat memengaruhi konsep berpikir dan berbuat para penggunanya, salah satunya adalah remaja.

    Tak ada satu orang pun yang mampu membendung laju informasi dan berbagai tayangan yang terdapat pada media massa, kecuali dengan memperkuat ketahanan iman masing - masing.

  • Minimnya Sarana Pengembangan dan Aktivitas Remaja.

    Kita tahu bahwa masa remaja adalah masa penuh gejolak serta dinamika yang tinggi. Sifat tersebut merupakan ekspresi dan dorongan perkembangan remaja. Hanya saja pada saat ini sangat sedikit yang memberi perhatian terhadap kebutuhan remaja tersebut, salah satunya adalah sarana bermain dan beraktivitas bagi para remaja, terlebih di perkotaan. Dengan minimnya sarana bagi para remaja, memberikan peluang aktiviats lain yang tidak terkontrol, salah satunya adalah kenakalan remaja dan pergaulan bebas. 

    Untuk menghindari pergaulan bebas dan perbuatan yang mendekati zina, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain : 
  1. Meningkatkan pemahaman iman, islam, dan melaksanakannya dengan benar
  2. Selalu mengingat bahwa tujuan hidup adalah akhirat, bukan kesenangan dunia semata
  3. Menjaga kehormatan
  4. Memperbaiki konsep berpikir, setidaknya melalui pernyataan "setipa kita harus bisa menjaga keimanan dengan benar"
  5. Jujur terhadap diri sendiri agar menjadi yang terbaik, sekaligus menghindari buruknya pergaulan bebas.
  6. Membiasakan berpikir demi masa depan, hindari pergaulan bebas
  7. Membiasakan mengkomunikasikan segala persoalan dengan keluarga dan orang tua.

Related Posts:

Sihir Dalam Pandangan Islam


Pengertian Sihir
Sihir secara lughowi (bahasa) adalah ungkapan tentang suatu perkara yang disebabkan oleh sesuatu yang samar dan lembut. Sedangkan menurut istilah syariat terbagi menjadi dua makna :
Pertama : Yaitu buhul-buhul dan mantera-mantera, maksudnya adalah bacaan-bacaan dan mantera-mantera yang dijadikan perantara oleh tukang sihir untuk minta bantuan pada syaithon dalam rangka memberi kemudharatan kepada orang yang disihir. Akan tetapi Allah ? telah berfirman:
وَ مَا هُمْ بِضَارِّيْنَ به من أَحَدٍ إَلاَّ بِإِذْنِ اللهِ
“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak akan mampu memberikan mudharat dengan sihirnya kepada siapa pun, kecuali dengan idzin Allah”. (QS. Al Baqarah :162)
Kedua : yaitu berupa obat-obatan atau jamu-jamuan yang berpengaruh terhadap orang yang disihir, baik secara fisik, mental, kemauan dan kecondongannya. Sehingga engkau dapati orang yang disihir tersebut berpaling dan berubah (dari kebiasaanya). (Al Qoulul Mufid karya Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin juz 1, hal. 489).
Hukum Sihir
Sihir dalam bentuk apapun, diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan keharaman ini terbagi menjadi dua macam :
Pertama : Sihir yang termasuk perbuatan syirik, jika menggunakan perantara para syaithon (jin-jin kafir), dimana para tukang sihir tersebut beribadah dan mendekatkan diri kepada para syaithon (jin-jin kafir) supaya bisa menguasai orang yang akan disihir.
Kedua : Sihir yang termasuk perbuatan permusuhan dan kefasikan, jika tukang sihir hanya sebatas menggunakan perantara obat-obatan (jejamuan) dan sejenisnya. (Al Qoulul Mufid juz 1, hal. 489)
Kafirkah Tukang Sihir ?
Para Ulama berbeda pendapat tentang tukang sihir. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa tukang sihir itu kafir, dan di antara yang berpendapat demikian adalah Al Imam Malik, Al Imam Abu Hanifah dan Al Imam Ahmad bin Hanbal.
Berkata Al Imam Ahmad rahimahullaah kepada para muridnya: “…..kecuali sihirnya dengan obat-obatan, asap dupa dan menyiram sesuatu yang bisa memberikan mudharat, maka tidaklah kafir. (Fathul Majid hal. 336)
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullaah berkata:
Akan tetapi dengan pembagian yang telah kami sebutkan tentang hukum permasalahan ini menjadi jelaslah barangsiapa yang sihirnya dengan perantara syaithon (jin-jin kafir-red) maka dia telah kafir. Karena kebanyakannya tidak mungkin terjadi kecuali dengan adanya unsur kesyirikan (penyembahan terhadap syaithon tersebut -red). Hal ini didasarkan pada firman Allah ? :
وَ اتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِيْنُ على مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَ مَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَ لَكِنَّ الشَّيَاطِيْنَ كَفَرُوا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَ مَا أُنْزِلَ على الْمَلَكَيْنِ بِبَابِيْلَ هرُوْتَ وَ مرُوْتَ, وَ مَا يُعَلِّمَانِ من أَحَدٍ حَتَّى يَقُوْلآ إَنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ
“Dan mereka mengikuti apa-apa yang dibaca oleh para syaithon pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), hanya para syaithon itulah yang kafir (karena mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak akan mengajarkan sesuatu kepada siapa pun, sebelum keduanya mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu janganlah engkau kafir”. (QS. Al Baqarah :102)
Sedangkan tukang sihir yang menggunakan obat-obatan (jamu-jamuan/ramu-ramuan) dan sejenisnya maka dia tidak kafir, akan tetapi dia telah berbuat dosa yang sangat besar.
Apakah Sihir Ada Hakekatnya ?
Ya! Sihir ada hakekatnya dan terjadi dengan sebenarnya, akan tetapi segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali dengan idzin Allah Azza wa Jalla dan ini merupakan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang didasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.
Berkata Abu Muhammad Al Maqdisi di dalam Al Kaafi setelah menyebutkan ayat :
وَ من شَرِّ النَّفَاثَاتِ فى الْعُقَدِ
“…dan dari kejelekan hembusan-hembusan para tukang sihir pada buhul-buhul”. (QS. Al Falaq : 4)
“Kalau sihir tidak ada hakekatnya niscaya Allah tidak akan memerintahkan agar memohon perlindungan kepada-Nya dari bahaya sihir”. (Fathul Majid hal. 335)
Demikian pula Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallaam sendiri pernah disihir oleh seorang Yahudi yang bernama Labid bin Al A’shom. Sebagaimana hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari rahimahullaah :
أَنَّ النَّبِيَّ ? سُحِرَ حَتَّى لَيُخَيَّلَ إلَيْهِ أنَّهُ يَفْعَلُ الشَيْءَ وَ مَا يَفْعَلُهُ وَ أنَّهُ قَالَ لَهَا ذَاتَ يَوْمٍ : أَتَاني مَلَكَانِ وجَلَسَ أَحَدُهما عِنْدَ رَأْسِي وَ الأخَرُ عِنَدَ رِجْلي, فَقَالَ : ما وَجَعُ الرَّجُلِ ؟ قَالَ : مَطْبُوْبٌ وَ مَنْ طَبَِّهُ ؟ قَالَ : لَبِيْد بن الأَعْصَم …
“Sesungguhnya Nabi  disihir sehingga dikhayalkan padanya bahwa beliau melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya. Dan beliau  pada suatu hari berkata kepada Aisyah :
“Telah datang padaku dua malaikat, salah satunya duduk di dekat kepalaku dan yang lainnya di dekat kakiku. Salah satu malaikat tersebut berkata kepada yang lainnya:
“Apa penyakit laki-laki ini (Rasulullah)?. Yang satunya menjawab terkena sihir”. “Siapa yang menyihirnya ?”. Satunya menjawab “Labid bin Al A’shom …” .
Berkata Ibnul Qoyyim :
“Dan telah mengingkari hal ini (disihirnya Rasulullah  -red) sekelompok manusia. Mereka mengatakan:
“Tidak boleh ini menimpa diri Rasul, bahkan mereka menganggap ini sebagai suatu kekurangan dan aib “.
Dan perkaranya tidak seperti yang mereka duga, akan tetapi sihir tersebut adalah dari jenis perkara (penyakit) yang berpengaruh terhadap diri Rasulullah , hal ini termasuk dari jenis-jenis penyakit yang menimpanya sebagaimana beliau  juga tertimpa racun, dimana tidak ada perbedaan antara pengaruh sihir dengan racun”. (Zaadul Ma’ad juz 4, hal. 124)
Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullaah Juga menyebutkan dari Al Qodhi ‘Iyadh, bahwasanya beliau berkata:
“Kejadian disihirnya Rasulullah  tidak menodai kenabian beliau. Adapun keberadaan atau kejadian beliau  dikhayalkan melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya, hal ini tidaklah mengurangi sifat shiddiq yang ada pada diri beliau . dikarenakan adanya dalil bahkan ijma’ atas kemaksuman beliau  dari hal tersebut, akan tetapi hal ini suatu perkara duniawi yang mungkin bisa menimpanya. Yang beliau tidak diutus karena sebab tersebut dan tidak diberi keutamaan, karenanya pula beliau dalam hal ini seperti manusia yang lainya, maka tidak mustahil untuk dikhayalkan kepada beliau dari perkara-perkara yang tidak ada hakekatnya baginya, kemudian hilang dari beliau dan kembali seperti keadaan semula. (Zaadul Ma’ad juz 4, hal. 124)
Ancaman Allah Dan Rasul-Nya Terhadap Tukang Sihir
Di antara ancaman-ancaman Allah  di dalam Al Qur’an adalah firman-Nya:
وَ لَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَالَهُ فى الأخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ
“…dan sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tidaklah ada keuntungan baginya di akhirat”. (QS. Al Baqarah : 102)
Berkata Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat tersebut :
( من خَلاَقٍ yaitu مِنْ نَصِيْبٍ ) “Tidak ada baginya bagian di akhirat.”
Berkata Al Hasan : ( فَلَيْسَ له دِيْنٌ ) : “ Tidak ada agama baginya.”
Adapun ancaman dari Allah ? adalah sebagaimana di dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairoh, beliau ?
bersabda :
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المَُوْبِقَاتِ ؟ قَالُوا يَارَسُوْلَ اللهِ وَ مَا هُنَّ ؟ قَالَ الشِرْكُ بِاللهِ وَ السِّحْرُ وَ قَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَ أَكْلُ الرِّبَا وَ أَكْلُ ماَلِ الْيَتِيْمِ وَ التَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَ قَذْفُ الْمحْصَنَاتِ الْغَافِلاتِ الْمُؤْمِنَاتِ
“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan, para sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, apa tujuh perkara tersebut?. Beliau ? menjawab:
“Berbuat syirik kepada Allah ?, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan untuk dibunuh kecuali dengan haq (benar), makan riba, makan harta anak yatim, lari dari pertempuran dan menuduh zina wanita mukminah yang terhormat serta menjaga kehormatan”.
Apa Hukum Mempelajari Ilmu Sihir Dengan Tujuan Untuk Membentengi Diri ?
Mempelajari ilmu sihir hukumnya haram, baik untuk diamalkan maupun sekedar untuk membentengi diri dari sihir. Karena Allah ? telah menyebutkan di dalam Al Qur’an bahwa belajar ilmu sihir merupakan salah satu bentuk kekufuran.
وَ لَكِنَّ الشَّيَاطِيْنَ كَفَرُوا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَ مَا أُنْزِلَ على الْمَلَكَيْنِ بِبَابِيْلَ هرُوْتَ وَ مرُوْتَ, وَ مَا يُعَلِّمَانِ من أَحَدٍ حَتَّى يَقُوْلآ إَنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ
“Mereka (syaithon-syaithon) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum keduanya mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu) oleh sebab itu janganlah kamu kafir”. (QS. Al Baqarah : 102)
Dan juga sebagaimana disebutkan pada hadits yang sebelumnya bahwa sihir merupakan bagian dari tujuh perkara yang membinaskan (المُوْبِقَات).
Bagi yang membolehkan belajar ilmu sihir hanya sekedar untuk memenbentengi diri, mereka berdalil dengan hadits : تَعَلَّمُوا السِّحْرَ وَلاَ تَعْمَلُوا بِهِ
“Belajarlah kalian ilmu sihir dan jangan mengamalkannya”. Perlu diketahui bahwa hadits tersebut adalah hadits palsu. (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah jilid 1, hal. 38)
Bagaimana Pergi Ke Tukang Sihir Untuk Mengobati Atau Menghilangkan Sihir ?
Tidak boleh bagi orang yang terkena sihir pergi ke tukang sihir untuk menghilangkan sihir yang menimpa dirinya, berdasarkan pada keumuman sabda Rasulullah ? :
لَيْسَ مِنَّا من تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ له أو تَكَهَّنَ أو تُكُهِّن له أو سَحَرَ أو سُحِرَ له
“Bukan dari golonganku (Rasulullah) orang yang mengundi nasib dengan burung dan sejenisnya atau minta diundikan untuknya, meramal sesuatu yang ghaib (dukun) atau minta diramalkan untuknya atau melakukan sihir atau minta disihirkan untuknya”. (HR. At Thabrani)
Dan didasarkan pula pada sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallaam tatkala ditanya tentang An Nusyroh (menghilangkan sihir dari orang yang terkena sihir dengan sihir yang sama). Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam  menjawab:
هَي من عَمَلِ الشَّيْطَانِ
”Itu adalah perbuatan syaithon”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Al Baihaqi) serta sabda Rasulullah ? :
“Berobatlah kalian dan jangan kalian berobat dengan sesuatu yang haram, karena sesungguhnya tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Allah telah menurunkan obatnya pula”.
Cara Yang Syar’i Dalam Mengobati Sihir
1. Mengeluarkan sihir tersebut dan membatalkannya, sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang shahih dari Nabi  bahwasanya beliau berdo’a kepada Allah dalam perkara sihir tersebut. Maka Allah tunjukkan kepada beliau (tempat buhul-buhul tersebut), kemudian beliau mengeluarkannya (mengambil buhul-buhul tersebut) dari suatu sumur. Maka hilanglah apa yang ada pada beliau, seakan-seakan beliau lepas dari ikatan.
2. Dengan dirukyah, yaitu dengan dibacakan Al Qur’an dan do’a-do’a (yang bersumber dari Rasulullah ) kepada yang terkena sihir. Misalnya dengan dibacakan surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas, dan yang lainnya dari ayat-ayat Al Qur’an kemudian ditiupkan kepada yang sakit, maka insya Allah akan sembuh. (Zaadul Ma’ad juz 4, hal. 124-127).

Related Posts: