Pencegahan dan Penanggulangan Longsor

Pencegahan dan Penanggulangan Longsor


  Pencegahan dan Penanggulangan Bencana Tanah Longsor

   Timbulnya korban jiwa dan kerugian materi akibat bencana tanah longsor dapat dilakukan dengan usaha pencegahan dan penanggulangan berikut ini.

A. Survei dan Pemetaan Kawasan Yang Rentan

   Survei perlu dilakukan untuk mengidentifikasi pola gerakan tanah di kawasan – kawasan yang diperkirakan terjadi longsor. Pengukuran faktor – faktor yang membuat kawasan tertentu lebih rawan longsor dibandingkan kawasan lainnya, yaitu jenis dan distribusi tanah dan bebatusan, kemiringan lereng, cara air mengalir di permukaan dan bawah tanah, pengaruh cuaca, dan kerentanan pecah bebatuan.

   Program pemetaan dan analisis tingkat kerentanan terhadap gerakan tanah / batuan ini perlu dilakukan pada tahap pencegahan bencana. Ketersediaan peta kerentanan ini sangat penting karena menjadi dasar bagi penataan ruang dan langkah – langkah mitigasi, seperti penerapan sistem peringatan dini dan pengkajian tingkat risiko longsor pada kebijakan pertanahan.

B. Pemasangan Rambu – Rambu

   Untuk menjamin keselamatan, pada tempat – tempat rawan longsor sebagaimana diidentifikasi dari hasil pemetaan, perlu dipasang rambu–rambu dan tanda – tanda peringatan “rawan longsor”. Rambu – rambu peringatan perlu dipasang dengan bahasa atau gambar yang jelas, mudah dibaca, dan dipahami orang.

C. Peraturan Tata Guna Tanah

   Peraturan tata guna tanah perlu dibuat untuk mencegah penggunaan daerah rawan longsor sebagai tempat hunian atau untuk bangunan – bangunan penting. Peraturan – peraturan itu bisa juga mencakup relokasi yang jauh dari daerah berbahaya, khususnya jika tempat – tempat alternatif lain tersedia. Peraturan juga mencakup pembatasan kegiatan yang mungkin menggerakkan tanah longsor.

D. Penghijauan

   Salah satu upaya mencegah atau mengendalikan penyebab terjadinya tanah longsor adalah dengan program penghijauan, yang dilakukan secara tempat pada lereng – lereng daerah aliran sungan dan pada lereng yang rawan.

E. Perbaikan Sarana

   Untuk mencegah terjadinya bencana longsor diperlukan perlindungan dan perbaikan sarana – sarana sepanjang jalur dan kawasan yang dikhawatirkan rentan longsor. Perbaikan juga dilakukan untuk tempat – tempat hunian, seperti masalah drainase tanah dapat diperbaiki dengan menambah material yang bisa menyerap air serta membangun beton – beton penahan tembok untuk menstabilkan lokasi hunian.

F. Pendidikan Masyarakat

   Program pendidikan masyarakat perlu dilakukan untuk menyadarkan setiap individu agar bertanggung jawab menjaga dan bersahabat dengan lingkungan. Program ini juga diperlukan untuk memberikan pemahaman tentang sebab, cara pencegahan, dan tindakan penyelamatan ketika terjadi dan setelah terjadinya tanah longsor. Pendidikan dapat dilakukan melalui pertemuan RT, RW, organisasi, organisasi masyarakat, dan lingkungan sekolah.

G. Pemantauan dan Peringatan

   Pemantauan perlu dilakukan terhadap daerah – daerah yang rawan tanah longsor sehingga dapat memberikan peringatan dan evakuasi secara tempat. Peringatan kepada masyarakat perlu segera disampaikan jika sudah terlihat tanda – tanda terjadinya tanah longsor. Peringatan memerlukan sistem informasi yang cepat, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan radio, sirine, atau sistem peringatan lainnya yang dapat memberikan informasi secara luas dan cepat.

Related Posts:

Dampak Pemanasan Global

Dampak Pemanasan Global


Dampak Pemanasan Global 

   Kerusakan lingkungan semakin lama bisa menyebabkan terjadinya pemanasan global. Konsentrasi gas – gas tertentu yang dikenal sebagai gas rumah kaca, terus bertambah di udara akibat tindakan manusia melalui kegiatan industri, khususnya CO2 dan Chlorofluorocarbon (CFC). Terutama karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan dari penggunaan batubara, minyak bumi, gas, penggundulan hutan, serta pembakaran hutan. Asan nitrat dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh aktivitas industri dan pertanian. Chlorofluorocarbon (CFC) merusak lapisan ozon seperti juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon, metana, asam nitrat adalah gas – gas polutif yang terakumulasi di udara akan menyaring banyak panas dari matahari.

   Proses pemanasan global dipicu oleh adanya efek rumah kaca, di mana energi matahari memacu cuaca dan iklim bumi serta memanasi permukaan bumi; sebaliknya bumi mengembalikan energi tersebut ke angkasa. Gas rumah kaca pada atmosfer (uap air, karbon dioksida, dan gas lainnya) menyaring sejumlah energi yang dipancarkan, menahan panas seperti rumah kaca. Tanpa efek rumah kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari saat ini dan kehidupan seperti sekarang tidak mungkin ada. Jadi gas rumah kaca menyebabkan suhu udara di permukaan bumi menjadi lebih nyaman sekitar 60o F / 15oC, tetapi permasalahan kemudian muncul ketika terjadi konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer bertambah.

   Sejak awal revolusi industri, konsentrasi karbon dioksida pada atmosfer bertambah mendekati 30%, konsentrasi metana lebih dari dua kali, konsentrasi asam nitrat bertambah 15%. Penambahan tersebut telah meningkatkan kemampuan menjaring panas pada atmosfer bumi. Para ilmuwan umumnya percaya bahwa pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan manusia lainnya merupakan penyebab utama bertambahnya konsentrasi karbon dioksida dan gas rumah kaca.Sepanjang seratus tahun ini konsumsi energi dunia bertambah secara spektakuler, dimana sekitar 70% energi dipakai olheh negara – negara maju dan 78% dari energi tersebut berasal dari bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang mengakibatkan sejumlah wilayah terkuras habis dan lainnya mereguk keuntungan. Sementara itu, jumlah dana untuk pemanfaatan “energi tak dapat habis” seperti matahari, angin, biogas, air, khususnya hidro mikro dan makro, baik di negara maju maupun miskin tetaplah rendah (dalam perbandingan dengan bantuan keuangan dan investasi yang dialokasikan untuk bahan bakar fosil dan energi nuklir). Padahal sumber energi ini dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

   Sementara itu, lautan dan vegetasi yang bertugas menangkap banyak CO2 tidak mampu mengimbangi pertambahan CO2 dari kegiatan manusia di bumi, berarti bahwa jumlah akumulatif dari gas rumah kaca yang berada di udara bertambah setiap tahunnya sehingga mempercepat pemanasan global.

   Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon, menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal dan siklus hidrologis, sehingga memengaruhi kesuburan tanah. Padahal tanah mengandung karbon sebanyak 24 milyar ton dan hutan Indonesia menyumbangkan emisi CO2 sebesar 2,6 milyar ton per tahun, walaupun juga mengandung 19 milyar ton karbon. Jika diamati maka sumber pencemar utama adalah transportasi, kebakaran hutan, limbah rumah tangga, limbah tambang, dan limbah industri.

   Terjadinya global warming diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak tepat, pengelolaan hutan yang salah dan menyebabkan hutan tropis hancur serta tidak memberikan manfaat yang signifikan baik bagi pemerintah maupun bagi penduduk di sekitarnya. Pihak yang mendapat keuntungan adalah pengusaha, yang secara semena – mena telah menghancurkan hutan yang menjadi tempat menyimpan air dan penghasil oksigen bagi makhluk hidup dan tempat hidup flora dan fauna.

   Pengelolaaan yang salah menyebabkan banjir dan dampak lingkungan lain, rakyat miskin tetap miskin dan bahkan menjadi lebih miskin karena hutan sudah hancur. Bertambahnya suhu global yang tidak dapat dicegah lagi dan perubahan iklim mungkin sudah terjadi sekarang. Selain itu, penyebab utama adalah adanya konsumsi yang berlebihan, bukan oleh 80% penduduk miskin di 2/3 belahan bumi tetapi oleh penduduk kaya yang mengkonsumsi 86% dari seluruh sumber alam dunia. Program konversi minyak tanah menjadi gas sebagai contoh ketidaksiapan pemerintah secara infrastruktur dan juga sosialisasi, menyebabkan banyak orang desa menggunakan lagi kayu bakar dengan merambah hutan karena untuk memasak mereka sulit memperoleh minyak tanah dan gas serta harga gas semakin membumbung tinggi. 
Kampanye pemilu juga memacu kerusakan lingkungan karena penyumbang dana pemilu bisa jadi adalah pengusaha pembalakan hutan liar sebagai upaya pencucian uang.

   Situasi seperti ini menjadi lebih buruk lagi dikarenakan banyak dan luasnya areal hutan alam menurun, begitu juga dengan manfaatnya bagi masyarakat. Banyak tanaman liar yang juga komersial, telah dieksploitasi secara berlebihan. Cadangan hutan dan area yang dilindungi oleh pemerintah, dikelola oleh pihak yang pengelolaannya tidak melibatkan komunitasi setempat, sehingga mengakibatkan konflik sosial yang seharusnya tidak perlu terjadi. Banyak spesies tumbuh – tumbuhan yang manfaat potensialnya belum diketahui, tetapi spesies tersebut telah berkurang pada tingkat yang membahayakan dan punah lebih cpat dibandingkan laju pengumpulan tumbuhan tersebut untuk dapat diteliti, dikenal, dan diregenerasikan kembali.


   Gaya hidup manusia modern juga menjadi penyebab rusaknya lingkungan. Sampah yang dihasilkan perumahan atau kota turut menyumbang kematian sungai yang mengaliri perkotaan. Bencana itu masih ditambah dengan tumbuhnya industri di sepanjang sungai yang sering digunakan sebagai sarana pembilasan dan pembuangan sampah industri. Hampir semua sungai di Indonesia mengalami tekanan kerusakan fungsi ekosistemnya.

Related Posts:

Dampak Pencemaran Udara

Dampak Pencemaran Di Udara


Dampak Pencemaran Udara

1.      Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan

   Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar. partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernafasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru – paru. Dari paru – paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

   Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). termasuk di antaranya asma, bronkitis, dan gangguan pernafasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksin dan karsinogenik.

   Studi ADB memperkirakan bahwa dampak pencemaran udara di Jakarta yang berkaitan dengan kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISPA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah di tahun 2015.

2.      Dampak Pencemaran udara terhadap tanaman

   Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.
   Selain berdampak terhadap kesehatan manusia dan terhadap tanaman, pencemaran udara juga mempunyai dampak sebagai berikut.

1.      Hujan Asam

   pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam, antara lain :
a.      memengaruhi kualitas permukaan;
b.      merusak tanaman;
c.      melarutkan logam – logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga memengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan, serta;
d.      bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan.

2.      Efek Rumah Kaca

   Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari dan dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya, panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.

   Dampak dari pemanasan global, antara lain :
a.      pencairan es di kutub;
b.      perubahan iklim regional dan global, serta;
c.      perubahan siklus hidup flora dan fauna.

3.      Kerusakan Lapisan Ozon

   Lapisan ozon yang berada di strafosfer (ketinggian 20 – 35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul – molekul ozon (O3) terjadi secara alami di strasfosfer. Emisi CFC yang mencapai strafosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul – molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya sehingga terbentuk lubang – lubang pada lapisan ozon.


   Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar ultraviolet B matahari tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.

Related Posts:

Pencegahan dan Penanggulangan Banjir

Pencegahan dan Penanggulangan Banjir


  Pencegahan dan Penanggulangan Banjir

   Bencana banjir dapat disebabkan oleh faktor alam, misalnya karena curah hujan yang tinggi atau terjadinya badai yang sangat dahsyat. Akan tetapi, sebagian besar banjir disebabkan ulah manusia yang tidak mengindahkan kelestarian sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan di sekitarnya. Akibatnya, alam tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

   Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi bahaya banjir adalah sebagai berikut.

   A. Tindakan - Tindakan Persiapan Banjir

   Tindakan yang dapat dilakukan untuk persiapan banjir adalah sebagai berikut.
   1. Pastikan memiliki persediaan pelampung yang cukup untuk anggota keluarga.
   2. Pastikan memiliki bekal makanan dan persediaan obat - obatan yang memadai.
   3. Miliki nomor telepon ketua RT / RW dan instasi penting lainnya.
   4. Simpanlah dokumen - dokumen dan surat - surat penting dalam plastik atau kotak tahan air.
   5. Titipkan fotokopi dokumen - dokumen dan surat tersebut di tempat kerabat atau orang terpercaya yang tinggal di daerah yang tidak terkena banjir.
   6. Segera naikkan alat - alat atau kabel - kabel listrik yang terkena banjir ke tempat yang lebih tinggi sehingga tidak terjangkau banjir.
   7. Tutuplah kran saluran air utama yang mengalir ke dalam rumah.
   8. Selalu mendengar informasi tentang perkembangan cuaca.
   9. Ikuti perintah evakuasi yang dikeluarkan oleh pemerintah atau petugas bencana yang ada.

   B. Tindakan - Tindakan Pada Saat Terjadinya Banjir

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh masyarakat / perorangan pada saat terjadinya banjir adalah sebagai berikut.
   1. Periksa apakah dirimu atau orang di sekitarmu terluka, berikan pertolongan pertama jika perlu.
   2. Tolonglah orang yang memerlukan bantuan khusus, seperti bayi, lanjut usia, dan orang cacat.
   3. Tidak meminum air kecuali setelah dimasak dan tidak menggunakan air yang tercemar untuk mencuci alat - alat dapur dan pakaian.
   4. Tidak membiarkan anak - anak bermain di air banjir.
   5. Dengarkan informasi darurat.
   6. Ikuti rencana darurat di lingkungan bencana kalian.

   Tindakan yang harus dilakukan oleh pihak berwenang / pemerintah pada saat terjadinya banjir adalah sebagai berikut.
   1. Menurunkan regu penyelamat dan peralatannya.
   2. Memberikan bantuan medis.
   3. Memberikan bantuan pangan untuk para korban.
   4. Mengevakuasi para korban

   C. Usaha Pascabencana Banjir

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh masyarakat / perorangan pascabencana banjir adalah sebagai berikut.
   1. Membersihkan rumah / tempat tinggal.
   2. Bersama warga yang lain membantu memperbaiki lingkungan.

   Tindakan yang harus dilakukan oleh pihak berwenang / pemerintah pascabencana banjir adalah sebagai berikut.
   1. Mengadakan tempat perlindungan sementara / pengungsian.
   2. Memberi bantuan makanan dan medis untuk para pengungsi dan para korban.
   3. Menyediakan air bersih untuk pengungsi.
   4. Menyediakan sanitasi untuk korban yang berada di pengungsian.
   5. Melakukan pengawasan terhadap bahaya penyakit menular.
   6. Melakukan perbaikan dan rekonstruksi wilayah yang terkena banjir.
   7. Membantu pemulihan usaha kecil dan perikanan.
   8. Membantu pemulihan pertanian lewat pinjaman dan distribusi peralatan perlengkapan pertanian.
   9. Melakukan penghijauan kembali lahan yang telah gundul

Related Posts:

Pencegahan dan Penanggulangan Tsunami

Pencegahan dan Penanggulangan Tsunami


  Pencegahan dan Penanggulangan Tsunami

   Bencana alam tsunami bisa menimbulkan korban lebih banyak dibandingkan gempa, hal ini karena tsunami terjadi setelah adanya gempa sehingga korban dan kerugiah harga benda dapat berlipat ganda. Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi jatuhnya korban akibat bencana tsunami adalah sebagai berikut.

   A. Perlindungan Garis Pantai

   Perlindungan garis pantai dilakukan dengan cara sebagai berikut.
   1. Penetapan peraturan tentang pembangunan wilayah pantai.
   2. Membangun tembok - tembok penahan dan pemecah air laut.
   3. Melestarikan hutan mangrove, menanamnya di pesisir dengan baik, dan tidak menebang sembarangan, atau tidak mengubah lahan mangrove menjadi tambak.
   4. Tidak mencemari sungai dengan limbah karena akan merusak laut.

   B. Sistem Peringatan Dini

   Sistem peringatan dini perlu dibangun untuk mendeteksi, menentukan lokasi, dan besaran potensi tsunami yang muncuk sebagai akibat gempa bumi atau getaran - getaran lainnya. Sistem ini selanjutnya memberikan informasi dan peringatan kepada pihak - pihak yang terkait dan kemudian kepada penanggung jawab di tingkat lapangan atau masyarakat yang mungkin terkena bencana. Informasi ini disebarluaskan lewat radio dan televisi.

   C. Pendidikan dan Pembelajaran

   Mempelajari dan memahami tsunami, baik penyebab, tanda - tanda, maupun sifat tsunami, dapat dilakukan dengan penyuluhan terhadap warga melalui pertemuan RT, mencari, memperoleh, dan berbagi informasi dari berbagai sumber, termasuk kisah korban tsunami, buku, media elektronik, dan lain - lain.

   D. Kemitraan

   Menjalin kemitraan dengan pihak - pihak dalam dan luar negeri yang dapat memberikan bantuan jika terjadi bencana tsunami.

   E. Pemetaan Kawasan Rawan dan Tempat Evakuasi

   Memetakan daerah yang paling rawan serta daerah yang layak untuk menjadi tempat evakuasi dan rute penyelamatan jika terjadi bencana.

   F. Penyiapan Posko Bencana

   Posko (pos komando) harus selalu ada dan siap, terutama di daerah yang rawan bencana tsunami. Tim satgas dan tim kesehatan harus selalu siap di posko yang telah disediakan. Dalam posko harus disiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam kondisi darurat.
 

   G. Satgas Penanganan Bencana

   Satgas terdiri atas unsur - unsur perangkat desa / kelurahan, tentara, polisi, dan relawan dari masyarakat yang berpengalaman dalam menangani bencana.

Related Posts:

Pencegahan dan Penanggulangan Gempa Bumi

Pencegahan dan Penanggulangan Gempa Bumi

  Pencegahan dan Penanggulangan Gempa Bumi

   Indonesia merupakan bagian dunia yang mempunyai kondisi tektonik yang sangat aktif, hal ini menyebabkan tingkat kegempaan yang tinggi. Beberapa sesar (patahan) aktif yang terkenal di Indonesia adalah sesar Sumatra, sesar Cimandiri di Jawa Barat, sesar Palu - Koro di Sulawesi, sesar naik Flores, sesar naik Wetar, dan sesar geser Sorong. Keaktifan setiap sesar ditandai dengan terjadinya gempa. Gempa dangkal (kedalaman 0 - 50 km) yang terjadi pada periode 1900 - 1995 dengan 5,5 skala Richter atau lebih membuktikan bahwa beberapa lokasi merupakan daerah aktif gempa di Indonesia. 
   
   Oleh karena kita tinggal di daerah yang rawan gempa, kita harus memahami cara - cara penanganan bencana ini, yang dapat dilakukan dengan usaha - usaha sebagai berikut.

   A. Sebelum Terjadi Gempa

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh individu / masyarakat sebelum terjadi gempa adalah sebagai berikut.
   1. Pastikan kita mengetahui jalan yang paling aman untuk meninggalkan rumah jika terjadi gempa.
   2. Tentukan tempat yang aman untuk bertemu dengan anggota keluarga jika terjadi gempa.
   3. Periksa apakah rumah kokoh pondasinya.
   4. Letakkan barang yang besar dan berat di bagian bawah.
   5. Simpanlah barang pecah belah di bagian bawah rak yang dapat dikunci.
   6. Segera perbaiki kabel - kabel yang rusak.

   B. Saat Terjadi Gempa

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh individu / masyarakat saat terjadi gempa adalah sebagai berikut.
   1. Utamakan keselamatan diri, bukan barang.
   2. Lari secepat mungkin keluar ruangan atau rumah.
   3. Carilah tanah lapang.
   4. Jika tidak mungkin untuk melarikan diri dari dalam bangunan, carilah meja atau benda lain yang kuat yang dapat dipakai untuk berlindung.
   5. Jauhi jendela kaca, kompor, atau peralatan rumah yang mungkin akan jatuh.
   6. Jika kamu berada di pegunungan, waspadalah terhadap runtuhan batu dan tanah longsor.
   7. Jika kamu berada di pantai, segeralah berlari ke daerah yang agak tinggi karena gempa di dasar laut dapat menyebabkan tsunami.
   8. Waspadalah akan kemungkinan gempa susulan.
   9. Berdoa, Mohon perlindungan dari Sang pencipta.

   C. Setelah Terjadi Gempa Bumi

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh individu / masyarakat setelah terjadi gempa adalah sebagai berikut.
   1. Jauhi bangunan yang rusak atau pohon yang miring.
   2. Jauhi kabel atau instalasi listrik lainnya.
   3. Periksa dan tolong diri sendiri, kemudian menolong orang terdekat yang memerlukan bantuan.
   4. Hubungi serta cek keluarga dan sanak keluarga.
   5. Hubungi pihak - pihak yang dapat memberikan pertolongan.

   D. Penyelamatan dan Pemulihan Pascagempa

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh individu/masyarakat untuk penyelamatan dan pemulihan akibat gempa adalah sebagai berikut.
   1. Melakukan evakuasi dan mendirikan tenda - tenda pengungsian bagi korban.
   2. Melakukan penyelamatan.
   3. Menyediakan bantuan medis.
   4. Menyediakan MCK (mandi, cuci, kakus), air minum, dan makanan.
   5. Menyediakan pendidikan darurat.
   6. Melakukan pemulihan psikologis pada korban.
   7. Memperbaiki dan membangun kembali gedung, sarana, dan fasilitas lainnya

Related Posts:

Pencegahan dan Penanggulangan Gunung Meletus

Pencegahan dan Penanggulangan Gunung Meletus

  Pencegahan dan Penanggulangan Gunung Meletus

   Indonesia terletak pada rangkaian pegunungan muda sehingga terdapat banyak gunung berapi yang masih aktif. Gunung berapi tidak hanya mendatangkan bencana, namun juga bisa mendatangkan banyak manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Misalnya, abu vulkanik bisa menyuburkan tanah pertanian serta material letusan sebagai bahan bangunan, seperti pasir, kerikil, dan batu.

   Gunung berapi bisa menjadi sahabat jika kita mampu memanfaatkan dengan arif dan bijaksana serta mengenalnya dengan baik. Agar gunung meletus tidak menimbulkan banyak korban maka perlu dilakukan usaha - usaha pengenalan dan penanggulangan bencana. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

   A. Sebelum Terjadi Letusan

   Tindakan yang harus dilakukan oleh pihak berwenang / pemerintah sebelum terjadi letusan adalah sebagai berikut.
   1. Pemantauan dan pengamatan kegiatan pada gunung api yang sedang aktif
   2. Pembuatan dan penyediaan peta kawasan rawan bencana letusan gunung api, peta zona risiko bahaya gunung api, serta peta pendukung lainnya, seperti peta geologi gunung api
   3. Membuat langkah - langkah prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunung api.
   4. Melakukan bimbingan dan penyebarluasan informasi gunung api kepada masyarakat.
   5. Penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika, dan geokimia di gunung api.
   6. Peningkatan sumber daya manusia dan pendukungnya, seperti peningkatan sarana dan prasarana.

   Tindakan yang harus dilakukan oleh individu / masyarakat sebelum terjadi letusan adalah sebagai berikut.
   1. Mengenali daerah setempat yang dapat dijadikan tempat mengungsi
   2. Memantau dan mendengarkan informasi tentang status gunung api
   3. Mengikuti bimbingan dan penyuluhan dari pihak yang bertanggung jawab.
   4. Memiliki persediaan kebutuhan - kebutuhan dasar, seperti obat - obatan dan makanan yang memadai.
   5. Mengikuti arahan evakuasi pihak berwenang.
   6. Membawa barang - barang yang berharga, terutama dokumen dan surat penting.

   B. Saat Terjadi Letusan Gunung Api

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah / pihak berwenang saat terjadi letusan adalah sebagai berikut :
   1. Membentuk tim gerak cepat.
   2. Meningkatkan pemantauan dan pengamatan yang didukung dengan penambahan peralatan yang lebih memadai.
   3. Meningkatkan pelaporan tingkat kegiatan menurut alur dan frekuensi pelaporan sesuai dengan kebutuhan.
   4. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah setempat sesuai prosedur.

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh individu / masyarakat saat terjadi letusan adalah sebagai berikut.
   1. Jika ada evakuasi, pastikan tidak kembali ke kediaman sampai keadaan sudah dipastikan aman.
   2. Hindari daerah rawan bencana, seperti lereng gunung, lembah, dan daerah aliran lahar.
   3. Ketika melihat lahar atau benda lain yang mendekati rumah, segera selamatkan diri dan cari perlindungan terdekat.
   4. Lindungi diri dari debu dan awan panas.
   5. Pakailah kacamata pelindung.
   6. Pakailah masker kain untuk menutup mulut dan hidung.

   C. Setelah Terjadi Letusan

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah / pihak berwenang setelah terjadi letusan adalah sebagai berikut.
   1. Menginventarisasi data, yang mencakup sebaran dan volume hasil letusan.
   2. Mengidentifikasi daerah yang terkena dan terancam bahaya.
   3. Memberikan sarana penanggulangan bahaya.
   4. Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak.
   5. Menurunkan status tingkat kegiatan.
   6. Melanjutkan pemantauan rutin, meskipun keadaan sudah menurun.
   7. Memberikan sarana penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang.
   8. Membangun kembali bangunan, sarana, dan fasilitas lainnya yang terkena bencana.

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh individu / masyarakat setelah terjadi letusan adalah sebagai berikut.
   1. Mengikuti informasi perkembangan status gunung api.
   2. Apabila sudah dianggap aman dan dapat kembali, periksalah rumah dan barang lain yang ada.
   3. Menghubungi dan mengecek saudara dan kerabat yang lain.
   4. Bersama dengan warga dan pemerintah bergotong royong membersihkan dan memperbaiki sarana - sarana yang masih dapat dimanfaatkan.
   5. Jauhi daerah yang terkena hujan abu.
   6. Membantu tim medis menolong para korban.

Related Posts: