Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

  Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

   Mengenai faktor - faktor yang mempengaruhi proses interaksi sosial dalam masyarakat ada faktor internal yang memengaruhi interaksi sosial dari dalam diri seseorang tetapi juga ada faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri seseorang. Untuk menjelaskan hal tersebut berikut akan dijabarkan faktor - faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi proses interaksi sosial dalam masyarakat.

   A. Faktor Internal

   Apabila seseorang melakukan interaksi sosial sesungguhnya secara naluriah manusia mempunyai dorongan - dorongan yang berasal dari dalam diri seseorang itu sendiri, antara lain :

   1) Dorongan Untuk Meneruskan / Mengembangkan Keturunan

   Secara naluriah anusia mempnyai dorongan untuk saling tertarik dengan lawan jenisnya. Dorongan ini bersifat kodrati artinya tidak perlu dipelajari, orang akan mengerti secara sendirinya, orang akan berpasang - pasangan untuk meneruskan keturunannya agar tidak mengalami kepunahan.

   2) Dorongan Untuk Memenuhi Kebutuhan Manusia

   Manusia memerlukan keberadaan orang lain sebagai pihak yang menyediakan berbagai kebutuhan hidup yang diperlukan. Manusia tidak mungkin hidup sendiri dan mandiri tanpa keberadaan orang lain.

   3) Dorongan Untuk Mempertahankan Hidup

   Pada manusia primitif manusia hidup berkelompok membentuk suatu satu kesatuan (suku) untuk menghadapi serangan suku bangsa yang lain maupun serangan binatang - binatang buas. Suku - suku ini terhimpun menjadi satu sistem sosial, sistem ekonomi dan sistem sosial budaya.

   4) Dorongan Untuk Melakukan Komunikasi Dengan Sesama

   Secara naluriah manusia memerlukan keberadaan orang lain untuk saling berkomunikasi mengungkapkan keinginan yang ada. Manusia merasa tenteram bila hidup bersama - sama dan berkomunikasi dengan orang lain dalam satu lingkungan sosial budaya.

   B. Faktor Eksternal

   Selain dorongan - dorongan yang bersifat internal manusia juga melakukan interaksi atas dasar dorongan eksternal, yaitu dorongan - dorongan yang berasal dari luar dirinya. Sesuatu yang menari perhatian dapat berupa orang, benda atau keadaan - keadaan yang menjadi suatu rangsangan untuk melakukan komunikasi dengan orang lain. Adapun macam - macam dorongan eksternal tersebut antara lain :

   1) Adanya Simpati

   Dalam suatu pra interaksi seorang individu akan merasa tertarik untuk berkomunikasi dengan orang lain. Inilah yang dimaksud dengan simpati yang selanjutnya akan menggerakkan individu untuk mengawali proses interaksi sosial dengan pihak yang lain. Dalam suatu interaksi sosial psikis yang paling mendasar adalah rasa simpati seseorang terhadap orang lain.

   Pada dasarnya simpati adalah suatu sikap tertarik kepada orang lain karena sesuatu hal mungkin karena menarik penampilannya, mungkin karena kebijaksanaannya atau karena pola pikir, yang sesuai dengan nilai - nilai yang dianut oleh orang yang menaruh simpati. 

   Simpati ini akan menjadi dorongan yang sangat kuat pada diri seseorang untuk melakukan kontak dan komunikasi dengan orang tersebut dan hasilnya akan sangat efektif untuk terjadinya suatu proses pertukaran pendapat, nilai - nilai melalui proses interaksi sosial tersebut.

   Dengan adanya rasa simpati maka akan mendorong seseorang untuk berbuat apa saja untuk mewujudkan rasa simpati pada orang tersebut.

   2) Adanya Motivasi

   Motivasi muncul karena adanya rangsangan yang berasal dari luar diri seseorang sehingga individu terdorong untuk melakukan suatu perbuatan dengan melibatkan ornag lain. Motivasi dalam suatu interaksi sosial adalah dorongan yang ada pada diri seseorang yang mendasari orang melakukan perbuatan. Motivasi ini muncul karnea pertimbangan rasionalitas. 

   Sebagai contoh seseorang memutuskan untuk mengikuti suatu event tertentu ada yang didorong oleh motif - motif tertentu seperti motif ekonomis, motif popularitas, motif politik dan lain - lain. Motivasi akan menjadi salah satu dorongan seseorang untuk melakukan perbuatan tertentu bersama dengan orang yang lain.

   Motivasi seseorang bisa dibangkitkan atas dasar keadaan ataupun pengaruh dari orang lain sehingga memunculkan suatu perbuatan bagi seorang individu untu melakukan kontak dengan orang lain.

   3) Adanya Empati

   Proses empati merupakan proses psikis, yaitu rasa haru atau iba sebagai akibat tersentuh perasaannya dengan objek yang ada di hadapannya. Melalui panca indra proses empati telah mampu menggerakkan perasaan seseorang untuk melakukan sesuatu terhadap orang lain. 

   Pada dasarnya rasa empati merupakan rasa haru ketika seseorang melihat orang lain mengalami sesuatu yang menarik perhatian. Empati pada hakikatnya adalah kelanjutan dari rasa simpati yang berupa perbuatan nyata untuk mewujudkan rasa simpatinya. Contohnya ketika ada seorang mengalami kecelakaan sedang menangis, tiba - tiba kita juga ikut menangis. 

   Aktivitas yang secara mendadak muncul sebagai akibat rasa simpati yang mendalam dengan ikut menangis dan melakukan pertolongan tertentu ini merupakan contoh dari empati.

   4) Adanya Sugesti

   Awal dari proses sugesti adalah adanya kepercayaan yang sangat mendalam dari seseorang kepada orang lain, sehingga orang yang dipercayai akan sangat memengaruhi perilaku bagi orang yang mempercayai. Proses inilah yang dinamakan dengan sugesti.

   Dalam interaksi sosial salah satu faktor pendorongnya adalah sugesti yaitu pengaruh psikis yang ada pada kejiwaan seseorang yang datang dari diri sendiri ataupun dari orang lain karena adanya kepercayaan terhadap sesuatu hal dari orang yang dipercayai. Pengaruh ini datang secara tiba - tiba tanpa adanya pemikiran yang detail yang dipertimbangkan terlebih dahulu.

   Selanjutnya sugesti ini akan membuahkan dorongan kepada individu untuk melakukan suatu kontak sosial dengan pihak lain.

   5) Adanya Imitasi

   Sebagai awal dari proses imitasi sesungguhnya adalah adanya kesamaan pola pikir atau tata nilai antara diri seseorang dengan objek yang dikenal melalui panca indra. Sehingga terdorong manusia untuk menirunya. Proses seperti ini merupakan proses imitasi. Pada dasarnya imitasi adalah suatu keinginan seseorang untuk meniru segala sesuatu yang ada pada orang lain.

   Hal ini disebabkan oleh adanya minat, perhatian atas sikap mengagumi terhadap pihak lain yang diangap cocok. Contoh meniru gaya bicara guru idolanya, meniru mode pakaian dari artis yang menjadi idolanya. Pada waktu melaksanakan peniruan terhadap sesuatu yang menarik dari orang yang dikagumi ini muncul suatu kemegahan dan kebanggaan dalam jiwa orang yang bersangkutan.

   Imitasi ini terdiri dari peniruan terhadap pola pikir orang lain, peniruan terhadap perilaku dan peniruan terhadap benda - benda hasil karya atau artefak.

   6) Adanya Identifikasi

   Proses identifikasi terjadi karena teikat oleh suatu aturan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri seperti orang - orang yang lain. Proses seperti inilah merupakan proses identifikasi. Proses identifikasi dapat juga terjadi atas dasar kesenangan atau kecocokan sehingga tertarik untuk menyesuaikan diri dengan orang - orang yang lain.

   Pada dasarnya identifikasi adalah dorongan seseorang untuk menjadikan dirinya identik atau sama dengan orang lain. Motif ini banyak dipergunakan ketika orang menjadi bagian dari kelompok yang besar. Misalnya pakaian seragam, ketaatan terhadap peraturan dan suatu opini pribadi terhadap kelompoknya. Proses identifikasi ini diikuti dengan perbuatan - perbuatan yang konkret dan merupakan hasil pertimbangan yang matang pada diri seseorang.

   Perbedaannya dengan imitasi bahwa identifikasi dilakukan melalui proses dalam kejiwaan yang selanjutnya melahirkan suatu sikap yang menyerupai dengan pihak yang ditiru.

Related Posts:

Pengertian Nilai dan Macam - Macam Nilai Sosial

Pengertian Nilai dan Macam - Macam Nilai Sosial

  Pengertian Nilai dan Macam - Macam Nilai Sosial

   1. Pengertian Nilai Sosial

   Setiap masyarakat memiliki sistem nilai yang berbeda - beda yang bersifat turun temurun dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya. Nilai - nilai dapat bersumber dari nilai - nilai keagamaan, nilai - nilai adat istiadat maupun nilai - nilai estetika yang terus berkembang sejalan dengan peradaban masyarakat tertentu. Nilai sosial adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan benar oleh sebagian masyarakat. Nilai sosial muncul dari nilai individual yang dimiliki oleh seseorang. Melalui pergaulan, nilai individu akhirnya mendapat persetujuan dari kalangan luas sehingga menjadi nilai sosial masyarakat. Sebagai contoh nilai - nilai sosial yang ada di masyarakat adalah sebagai berikut.
   a. Berperilaku sopan dan jujur
   b. Bersikap arif dan bijaksana
   c. Memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat
   d. Bersikap ramah
   e. Bersikap adil

   2. Macam - Macam Nilai Sosial

   Untuk membedakan macam - macam nilai sosial dalam masyarakat Prof. Notonegoro mengemukakan bahwa nilai sosial dalam masyarakat dapat dikategorikan menjadi 3 jenis, antara lain :

   A. Nilai Vital

   1) Pengertian Nilai Vital
   Nilai vital adalah nilai yang mncul karena kegunaannya, misalnya pisau. Pisau ini mempunyai harga atau nilai tertentu karena ketajamannya yang dapat digunakan untuk memotong sesuatu, tetapi seandainya pisau ini tumpul nilainya akan merosot. Sebaliknya apabila pisau ini selalu tajam dalam waktu yang panjang (berkualitas), maka pisau ini akan memiliki harga atau nilai yang semakin tinggi. Nilai suatu benda yang muncul karena kegunaannya yang dinamakan Nilai Vital.

   2) Manfaat Nilai Vital
   Nilai vital berfungsi untuk menjadi dasar penilaian atau ukuran terhadap tinggi rendahnya suatu barang yang dilihat dari fungsinya, misalnya pisau yang berfungsi sebagai alat pemotong akan berbeda nilainya dengan kalkulator sebagai alat menghitung dan akan berbeda pula dengan sepeda motor sebagai alat transportasi.

   3) Contoh - Contoh Nilai Vital
   a) Nilai rupiah yang terkandung pada handphone sebagai alat komunikasi.
   b) Nilai rupiah yang terkandung pada sebuah mobil dengan merk tertentu yang berfungsi sebagai alat transportasi dan benda kemewahan.

   B. Nilai Spiritual

   1) Pengertian Nilai Spiritual
   Nilai spiritual adalah nilai yang terdapat dalam kejiwaan manusia yang mencakup nilai estetika, nilai moral, nilai religius dan nilai kebenaran.

   2) Manfaat Nilai Spiritual

   Nilai spiritual berfungsi sebagai pedoman perilaku secara konkret. Nilai spiritual ini cenderung berbentuk abstrak yang merupakan ide atau angan - angan sesuai dengan bidang kehidupan masing - masing baik dalam bentuk nilai moral, nilai estetika ataupun pada nilai - nilai yang bersifat religius. Nilai - nilai spiritual ini akan menjadi pedoman perilaku bagi warga masyarakat.

   3) Macam - Macam Nilai Spiritual
   Secara terperinci nilai spiritual dibedakan menjadi 4 kategori antara lain :
   a) Nilai estetika
   Yaitu nilai yang terkandung pada suatu benda berdasarkan pada pertimbangan nilai keindahan baik dalam keindahan bentuk, keindahan tata warna, keindahan suara, keindahan gerak dan lain - lain.

   b) Nilai moral
   Yaitu nilai tentang baik buruknya perbuatan manusia berdasarkan pada nilai - nilai sosial yang bersifat universal. Nilai - nilai moral ini akan berlaku secara umum walaupun setiap masyarakat memiliki tata nilai yang berbeda - beda. Dalam penerapannya sedikit memiliki perbedaan yang merupakan karakteristik khas dari corak budaya masyarakat tertentu.

   c) Nilai religius
   Nilai religius atau nilai kepercayaan adalah nilai yang berdasarkan pada kepercayaan seseorang terhadap hal tersebut. Salah satu contoh nilai religius adalah kepercayaan seseorang terhadap suatu benda yang dipandang memiliki kekuatan magis.

   d) Nilai kebenaran Ilmu Pengetahuan
   Yaitu nilai yang bersumber dari benar atau tidaknya segala sesuatu yang didasarkan pada fakta atau bukti - bukti secara ilmiah. Nilai ini lebih banyak bersumber dari logika manusia serta empiris.

   C. Nilai Material

   1) Pengertian Nilai Material
   Nilai material adalah nilai yang ada atau yang muncul karena materi tersebut. Contoh : Emas. Emas ini mempunyai nilai tertentu yang muncul karena benda yang berupa emas ini mempunyai warna kuning gelap dan tidak luntur yang selanjutnya akan banyak kegunaannya untuk membuat berbagai macam perhiasan. Nilai terkandung dalam suatu benda dinamakan nilai sentral.

   2) Fungsi Nilai Material
   Nilai material berfungsi sebagai ukuran memberikan nilai atau penghargaan terhadap semua benda yang ada di muka bumi ini baik dilihat dari jumlahnya maupun dilihat dari manfaat benda tersebut. Biasanya nilai material merupakan bahan dasar untuk pembuatan sesuatu barang yang memberikan manfaat bagi manusia.



   

Related Posts:

Macam - Macam Norma

Macam - Macam Norma

  Macam - Macam Norma

   Dalam prakteknya norma sosial dalam masyarakat bercampur antara norma yang satu dengan norma yang lain. Norma - norma sosial mempunyai bidang kajian yang berbeda - beda serta bersumber dari sesuatu yang berbeda pula. Berdasarkan dari sumber dan peranannya dalam membentuk dan memengaruhi perilaku manusia dalam masyarakat norma sosial dapat diklasifikasikan menjadi 4 macam, yaitu sebagai berikut.

   A. Norma Adat atau Kebiasaan

   1) Pengertian Norma Adat

   Norma adat merupakan norma yang mengatur tentang perilaku - perilaku sosial yang bersifat rutinitas dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan sisi perbedaan antara norma adat dan kebiasaan adalah terletak pada konsep ritualnya yaitu bahwa adat lebih kental dengan nuansa spiritual, sedangkan kebiasaan lebih mencerminkan suatu pertimbangan pola pikir yang bersifat praktis dan rasional.

   2) Fungsi Norma Adat

   Norma adat berlaku pada masyarakat - masyarakat tradisional atau pada masyarakat pra modern yaitu pengaturan perilaku yang didasarkan atas tradisi - tradisi yang telah mengakar kuat dalam masyarakat. Ada yang berkaitan dengan kepercayaan setempat, ada pula yang berkaitan dengan revisi terhadap perilaku menuju efektivitas kerja manusia.

   3) Contoh Norma Adat atau Kebiasaan

   a) Upacara - upacara Ngaben di Bali
   b) Upacara tedak siti pada masyarakat Jawa
   c) Upacara bersih desa pada masyarakat Jawa
   d) Upacara Dangai dan coreng arang pada masyarakat Dayak

   B. Norma Kesusilaan / Kesopanan

   1) Pengertian Norma Kesusilaan / Kesopanan

   Norma kesusilaan atau kesopanan adalah norma masyarakat untuk mengatur hubungan antar manusia dalam rangka menghargai harkat dan martabat manusia yang lain sehingga masing - masing individu saling menghargai harkat dan martabat manusia yang satu terhadap yang lain. Apabila norma - norma ini diabaikan maka yang terjadi adalah kemarahan, ketersinggungan yang mengarah pada terjadinya konflik.

   2) Fungsi Norma Kesusilaan / Kesopanan

   Norma sosial yang paling halus yang pengukurannya didasarkan pada peradaan manusia. Norma ini berfungsi untuk memberikan penghargaan dan penghormatan kepada orang lain dalam harkat dan martabatnya sebagai umat manusia.

   3) Contoh Norma Kesusilaan / Kesopanan

   a) Norma berpakaian
   b) Norma sopan santun
   c) Norma pesta jamuan makan

   C. Norma Agama

   1) Pengertian Norma Agama

   Norma agama merupakan norma yang berisi pedoman bagi manusia agar manusia dapat menjalankan perintah - perintah Allah dan menjauhi larangan - laranganNya. Norma ini akan menjunjung manusia untuk memperoleh kebahagiaan dan keselamatan bagi manusia di dunia maupun di akherat. Secara khusus norma - norma ini termuat dalam kitab suci masing - masing agama.

   2) Fungsi Norma Agama

   Secara universal norma agama merupakan tuntunan perilaku umat manusia dalam memberikan penghormatan kepada Sang Pencipta termasuk kepada lingkungan hidup yang lain.

   3) Contoh Norma Agama

   a) Syariat agama (sesuai dengan jenis agama masing - masing)
   b) Norma Perkawinan
   c) Norma pemberian zakat atau sedekah kepada pihak lain.

   D. Norma Hukum

   1. Pengertian Norma Hukum

   Norma hukum pada dasarnya merupakan norma masyarakat yang mempunyai keterkaitan dengan penyelenggaraan pemerintah dalam suatu negara. Norma hukum ini akan mencerminkan pengaturan hak - hak warga negara serta sanksi - sanksi yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum - hukum negara.

   2. Fungsi Norma Hukum

   Secara umum norma hukum berfungsi untuk memberikan pengaturan sekaligus perlindungan semua warga  masyarakat dalam bidang - bidang kehidupan tertentu sesuai dengan bidang hukumnya masing - masing, seperti pada hukum pidana, hukum perdata, hukum publik, hukum privat, hukum tata usaha dan lain - lain.

   3. Ciri - Ciri Norma Hukum

   Setiap norma hukum mempunyai ciri - ciri sebagai berikut.
   a) Bersifat mengatur artinya berisi perintah - perintah dan larangan - larangan untuk mengendalikan perilaku warga masyarakat sesuai dengan bidang - bidang yang diatur masing - masing hukum.
   b) Dibuat oleh lembaga yang berwenang artinya tiap - tiap tingkatan norma hukum dibuat oleh pejabat - pejabat yang berwenang dengan tingkatan yang tertentu pula misalnya Undang - Undang Dasar dibuat oleh MPR, Undang - undang dibuat oleh DPR dan Pemerintah dan seterusnya.
   c) Bersifat eksplisit artinya tertulis dengan jelas dan tegas.
   d) Bersifat memaksa artinya "apabila orang melanggar maka akan dikenai sanksi dan apabila tidak diindahkan akan dipaksa oleh alat - alat negara".
   e) Bersifat melindungi artinya melindungi pihak - pihak yang lemah dari desakan dan cengkeraman pihak - pihak yang kuat melalui sanksi - sanksi dan alat - alat negara.



Related Posts:

Peran Nilai dan Norma Sosial dalam Masyarakat

Peran Nilai dan Norma Sosial dalam Masyarakat

  Peran Nilai dan Norma Sosial dalam Masyarakat

   Di dalam masyarakat yang terus berkembang nilai senantiasa ikut berubah. Pergeseran nilai dalam banyak hal akan memengaruhi kebiasaan - kebiasaan ataupun tata kelakuan yang berlaku dalam masyarakat. Di wilayah pedesaan, sejak berbagai siaran dan tayangan televisi swasta mulai dikenal, perlahan - lahan terlihat bahwa di dalam masyarakat itu mulai terjadi pergeseran nilai, misalnya tentang kesopanan.

   Nilai dan norma dalam masyarakat berperan dalam mengatur perilaku warganya terutama dalam rangka mewujudkan keharmonisan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat sehingga tercipta keteraturan sosial. Dalam kondisi yang seperti ini semua individu akan mendapatkan perlindungan dan rasa aman sehingga dapat hidup dengan tentram dan damai. Inilah salah satu peran psikologis norma dan nilai dalam masyarakat. Selanjutnya masih banyak peran - peran yang lain yang sejenis yang akan diuraikan melalui keterangan berikut ini.

   1. Sebagai Pengatur Sistem dalam Masyarakat

   Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap orang dalam masyarakat memiliki kebutuhan yang sangat berbeda - beda dan semua orang menginginkan kebutuhannya dapat terpenuhi secara normal. Dalam konteks seperti ini masyarakat memerlukan adanya sistem pengatur perilaku untuk mewujudkan tertib sosial dalam masyarakat. Sistem pengatur ini dalam sosiologi dinamakan pranata sosial. Pranata sosial pada dasarnya merupakan perangkat masyarakat yang berfungsi untuk menciptakan sistem keteraturan dalam rangka melindungi agar semua kebutuhan warga masyarakat dapat terpenuhi dengan baik. Oleh karena itu masyarakat akan saling tergantung satu dengan yang lain sehingga membentuk rantai sistem ketergantungan dalam pemenuhan kebutuhan. Dalam konteks seperti inilah nilai dan norma benar - benar berfungsi sebagai pengatur sistem dalam masyarakat.

   2. Sebagai Khasanah Budaya Masyarakat

   Sebagaimana kita ketahui bahwa norma struktur budaya suatu masyarakat dalam arti luas. Dalam peranannya untuk memberikan ciri khusus terhadap suatu masyarakat norma dan nilai berperan sebagai pengatur perilaku antara warga masyarakat termasuk sistem komunikasi yang dapat memberikan corak khas masyarakat tertentu sehingga berbeda dengan masyarakat yang lain. Pada konteks inilah norma dan nilai berfungsi sebagai etos budaya masyarakat. Ditinjau dari lapangan hukum norma dan nilai suatu masyarakat merupakan kausa prima yang menjadi cikal bakal dan tatanan kehidupan pada masyarakat itu. Norma dan nilai ini mempunyai perkembangan yang sangat panjang sepanjang sejarah keberadaan umat manusia atau suku bangsa tersebut.

   3. Sebagai Pelindung bagi Mereka yang Lemah

   Norma sosial seringkali bersumber dari nilai - nilai yang dianggap baik dan benar oleh masyarakat yang kemudian diaktualisasikan dalam bentuk kaidah - kaidah yang bersifat konkret. Dalam perkembangan selanjutnya norma sosial ditulis secara eksplisit serta dilengkapi dengan sanksi bagi mereka yang melarangnya.

   Dalam konteks ini norma sosial berfungsi sebagai pelindung bagi mereka yang lemah dan tak berdaya terhadap keganasan dan keperkasaan pihak - pihak lain termasuk para penjahat dan para penguasa yang bercorak tirani. Oleh karena itu , penyusunan norma - norma terutama norma hukum harus mendapatkan kesepahaman antara wakil - wakil rakyat serta penguasa yang ada (rulling class). Nilai dan norma dikatakan sebagai pelindung karnea di belakang norma dan nilai dicantumkan sanksi terhadap pelanggaran norma itu. Peraturan akan menjadi pelindung bagi mereka yang lemah.

   Dalam era penegakan hukum sekarang upaya - upaya untuk menegakkan hukum terus menerus dilakukan dengan menciptakan lembaga - lembaga baru yang dapat berfungsi menjamin kepastian hukum yang berlaku dalam masyarakat. Lembaga - lembaga baru itu antara lain :
   A. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
   B. Komisi Perlindungan Anak
   C. Komisi Nasional Hak - Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)
   D. Lembaga swadaya Masyarakat (LSM) pemantau hukum dan peradilan
   E. Komisi Ombusmant

   4. Sebagai Petunjuk Perilaku yang Benar

   Secara tidak kita sadari bahwa norma dan nilai yang ada di dalam masyarakat terus menerus mengalami seleksi tentang kebenarannya. Selanjutnya nilai - nilai yang telah mengakar kuat kebenarannya dipaksakan untuk dapat berlaku dan ditiru oleh semua warga masyarakat sebagai pedoman perilaku. Dalam konteks ini nilai dan norma berfungsi sebagai rel terhadap perilaku - perilaku yang harus diperbuat oleh setiap masyarakat pada setiap kegiatan dari kepentingan, sehingga norma dan nilai benar - benar berfungsi sebagai petunjuk perilaku yang dianggap benar.

   Setiap masyarakat yang memiliki struktur budaya yang berbeda mempunyai pola perilaku dan sistem nilai yang berbeda - beda. Oleh karena itu, tidak tepat jika kita memaksakan semua orang untuk berperilaku seperti tatanan sistem perilaku dan tata nilai yang ada di dalam masyarakat kita. Sebagai salah satu pedoman yang dapat dikaji kebenarannya adalah bahwa dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung,  artinya bahwa tatanan nilai dan norma itu sebaiknya hanya diberlakukan pada wilayah yang bersifat khusus pada daerah tersebut dan tidak berlaku di daerah lain. Sehingga di daerah lain yang memiliki struktur budaya yang berbeda adalah sistem tata nilai yang ada di daerah tersebut.

Related Posts:

Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Lain

Hubungan Sosiologi Dengan Ilmu Lain

  Hubungan Sosiologi Dengan Ilmu Lain

   Secara umum, sosiologi termasuk salah satu ilmu sosial yang mempelajari manusia, khususnya yang menyangkut perilaku manusia. Dilihat dari penerapannya sosiologi dapat digolongkan menjadi ilmu pengetahuan murni sekaligus ilmu pengetahuan terapan.
   1. Sosiologi disebut sebagai ilmu pengetahuan murni karena sosiologi bertujuan untuk menggambarkan dan membentuk pengetahuan secara abstrak guna mempertimbangkan mutunya.
   2. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan terapan karena sosiologi bertujuan mencari cara - cara penggunaan pengetahuan ilmiah untuk memecahkan masalah praktis.

   1. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Antropologi

   Objek kajian sosiologi adalah masyarakat. Masyarakat selalu berkebudayaan. Masyarakat dan kebudayaan tidak sama, tetapi berhubungan sangat erat. Masyarakat menjadi kajian pokok sosiologi dan kebudayaan menjadi kajian pokok antropologi. Jika diibaratkan sosiologi merupakan tanah untuk tumbuhnya kebudayaan. Kebudayaan selalu bercorak sesuai dengan masyarakat. Masyarakat berhubungan dengan susunan serta proses hubungan antara manusia dan golongan. Adapun kebudayaan berhubundan dengan isi / corak dari hubungan antara manusia dan golongan. Oleh karena itu, masyarakat atau kebudayaan sangat penting bagi sosiologi dan antropologi.

   2. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Sejarah

   Salah satu metode yang digunakan dalam sosiologi adalah metode historis. Dalam hal ini para sosiolog selalu memberikan persoalan sejarah kepada ahli sejarah sehingga ilmu sejarah dipengaruhi oleh perkembangan sosiologi. Oleh karena itu, antara sejarah dan sosiologi mempunyai pengaruh timbal balik. Keduanya mempelajari kejadian dan hubungan yang dialami masyarakat maupun manusia. Sejarah mempelajari peristiwa masa silam, sejak manusia mengenal peradaban.

   Peristiwa - peristiwa itu kemudian dihubungkan satu sama lain sehingga diperoleh gambaran menyeluruh pada masa lampau serta mencari sebab terjadinya atau memperkuat peristiwa tersebut. Selain itu sosiologi juga memerhatikan masa silam, tetapi terbatas pada peristiwa yang merupakan proses kemasyarakatan dan timbul dari hubungan antar manusia dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

   3. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Politik

   Ilmu politik mempelajari satu sisi kehidupan masyarakat yang menyangkut soal kekuasaan meliputi upaya memperoleh kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan bagaimana menghambat penggunaan kekuasaan. Istilah politik dalam hal ini berbeda dengan istilah politik yang digunakan sehari - hari, yaitu politik diartikan sebagai pembinaan kekuasaan negara yang bukan merupakan ilmu pengetahuan tetapi sebagai seni (art). Sosiologi memusatkan perhatiannya pada sisi masyarakat yang bersifat umum dan berusaha mendapatkan pola - pola umum darinya.

   4. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Ekonomi

   Ilmu ekonomi mempelajari usaha - usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam dengan keterbatasan barang dan jasa yang tersedia. Misalnya ilmu ekonomi berusaha memecahkan persoalan yang timbul karena tidak seimbangnya persediaan pangan dengan jumlah penduduk, serta mempelajari usaha menaikkan produksi guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Adapun sosiologi mempelajari unsur - unsur kemasyarakatan secara keseluruhan. Sosiologi mempelajari bagaimana manusia berinteraksi, bekerja sama, bersaing dalam upaya - upaya pemenuhan kebutuhan.

Related Posts:

Cabang - Cabang Sosiologi

Cabang - Cabang Sosiologi

  Cabang - Cabang Sosiologi

   Sosiologi yang berkembang dalam masyarakat memiliki beberapa cabang yang disesuaikan dengan bidang keilmuannya. Berikut ini kita akan membahas beberapa cabang sosiologi.

   1. Sosiologi Pendidikan

   Sosiologi pendidikan adalah cabang sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah - masalah pendidikan yang fundamental. Masalah - masalah itu muncul sebagai akibat perubahan zaman, seperti perubahan masyarakat dari pertanian menuju adanya berbagai sarana pendidikan, seperti gedung sekolah, buku - buku pelajaran dan fasilitas lainnya.

   2. Sosiologi Agama 

   Dalam sosiologi agama dipelajari beberapa materi yang meliputi perilaku manusia yang berhubungan dengan keyakinan yang dipeluknya, peranan agama sebagai pranata sosial, peranan agama dalam perubahan masyarakat, dan peranan agama sebagai agen pengendalian sosial.

   3. Sosiologi Hukum

   Sosiologi hukum mempelajari kaitan antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan hukum, antara lain perilaku masyarakat dalam hubungannya dengan hukum yang berlaku, peranan hukum dalam masyarakat, dan lembaga - lembaga yang berkaitan dengan hukum yang ada dalam masyarakat.

   4. Sosiologi Keluarga

   Sosiologi keluarga membahas kegiatan atau interaksi antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan keluarga. Hal ini dipelajari dalam sosiologi keluarga antara lain peranan keluarga dalam masyarakat, peranan keluarga dalam perubahan sosial, dan beberapa bentuk keluarga yang ada dalam masyarakat.

   5. Sosiologi Industri

   Sosiologi industri mengkaji hubungan antara fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat dengan kegiatan industri. Peranan industri dalam perubahan sosial, aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan pokok ekonomi (produksi, distribusi, dan konsumsi), serta hubungan industri dengan berbagai struktur yang ada dalam masyarakat.

   6. Sosiologi Pembangunan

   Cabang sosiologi ini mengkaji masyarakat dan segala pola aktivitasnya di alam pembangunan. Sosiologi menghendaki pembangunan yang dilaksanakan di masyarakat tidak hanya mengejar aspek materiilnya saja, melainkan juga memerhatikan masyarakat yang ada di sekitarnya. Beberapa materi yang dipelajari dalam sosiologi pembangunan antara lain pengaruh pembangunan dalam perubahan sosial, peranan pembangunan dalam kehidupan masyarakat, dan peranan pembangunan terhadap perekonomian masyarakat.

   7. Sosiologi Politik

   Sosiologi politik mempelajari tentang fenomena politik dengan mengaitkan variabel sosial dan variabel politik dalam wujud saling keterkaitan antara struktur sosial dan lembaga politik atau antara masyarakat dan negara. Dengan demikian sosiologi politik bertujuan mengkaji hubungan antara fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat dengan kegiatan - kegiatan politik.

   8. Sosiologi Pedesaan

   Cabang sosiologi ini mempelajari masyarakat pedesaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari dalam sosiologi pedesaan antara lain mata pencaharian hidup, pola hubungan, pola pemikiran, serta sikap dan sifat masyarakat pedesaan dalam kehidupan sehari - hari.

   9. Sosiologi Perkotaan

   Sosiologi perkotaam mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola interaksi yang dilakukan sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari antara lain mata pencaharian hidup, pola hubungan dengan orang - orang yang ada di sekitarnya, dan pola pikir dalam menyikapi suatu permasalahan.

   10. Sosiologi Kesehatan

   Sosiologi kesehatan bertujuan mengkaji cara penerapan berbagai teori sosiologi dalam menganalisis masalah - masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Cabang sosiologi ini berusaha untuk mengkaji perilaku sakit, perilaku sehat, peran sehat, dan peran para anggota masyarakat

Related Posts:

Objek Kajian Sosiologi

Objek Kajian Sosiologi

  Objek Kajian Sosiologi

   Sosiologi pada dasarnya mempelajari masyarakat dan perilaku sosial manusia dengan meneliti kelompok yang dibangunnya. Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi mengkaji lebih mendalam pada bidangnya dengan cara bervariasi, misalnya seorang sosiologi mengkaji dan mengamat kenakalan remaja di Indonesia saat ini. Mereka akan mengkaji mengapa remaja tersebut nakal, mulai kapan remaja tersebut berperilaku nakal, sampai memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut. Hampir semua gejala sosial yang terjadi di desa maupun di kota baik individu ataupun kelompok, merupakan ruang kajian yang cocok bagi sosiologi, asalkan menggunakan prosedur ilmiah.

   Objek kajian sosiologi sebagainama kedudukannya sebagai ilmu sosial adalah masyarakat dilihat dari sudut hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia tersebut dalam masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi kajian sosiologi adalah sebagai berikut.
   1. Hubungan timbal balik antara manusia dengan manusia lainnya.
   2. Hubungan antara individu dengan kelompok.
   3. Hubungan antara kelompok satu dengan kelompok lain.
   4. Sifat - sifat dari kelompok - kelompok sosial yang bermacam - macam coraknya.

   Pokok kajian sosiologi mencakup tentang beberapa hal, yaitu sebagai berikut.
   1. Hakikat sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji tentang hubungan sosial, yaitu hubungan antarindividu dan antarkelompok dalam masyarakat serta hubungan antara individu dan antarkelompok dalam masyarakat serta hubungan antar individu dengan lingkungannya termasuk lingkungan alamnya.

   2. Interaksi sosial yang menyangkut komunikasi langsung maupun tidak langsung antar warga masyarakat baik secara individual maupun secara kolektif.

   3. Proses sosialisasi termasuk pengaruhnya terhadap perkembangan diri dan kepribadian seseorang dalam masyarakat.

   4. Struktur sosial yang terdiri dari sistem norma, sistem kedudukan dan peran dari masing - masing masyarakat dari lapisan bawah hingga lapisan atas.

   5. Keragaman kehidupan sosial budaya, termasuk nilai - nilai sosial.

   6. Perubahan - perubahan sosial baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar serta bahan kajian yang lebih detail berkaitan dengan perilaku sosial dalam masyarakat.

Related Posts:

Tokoh Perintis Sosiologi

Tokoh Perintis Sosiologi

  Tokoh Perintis Sosiologi

   1. Auguste Comte

   Auguste Comte adalah salah satu pemikir handal di bidang sosiologi. Bukunya Course de philosophie positive, menjadikan Comte disebut Bapak Sosiologi atau peletak dasar sosiologi. Pemikiran Auguste Comte yang dijadikan dasar pemikiran sosiologi antara lain sebagai berikut.
   A. Membedakan sosiologi ke dalam statistika sosial dan dinamika sosial.
   B. Pengembangan tiga tahap pemikiran manusia (tahap teologi, metafisis, dan positif) yang menjadi ciri perkembangan pengetahuan manusia dan masyarakat.
   C. Gejala sosial dapat dipelajari secara ilmiah melalui metode - metode pengamatan, percobaan, perbandingan dan sejarah.
   D. Fakta kolektif historis dan masyarakat terikat pada hukum - hukum tertentu dan tidak pada kehendak manusia.

   2. Emile Durkheim

   Emile Durkheim salah satu tokoh sosiologi yang dipengaruhi oleh tradisi pemikiran Prancis - Jerman. Durkheim termasuk salah satu peletak dasar - dasar sosiologi modern. Bagi Durkheim, fenomena sosial yang tumbuh berserakan dalam kehidupan masyarakat ini adalah nyata. Oleh karena itu, gejala - gejala sosial yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sesungguhnya dapat dikaji dengan metode - metode empiris, dan bukan secara filosofis.

   Pada prinsipnya Durkheim menolak penjelasan ilmiah tentang tindakan (institusi sosial) yang hanya mendasarkan analisis pada karakteristik individu, seperti insting, kemauan, imitasi, dan kepentingan pribadi. Menurut Durkheim sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial, yaitu setiap cara bertindak yang telah baku ataupun tidak, yang dapat melakukan pemaksaan terhadap individu. Fakta sosial bersifat eksternal terhadap individu. Fakta sosial bisa berupa cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang memperlihatkan ciri - ciri tertentu yang berada di luar kesadaran individu.

   3. Karl Marx

   Sebagai seorang penulis sosiologi sumbangan Marx terletak pada teori kelas. Marx berpendapat bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Perkembangan pembagian kelas dalam ekonomi kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda, yaitu kaum borjuis (kaum kapitalis) dan kaum proletar.

   4. Max Weber

   Max Weber menyatakan bahwa yang dipelajari oleh sosiologi adalah tindakan sosial. Tindakan manusia disebut tindakan sosial apabila mempunyai arti subjektif. Tindakan itu dihubungkan dengan tingkah laku orang lain. Menurut Weber sosiologi berusaha memberikan pengertian tentang aksi - aksi sosial. Metode - metode yang digunakan dalam ilmu - ilmu alam tidak dapat diterapkan begitu saja pada masalah - masalah yang dikaji dalam ilmu - ilmu sosial. 

   Sosiologi membantu mempelajari dan memahami perilaku manusia dan sekaligus menelaah sebab - sebab terjadinya interaksi sosial. Karya Weber tentang perkembangan sosiolog, misalnya analisis tentang wewenang, birokrasi, sosiologi agama, organisasi - organisasi ekonomi dan sebagainya.

   5. Charles Horton Cooley

   Charles Horton Cooley mengembangkan konsepsi mengenai hubungan timbal balik dan hubungan yang tidak terpisahkan antara individu dengan masyarakat. Pada waktu manusia berada di bawah dominasi kelompok utama yaitu keluarga, kelompok sepermainan dan rukun tetangga, manusia akan saling kenal antara warga - warganya serta kerja sama pribadi yang erat.

   6. Herbert Spencer

   Herbert Spencer adalah orang inggris yang menguraikan materi sosiologi secara rinci dan sistematis. Menurut Spencer, objek sosiologi yang pokok adalah keluarga, politik, agama, pengendalian sosial dan industri termasuk asosiasi masyarakat setempat, pembagian kerja, pelapisan sosial, sosiologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan. Pada tahun 1876 Spencer mengetengahkan sebuah teori tentang "evolusi sosial".

   Ia menerapkan secara analog Teori Darwin mengenai "Teori Evolusi" terhadap masyarakat manusia. Ia yakin bahwa masyarakat mengalami evolusi dari masyarakat primitif ke masyarakat industri. Herbert Spencer juga mengembangkan suatu sistematika penelitian masyaraakt dalam bukunya yang berjudul Principles of Sociology.

Related Posts:

Sejarah Sosiologi

Sejarah Sosiologi

  Sejarah Sosiologi

   Sejarah dan perkembangan sosiologi secara kronologis dan singkat dapat dikemukakan sebagai berikut.

   1. Pada Zaman Keemasan Filsafat Yunani

   Pada masa ini sosiologi dipandang sebagai bagian tentang kehidupan bersama secara filsafat. Pada masa itu Plato (429 - 347 SM) seorang filosof terkenal dari Yunani, dalam pencariannya tentang makna negara dia berhasil merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup kehidupan sosial dan ekonomi. 

   Plato menganggap bahwa institusi - institusi dalam masyarakat saling bergantung secara fungsional. Kalau ada satu institusi yang tidak jalan, maka secara keseluruhan kehidupan masyarakat akan terganggu. Seperti halnya Plato, maka Aristoteles (384 - 322 SM) juga menganggap bahwa masyarakat adalah suatu organisme hidup dengan basis kehidupannya adalah moral yang baik. Pada masa ini kaum agamawan yang berkuasa sehingga kehidupan sosial lebih diwarnai oleh keputusan - keputusan kaum agamawan yang berkuasa.

   2. Pada Zaman Renaissance (1200 - 1600)

   Machiavelli adalah orang pertama yang memisahkan antara politik dan moral sehingga terjadi suatu pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Di sini muncul ajaran bahwa teori - teori politik dan sosial memusatkan perhatian pada mekanisme pemerintahan. Sejak masa ini pengaruh kaum agamawan mulai memperoleh tantangan.

   3. Pada Abad Pencerahan (Abad ke 16 dan 17)

   Pada masa ini muncul Thomas Hobbes (1588 - 1679) yang mengarang buku yang dikenal sebagai The Leviathan. Inti ajarannya diilhami oleh hukum alam, fisika dan matematika. Pada masa ini pengaruh keagamaan mulai ditinggalkan dan digantikan oleh pandangan - pandangan yang bersifat hukum sebagai kodrat keduniawiannya. Berdasarkan pandangan kelompok inilah kemudian muncul suatu kesepakatan antarmanusia (kelompok) yang dikenal sebagai kontrak sosial. 

   Pada mulanya interaksi antarmanusia berada dalam kondisi chaos karena saling mencurigai dan saling bersaing untuk memperebutkan sumberdaya alam dan manusia yang ada. Kondisi yang bersifat kodrati (sesuai dengan hukum alam) ini kemudian dipandang akan selalu menyengsarakan kehidupan manusia. Oleh sebab itu, dibuatlah kesepakatan - kesepakatan pengaturan antarkelompok yang dapat diterima dan saling menguntungkan yang kemudian dikenal sebagai kontrak sosial.

   4. Pada Abad ke - 18

   Pada masa ini, muncullah John Locke (1632 - 1704) yang dianggap sebagai bapak Hak Asasi Manusia (HAM). Dia berpandangan bahwa pada dasarnya setiap manusia mempunyai hak - hak dasar yang sangat pribadi yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun termasuk oleh negara seperti hak hidup, hak berpikir dan berbicara, berserikan, dan lain - lain. 

   Tokoh lain yang muncul adalah J.J Rousseau (1712 - 1778) yang masih berpegang pada ide kontrak sosialnya Hobbes. Dia berpandangan bahwa kontrak antara pemerintah (negara) dengan yang diperintah (rakyat) menyebabkan munculnya suatu kolektivitas yang mempunyai keinginan - keinginan tersendiri yang kemudian menjadi keinginan umum. Keinginan umum inilah yang seharusnya menjadi dasar penyusunan kontrak sosial antara negara dengan rakyatnya.

   5. Pada Abad ke - 19

   Abad ke 19 dapat dianggap sebagai abad mulai berkembangnya sosiologi, terutama sesudah Auguste Comte (1798 - 1853) memperkenalkan istilah sosiologi, sebagai usaha untuk menjawab adanya perkembangan interaksi sosial dalam masa industrialisasi. Pada masa ini sosiologi dianggap mulai dapat mandiri. Kondisi yang baru dalam taraf mulai mandiri ini disebabkan walaupun sosiologi sudah dapat menunjukkan adanya objek yang dihasilkan fokus pembahasan (interaksi manusia), namun di dalam pengembangan ilmunya masih menggunakan metode - metode ilmu - ilmu yang lain, ilmu ekonomi misalnya.

   6. Pada Abad ke - 20

   Pada abad ke - 20 sosiologi dapat benar - benar dianggap mandiri karena adanya beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.
   a. Mempunyai objek khusus, yaitu interaksi antar manusia.
   b. Mampu mengembangkan teori - teori sosiologi.
   c Mampu mengembangkan metode khusus sosiologi untuk pengembangan sosiologi.
   d. Sosiologi menjadi sangat relevan dengan semakin banyaknya kegagalan pembangunan karena tidak mendasarkan dan memerhatikan masukan dari sosiologi.

   Pada akhir abad ke - 20 ini, salah satu kelemahan dari sosiologi, saat ini sudah mulai dapat dipecahkan, yaitu dalam kaitannya dengan perkembangan dan permasalahan global. Di sini interaksi antarmanusia yang dapat diamati adalah interaksi tidak langsung melalui telepon, internet, dan lain - lain yang menghubungkan manusia yang saling berjauhan letaknya.

Related Posts:

Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli

Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli

  Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli

   Sosiologi sebagai ilmu sosial cukup sulit untuk didefinisikan. Di bawah ini diuraikan beberapa pendapat dari para ahli berkaitan dengan sosiologi, yaitu sebagai berikut.

   A. Patirin A. Sorokin

   Mengemukakan sosiologi adalahilmu yang mempelajari tentang :
   1) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka ragam gejala - gejala sosial, micalnya gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral.
   2) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non sosial.
   3) Ciri - ciri umum semua jenis gejala sosial.

   B. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi

   Menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses - proses sosial, termasuk perubahan sosial.

   C. Auguste Comte

   Mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya. Sosiologi sebagai ilmu sosial mempelajari segala aspek kehidupan bersama yang terwujud dalam asosiasi - asosiasi, lembaga - lembaga, maupun peradaban.

   D. Emile Durkheim

   Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta - fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu dan fakta - fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

   E. Soejono Sukamto

   Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi - segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola - pola umum kehidupan masyarakat.
 

   F. William Kornblum

   Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
 

   G. Roucek & Waren

   Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok sosial.

   H. Soerjono Soekanto

   Sosiologi adalah ilmu yang kategoris, murni, abstrak, berusaha mencari pengertian - pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum.

   I. Allan Jhonson

   Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat di dalamnya mempengaruhi sistem tersebut.

   J. William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf

   Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.

   K. J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers

   Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur - struktur dan proses - proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

   L. Max Weber

   Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan - tindakan sosial.

   M. Paul B. Horton

   Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

   N. Hassan Shadily

   Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan - ikatan antara manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta perubahannya.

   O. Mayor Polak

   Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan yakni hubungan diantara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.

   P. Anthony Giddens

   Sosiologi adalah studi tentang kehidupan sosial manusia, kelompok - kelompok manusia dan masyarakat.

   Q. Vander Zanden

   Sosiologi adalah studi ilmiah tentang interaksi manusia di masyarakat.

   R. George Simmel

   Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perhubungan sesama manusia (human relationship).

   S. Mac Iver

   Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan - hubungan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

   Dari beberapa uraian para ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tata hubungan dalam masyarakat, serta berusaha mencari pengertian - pengertian umum, rasional empiris, bersifat umum dan dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain yang ingin mengetahuinya.

Related Posts:

Penyebab Terjadinya Perilaku Menyimpang

Penyebab Terjadinya Perilaku Menyimpang

Penyebab Terjadinya Perilaku Menyimpang

   Perilaku menyimpang dapat terjadi oleh banyak faktor baik yang berasal dari dalam diri seseorang (intrinsik) yang berbentuk pembawaan - pembawaan atau bakat - bakat yang jelek, juga faktor ekstrinsik yaitu masukan dari pihak lain melalui proses sosialisasi. Secara rinci beberapa faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang bagi seorang individu atau kelompok individu dalam masyarakat sebagai berikut.

   A. Proses Sosialisasi Yang Tidak Sempurna

   Perilaku menyimpang dapat terjadinya karena proses sosialisasi yang tidak sempurna, misalnya seseorang dapat mencapai keberhasilan dapat diperoleh melalui suatu perjuangan dan doa yang gigih. Sementara orang yang melakukan sosialisasi terhadap hal tersebut hanya memandang sebelah mata, yaitu sisi keberhasilannya saja yang dipandang menyenangkan dan patut untuk dipilih tanpa menyinggung perjuangan dan doanya yang dilakukan dengan sangat gigih, uler serta proses waktu yang sangat panjang.

   Dari kejadian ini orang ingin meniru keberhasilan dengan jalan pintas, yaitu jalan - jalan yang tidak sesuai dengan prosedur ataupun tidak sesuai dengan nilai - nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perilaku menyimpang karena proses sosialisasi yang tidak sempurna.

   B. Ketidaksanggupan Menyerap Norma - Norma Kebudayaan

   Hal ini terjadi jika seorang individu tidak mampu membedakan perilaku yang pantas dan tidak pantas. Ini dapat terjadi karena seseorang menjalani proses sosialisasi yang tidak sempurna. Kasus ini tampak pada seseorang yang berasal dari keluarga berantakan. Biasanya jika anak ini terjun ke masyarakat yang lebih luas maka ia cenderung tidak sanggup menjalankan perannya sesuai dengan perilaku yang pantas menurut ukuran masyarakat.

   C. Penyerapan Subkebudayaan Menyimpang

   Mekanisme proses belajar perilaku menyimpang sama dengan proses belajar lain. Proses belajar ini terjadi melalui interaksi sosial dengan orang lain khususnya orang - orang berperilaku menyimpang yang sudah berpengalaman.

   D. Ketegangan Antara Kebudayaan dan Struktur Sosial

   Setiap masyarakat tidak hanya memiliki tujuan - tujuan yang dianjurkan oleh kebudayaan, tetapi juga cara - cara yang diperkenankan oleh kebudayaan tersebut untuk mencapai tujuan. Apabila seseorang tidak diberi peluang untuk memilih maka cara - cara ini dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga kemungkinan besar akan terjadi perilaku menyimpang.

   E. Ikatan Sosial Yang Berlainan

   Setiap orang biasanya berhubungan dengan kelompok yang berlainan. Hubungan dengan kelompok - kelompok tersebut cenderung mengindentifikasi dirinya dengan kelompok yang paling dihargai. Melalui hubungan ini akan memperoleh pola - pola sikap dan perilaku kelompoknya. Jika pergaulan ini memiliki pola sikap dan perilaku menyimpang maka kemungkinan besar juga akan menunjukkan pola - pola perilaku menyimpang.

   F. Akibat Proses Sosialisasi Nilai - Nilai Subkebudayaan Menyimpang

   Proses sosialisasi dapat terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja. Perilaku menyimpang seringkali merupakan akibat sosialisasi yang sengaja maupun tidak sengaja.

   Perilaku menyimpang sebagai hasil sosialisasi yang sengaja dapat terjadi melalui kelompok - kelompok gelap yang tujuannya benar - benar mengajarkan penyimpangan. Mereka membentuk subkebudayaan yang berbeda dari kebuayaan umumnya.

   G. Sikap Mental Yang Tidak Sehat

   Hal ini dapat terjadi karnea orang yang melakukan perilaku menyimpang tidak merasa bersalah atau menyesal bahkan merasa senang.

   H. Dorongan Kebutuhan Ekonomi

   Seseorang yang terdesak kebutuhan ekonominya jika tidak memiliki iman yang kuat atau tidak dapat mengendalikan diri serta tidak mau bekerja keras dapat terdorong menjadi penjahat.

   I. Pelampiasan Rasa Kecewa

   Seseorang yang mengalami rasa kecewa atau kepahitan hidup dapat melakukan perilaku menyimpang sebagai usaha pelarian atau pelampiasan terhadap rasa kecewanya atau kesulitannya itu.

   J. Keinginan Untuk Dipuji Atau Gaya - Gayaan

   Perilaku menyimpang kadang - kadang dilakukan sekedar untuk gaya atau keinginan untuk dipuji, misalnya berkelahi, mabuk - mabukan, penyalahgunaan narkotika, dilakukan agar dianggap hebat, jagoan, dan lainnya.

Related Posts:

Macam - Macam Pengendalian Sosial

Macam - Macam Pengendalian Sosial

  Macam - Macam Pengendalian Sosial


   A. Menurut Waktunya

   Menurut waktunya, pengendalian sosial dapat dibedakan menjadi 2, yaitu sebagai berikut.

   1. Pengendalian Preventif

   Pengendalian sosial preventif adalah pengendalian sosial yang dilakukan sebelum terjadi penyimpangan perilaku, misalnya dapat berbentuk nasihat, anjuran, patroli keamanan dan penjagaan - penjagaan oleh aparat keamanan yang berseragam.

   2. Pengendalian Represif

   Pengendalian sosisial represif adalah pengendalian sosial yang dilakukan setelah terjadi pelanggaran atau penyimpangan perilaku. Misalnya teguran, peringatan lisan dan tertulis, sanksi administrasi, denda, hukuman kurungan, hukuman seumur hidiup, dan hukuman mati.

  B. Menurut Petugasnya

   Menurut petugasnya ada 2 jenis pengendalian sosial, antara lain sebagai berikut.

   1. Pengendalian Sosial Formal

   Pengendalian sosial yang dilakukan oleh aparatur negara, misalnya pengamanan yang dilakukan oleh polisi, hakim, dan jaksa, serta oleh aparat KPK.

   2. Pengendalian Sosial Nonformal

   Pengendalian sosial yang dilakukan oleh warga masyarakat biasa dalam bentuk unjuk rasa, demonstrasi yang dilakukan oleh ibu - ibu rumah tangga, mahasiswa, dan tokoh - tokoh masyarakat lainnya.

   C. Menurut Sifatnya


   Ada 2 macam pengendalian sosial, antara lain sebagai berikut.

   1. Pengendalian Sosial Kuratif

   Pengendalian sosial kuratif adalah pengendalian sosial dalam bentuk pembinaan atau penyembuhan terhadap berbagai macam bentuk perilaku menyimpang, misalnya penyembuhan kepada eks pemakai narkoba, atau pembinaan terhadap eks WTS yang dilakukan dalam rangka menyembuhkan karakter lama menjadi warga masyarakat yang baik.

   2. Pengendalian Sosial Partisipatif

   Pengendalian sosial partisipatif adalah pengendalian sosial yang dilakukan dengan mengikutsertakan pelaku untuk melakukan penyembuhan atau perbaikan perilaku. Misalnya kepada mantan pencuri yang ditugaskan menjadi aparat keamanan sehingga mereka tumbuh keinginannya untuk menjadi baik dan meninggalkan profesi yang lama

Related Posts:

Bentuk - Bentuk Pengendalian Sosial

Bentuk - Bentuk Pengendalian Sosial

  Bentuk - Bentuk Pengendalian Sosial

   Bentuk - bentuk pengendalian sosial antara lain sebagai berikut.

   1. Pendidikan

   Pendidikan berperan sebagai alat pengendalian sosial karena pendidikan dapat membina dan mengarahkan warga masyarakat terutama anak sekolah kepada pembentukan sikap dan tindakan para siswa yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negaranya. 

   Menurut pendapat para ahli sosiologi maupun ahli psikologi, bahwa pengaruh pendidikan sangat menentukan proses pembentukan kepribadian seseorang. Individu yang berpendidikan cenderung berperilaku lebih baik daripada individu yang kurang berpendidikan. Berdasarkan asumsi tersebut, pendidikan dapat berfungsi untuk mencegah dan mengatasi perilaku menyimpang dari warga masyarakat.

   2. Pendidikan Agama

   Agama pun dapat berperan sebagai alat pengendalian sosial karena agama dapat memengaruhi sikap dan perilaku para pemeluknya dalam pergaulan hidup bermasyarakat.

   Agama pada dasarnya berisikan perintah, larangan, dan anjuran kepada pemeluknya dalam menjalani hidup sebagai makhluk pribadi, makhluk Tuhan sekaligus makhluk sosial. Norma - norma agama tersebut membimbing dan mengarahkan kepada pemeluknya agar bersikap dan bertindak baik dalam pergaulan hidup bermasyarakat.

   3. Gosip Atau Desas - Desus

   Gosip atau desas - desus adalah bentuk pengendalian sosial atau kritik sosial yang dilontarkan secara tertutup oleh masyarakat terhadap warga masyarakat yang berperilaku menyimpang. Gosip ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari - hari di masyarakat. Jika ada individu maupun kelompok yang tindakannya menyimpang dari nilai - nilai norma - norma sosial yang berlaku maka individu tersebut akan menjadi bahan pembicaraan masyarakat.

   4. Teguran

   Teguran adalah kritik sosial yang dilontarkan secara terbuka oleh masyarakat terhadap warga masyarakat yang berperilaku menyimpang. Teguran ini umumnya dilakukan oleh orang - orang dewasa, seperti orang tua, guru, tokoh - tokoh masyarakat, dan para pemimpin masyarakat. Dalam pelaksanaannya teguran terdiri dari dua macam, yaitu teguran lisan dan teguran terbuka.

   5. Kepercayaan Terhadap Hal - Hal Yang Bersifat Supernatural

   Di antara masyarakat primitif, baik orang purba maupun orang modern keduanya menggunakan sarana biasa maupun sarana supernatural (ajaib, tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat) dalam kendali sosialnya. Orang - orang primitif lebih bergantung pada cara - cara bertindak tradisional dan sanksi supernatural daripada orang modern.
 
   Dalam banyak keadaan,cara yang sudah dipolakan memerlukan dukungan yang lebih kuat daripada hanya berupa pola kebiasaan saja. Dukungan ini ditentukan oleh kaum primitif di luar diri mereka yaitu dalam kekuatan supernatural yang meliputi berbagai macam roh. Jadi pengendalian sosial ditambah kekuatannya dengan sanksi supernatural.

   6. Hukuman

   Dalam kenyataan sehari - hari di masyarakat terdapat individu - individu yang tidak percaya adanya siksa Tuhan. Dengan sanksi hukuman yang keras, akan membuat jera bagi para pelanggar sehingga tidak berani mengulanginya lagi.



Related Posts:

Ciri - Ciri Perilaku Menyimpang

Ciri - Ciri Perilaku Menyimpang


  Ciri - Ciri Perilaku Menyimpang

   Paul B. Horton memberikan ciri - ciri perilaku menyimpang sebagai berikut.

   A. Penyimpangan Harus Dapat Didefinisikan

   Orang tidak dapat menuduh atau menilai suatu perbuatan menyimpang secara sembarangan. Perilaku menyimpang merupakan akibat dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap perilaku tersebut, dan bukan semata - mata ciri tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Menyimpang tidaknya suatu perilaku harus dinilai berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.

   B.  Penyimpangan Bisa Diterima Bisa Juga Ditolak

   Perilaku menyimpang ada yang positif dan negatif, dikatakan positif apabila penyimpangan  diterima bahkan dipuji dan dihormati, seperti penemuan baru oleh para ahli.  Sedangkan penyimpangan negatif adalah penyimpangan yang ditolak oleh masyarakat, seperti perampokan, pembunuhan terhadap etnis tertentu, dan menyebarkan teror dengan bom atau gas beracun.

   C. Penyimpangan Relatif dan Penyimpangan Mutlak

   Pada dasarnya semua orang sesekali pernah melakukan tindakan menyimpang tetapi pada batas - batas tertentu bersifat relatif untuk setiap orang, bahkan orang yang sebelumnya melakukan penyimpangan mutlak lambat laun harus berkompromi dengan lingkungannya. Pada sebagian masyarakat modern tidak ada seorang pun yang masuk kategori sepenuhnya penurut (konformis) ataupun sepenuhnya penyimpang. Alasannya yang termasuk kedua kategori ini justru akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya.

   D. Penyimpangan Terhadap Budaya Nyata Ataukah Budaya Ideal

   Budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Dalam kenyataan di masyarakat, banyak anggota masyarakat yang tidak patuh terhadap segenap peraturan resmi tersebut. Jadi, antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan, artinya peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum dalam kenyataan sehari - hari cenderung banyak dilanggar. Contohnya penggunaan mengenai penggunaan helm pada saat mengendarai motor.

   E. Terdapat Norma - Norma Penghindaran

   Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan seseorang untuk memenuhi keinginan pihak lain tanpa harus menentang nilai - nilai tata kelakukan secara terang - terangan atau terbuka. Contohnya, apabila pada suatu masyarakat terdapat norma yang melarang suatu perbuatan yang ingin sekali diperbuat oleh banyak orang akan muncul "norma - norma penghindaran". Jadi, norma - norma penghindaran merupakan suatu bentuk penyimpangan perilaku yang bersifat setengah melembaga.

   F. Penyimpangan Sosial Bersifat Adaptif (Menyesuaikan)

   Tidak selamanya penyimpangan sosial menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat, karena kadang - kadang dapat dianggap sebagai alat pemelihara stabilitas sosial. Perilaku apa yang kita harapkan dari orang lain, seperti apa yang orang lain inginkan dari kita, serta wujud masyarakat seperti apa yang pantas bagi sosialisasi anggotanya. Di lain pihak, perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Tidak ada masyarakat yang mampu bertahan dalam kondisi statis untuk jangka waktu yang lama. masyarakat yang terisolasi sekalipun akan mengalami perubahan. Ledakan penduduk, perubahan teknologi, serta hilangnya kebudayaan lokal dan tradisional mengharuskan banyak orang menerapakan norma - norma baru.

Related Posts: