Bentuk - Bentuk BUMN, BUMS, dan Koperasi

Bentuk - Bentuk BUMN, BUMS, dan Koperasi

  Bentuk - Bentuk BUMN, BUMS, dan Koperasi


  1. Bentuk BUMN

   BUMN sebagai salah satu sumber penerimaan keuangan negara yang nilainya cukup besar mempunyai dua bentuk, yaitu perusahaan umum dan perusahaan perorangan. Berikut akan dijelaskan tentang kedua bentuk BUMN tersebut.

   A. Perusahaan Umum (Perum)

   Perum menurut Undang - Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham, yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan / atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan.

   Ciri - ciri Perusahaan Umum (Perum)
   1) Melayani kepentingan masyarakat umum.
   2) Dipimpin oleh seorang direksi / direktur.
   3) Mempunyai kekayaan sendiri dan bergerak di perusahaan swasta.
   4) Dikelola dengan modal pemerintah yang terpisah dari kekayaan negara.
   5) Memupuk keuntungan untuk mengisi kas negara.

   Contohnya : Perum pegadaian, Perum Jasa Tirta, Perum DAMRI, Perum ANTARA, Perum Peruri, Perum Perumnas, Perum Balai Pustaka.

   B. Perusahaan Perseroan (Persero)

   Persero adalah salah satu badan usaha yang dikelola oleh negara atau daerah. Berbeda dengan Perum tujuan didirikannya Persero yang pertama adalah mencari keuntungan dan yang kedua memberi pelayanan kepada umum.

   Saham kepemilikan Persero sebagian besar atau setara 51% harus dikuasai oleh pemerintah. Persero diharapkan dapat memperoleh laba yang besar, maka otomatis persero ditiuntut untuk dapat memberikan produk barang maupun jasa yang terbaik agar output yang dihasilkan tetap laku dan terus - menerus mencetak keuntungan. Ciri - ciri Persero adalah sebagai berikut.
   1). Pendirian persero diusulkan oleh menteri kepada presiden.
   2) Pelaksanaan pendirian dilakukan oleh menteri dengan memperhatikan perundang - undangan.
   3) Statusnya berupa perseroan terbatas yang diatur berdasarkan undang - undang.
   4) Modalnya berbentuk saham.
   5) Sebagian atau seluruh modalnya adalah milik negara dari kekayaan negara yang dipisahkan.
   6) Organisasi persero adalah RUPS, direksi, dan komisaris.
   7) Menteri yang ditunjuk memiliki kuasa sebagai pemegang saham milik pemerintah.
   8) Apabila seluruh saham dimiliki pemerintah maka menteri berlaku sebagai RUPS, jika hanya sebagian maka sebagai pemegang saham perseroan terbatas.
   9) Dipimpin oleh direksi.
   10) Laporan tahunan diserahkan ke RUPS untuk disahkan.
   11) Tidak mendapat fasilitas Negara.
   12) Tujuan utama memperoleh keuntungan.
   13) Hubungan - hubungan usaha diatur dalam hukum perdata.

   Contoh persero yaitu : PT KAI, PT Jasamarga, Bank BNI, Asuransi Jiwasraya, PT PLN, dan lain sebagainya.

  2. Bentuk BUMS

   Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) adalah badan usaha yang dimiliki sepenuhnya oleh individu atau swasta. Badan usaha ini pada umumnya selalu diasosiasikan sebagai bentuk usaha yang bertujuan untuk mencari keuntungan, sehingga ukuran keberhasilannya berdasarkan banyaknya keuntungan yang diperoleh dari hasil usahanya tersebut. Badan usaha swasta dapat dibagi ke dalam beberapa bentuk, yaitu : badan usaha perseorangan, firma, CV, dan perseroan terbatas (PT)

   A. Badan Usaha Perseorangan

   Badan usaha perseorangan merupakan bentuk badan usaha yang pertama kali muncul di bidang bisnis. Bentuk ini merupakan bentuk yang paling sederhana, dimana tidak terdapat perbedaan pemilikan antara hak milik pribadi dengan milik perusahaan. Harta benda yang merupakan kekayaan pribadi juga sekaligus merupakan kekayaan perusahaan. 

   Badan usaha perseorangan pada umumnya didirikan dan dikelola oleh individu atau perseorangan menggunakan modal sendiri atau modal pinjaman. Bentuk badan usaha semacam ini sula sekali mengalami perkembangan, karena segalanya sangat tergantung dari sifat - sifat pemiliknya. Secara umum bentuk usaha perseorangan selalu melekat pula pada kegiatan badan usahanya. Antara badan usaha dan perusahaan tidak ada perbedaan karena semuanya dijadikan satu dalam kegiatan. Di Indonesia, jumlah badan usaha perseorangan sekitar 80% dari total seluruh badan usaha.

   B. Firma

   Istilah firma berasal dari bahasa belanda Vennotschap Onder Firma atau sering disingkat Fa. Firma adalah persekutuan antara dua orang atau lebih untuk menjalankan suatu usaha bersama dengan memakai satu nama. Firma didirikan paling sedikit oleh dua orang dengan ikatan perjanjian yang dilakukan di depan notaris untuk mendapatkan akta sebagai badan hukum. 

   Dalam firma, semua sekutu merupakan pemilik yang merangkap pimpinan perusahaan. Setiap anggota firma akan bertanggung jawab terhadap seluruh utang firma dan seluruh kerugian, tidak hanya terbatas pada modal yang disertakan saja melainkan seluruh kekayaan yang dimilikinya ikut menjadi jaminan.

   C. Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennotschap atau CV)

   Bentuk persekutuan komanditer banyak dilakukan untuk mempertahankan kebaikan - kebaikan bentuk badan usaha perseorangan yang memberikan kebebasan dan penguasaan penuh bagi pemiliknya terhadap keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Related Posts:

Peran BUMN, BUMS, dan Koperasi Dalam Perekonomian

Peran BUMN, BUMS, dan Koperasi dalam Perekonomian

  Peran BUMN, BUMS, dan Koperasi Dalam Perekonomian

   1. Peranan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

   BUMN memiliki peranan penting dalam perekonomian, yaitu sebagai berikut.

   A. BUMN dapat mengelola dan menggunakan cabang - cabang produksi yang pokok untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara maksimal demi tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat pada umumnya.
   B. Pemerintah melalui perusahaan negara (BUMN) dapat melayani masyarakat secara maksimal.
   C. BUMN menjadi salah satu sumber pendapatan negara yang berasal dari pendapatan non - pajak.
   D. BUMN dapat menyediakan lapangan pekerjaan sehingga dapat membantu mengatasi pengangguran.
   E. BUMN dapat membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

   Peranan BUMN ditegaskan dalam Undang - Undang Nomor 19 Tahun 2003, yaitu sebagai berikut.
 
   A. Memberikan sumbangan bagi perekonomian nasional umumnya dan penerimaan negara khususnya.
   B. Mengadakan pemupukan keuntungan dan pendapatan.
   C. Menyediakan kebutuhan umum berupa barang dan jasa yang bermutu dan memadai bagi pemenuhan hajat orang banyak.
   D. Menjadi perintis kegiatan - kegiatan usaha swasta dan koperasi.
   E. Menyelenggarakan kegiatan usaha yang bersifat melengkapi kegiatan swasta dan koperasi, antara lain menyediakan kebutuhan masyarakat, baik dalam bentuk barang maupun jasa dengan memberikan pelayanan yang bermutu dan memadai.
   F. Turut aktif memberikan bimbingan kegiatan sektor swasta, khususnya pengusaha golongan ekonomi lemah.
   G. Turut aktif melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan umumnya.

   2. Peranan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS)

   BUMS memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional, antara lain :
   
   A. Meningkatkan penerimaan devisa negara dari perusahaan swasta yang melakukan kegiatan ekspor dan impor.
   B. Membantu penerimaan mengusahakan kegiatan produksi dalam rangka meningkatkan kemakmuran masyarakat.
   C. Meningkatkan lapangan kerja untuk mengatasi pengangguran.
   D. Membantu pemerintah meningkatkan penerimaan negara melalui berbagai pajak.

   3. Peranan Koperasi

   Koperasi memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional, antara lain :

   A. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
   B. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional.
   C. Berusaha mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

Related Posts:

Pengertian,Tujuan dan Instrumen Kebijakan Fiskal

Pengertian,Tujuan dan Instrumen Kebijakan Fiskal

  Pengertian,Tujuan dan Instrumen Kebijakan Fiskal


  Pengertian Kebijakan Fiskal

   Kebijakan fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal lebih menekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah.

   Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mendapatkan dana - dana dan kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah untuk membelanjakan dananya tersebut dalam rangka melaksanakan pembangunan. Atau dengan kata lain, kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan penerimaan atau pengeluaran negara.

   Dalam kebijakan ini, pemerintah mengendalikan penerimaan dan pengeluaran negara, contohnya APBN. Kebijakan fiskal mempunyai dua aspek :

   A. Aspek Kuantitatif, yaitu berhubungan dengan jumlah uang yang harus ditarik atau dibelanjakan,
   B. Aspek Kualitatif, yaitu jenis - jenis pajak, pembayaran - pembayaran dan subsidi.

   Kebijakan fiskal digunakan oleh pemerintah untuk mempengaruhi tingkat permintaan agregat dalam perekonomian, dan juga dapat mempengaruhi penawaran agregat melalui perubahan insentif bagi perusahaan dan individu.

  Tujuan Kebijakan Fiskal

   Tujuan kebijakan fiskal adalah mencapai perekonomian yang makmur, yaitu sebagai berikut.

   A. Mencegah Pengangguran

   Pencegahan timbulnya pengangguran merupakan tujuan utama dari kebijakan fiskal. Kegagalan dalam mencapai kesempatan kerja penuh tidak hanya berarti tidak tercapainya tingkat pendapatan nasional dan laju pertumbuhan ekonomi yang maksimal, tetapi juga berakibat bertambahnya jumlah orang yang menganggur.

   Kesempatan kerja penuh (full employment) dapat diartikan sebagai keadaan dimana semua pemilik faktor produksi yang ingin mempekerjakannya pada tingkat harga atau upah yang berlaku dapat memperoleh pekerjaan bagi faktor - faktor produksi berikut.

   B. Stabilitas Harga

   Aspek kedua adalah mempertahankan kestabilan harga umum pada tingkat yang layak. Penurunan yang tajam dengan harga - harga umum jelas akan mendorong timbulnya pengangguran karena sektor usaha swasta akan kehilangan harapan untuk mendapat keuntungan. Sebaliknya, harga yang terus meningkat juga mempunyai akibat yang tidak menggembirakan. 

   Inflasi memang dapat menciptakan kesempatan kerja penuh dan memberikan keuntungan pada beberapa kelompok orang, tetapi juga berdampak negatif pada orang yang berpenghasilan rendah atau tetap. Inflasi yang deras juga bisa melemahkan sektor swasta, karena investor cenderung berinfestasi pada barang tahan lama, seperti rumah dan tanah. Dalam jangka panjang inflasi akan membuat kurangnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah.

  Instrumen Kebijakan Fiskal

   Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Apabila kita mengubah besar kecilnya pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Terkait dengan penganggaran kebijakan fiskal dapat dibagi menjadi tiga. Penjelasannya sebagai berikut.

   A. Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif

   Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Umumnya sangat baik digunakan jika keadaan ekonomi sedang resesif.

   B. Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif

   Anggaran surplus adalah kebijakan pemeirntah untuk membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan.

   C. Anggaran Berimbang (Balanced Budget)

   Anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yaitu terjadinya kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin.

Related Posts:

Instrumen Kebijakan Moneter

Instrumen Kebijakan Moneter

  Instrumen Kebijakan Moneter

   Kebijakan moneter dibedakan atas kebijakan yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Kebijakan moneter kuantitatif merupakan kebijakan umum yang berusaha untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dan tingkat bunga dalam perekonomian. Sedangkan kebijakan kualitatif bersifat kebijakan terpilih atas beberapa aspek masalah moneter yang dihadapi pemerintah.

   A. Kebijakan Moneter Kuantitatif

   Kebijakan moneter kuantitatif dapat dibedakan menjadi tiga jenis, berikut penjelasannya.

   1) Operasi Pasar Terbuka

   Bank sentral dapat melakukan perubahan atas jumlah uang yang beredar dengan cara melakukan jual beli surat - surat berharga. Pada saat perekonomian sedang mengalami kelesuan atau resesi, untuk mendorong perkembangan kegiatan ekonomi, uang beredar perlu ditambah. 

   Tindakan yang dilakukan bank sentral dengan membeli surat - surat berharga, sehingga uang yang beredar bertambah jumlahnya. Pembayaran yang dilakukan bank sentral menyebabkan cadangan yang ada pada bank - bank umum menjadi bertambah besar. Sedangkan pada saat inflasi, untuk mengurangi kegiatan ekonomi yang berlebihan, uang beredar harus dikurangi. Tindakan yang dilakukan bank sentral ialah menjual surat - surat berharga.

   2) Mengubah Tingkat Diskonto

   Tingkat bunga diskonto ialah tingkat bunga yang ditetapkan pemerintah kepada bank umum yang meminjam kepada bank sentral. Bila pemerintah ingin menambah jumlah uang yang beredar, maka pemerintah menurunkan tingkat bunga pinjaman (tingkat diskonto). Dengan tingkat bunga yang lebih rendah maka akan meningkatkan keinginan bank - bank umum untuk meminjam untuk kepada bank sentral, sehingga jumlah uang yang beredar menjadi bertambah. 
   
   Sebaliknya jika ingin menahan laju pertambahan jumlah uang beredar, pemerintah menaikan tingkat bunga pinjaman. Hal ini akan menekan keinginan bank - bank umum untuk meminjam kepada bank sentral. Sehingga pertambahan jumlah uang yang beredar bisa ditekan.

   3) Mengubah Tingkat Cadangan Minimum

   Penetapan rasio cadangan wajib juga dapat mengubah jumlah uang yang beredar. Jika rasio cadangan wajib diperbesar, maka kemampuan bank untuk memberikan kredit menjadi lebih kecil dibanding sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar. Demikian juga sebaliknya jika bank sentral ingin menambah jumlah uang yang beredar untuk menggerakan kegiatan ekonomi dapat dilakukan dengan menurunkan rasio cadangan minimum di bank - bank umum.

   B. Kebijakan Moneter Kualitatif

   1) Pengawasan Kredit Secara Selektif

   Pengawasan kredit secara selektif bertujuan untuk memastikan bahwa bank - bank umum memberikan kredit / pinjaman sesuai dengan program yang dijalankan pemerintah. Misalnya, untuk mendorong kegiatan di sektor industri, bank sentral dapat membuat peraturan terhadap bank - bank umum. Peraturan tersebut mengharuskan bank - bank umum untuk meminjamkan sebagian dananya kepada usaha - usaha di bidang industri.

   2) Imbauan Moral

   Dengan imbauan moral, otoritas moneter mencoba mengarahkan dan mengendalikan uang yang beredar. Misalnya, Gubernur Bank Indonesia selaku pimpinan bank sentral dapat memberikan saran agar perbankan berhati - hati dengan kreditnya atau membatasi keinginannya untuk meminjamkan uang dari bank sentral.



Related Posts:

Pengertian dan Tujuan Kebijakan Moneter

Kebijakan Moneter

  Pengertian dan Tujuan Kebijakan Moneter

   Kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah dalam mengatur penawaran uang (jumlah uang beredar) dan tingkat bunga. Kebijakan ini dilaksanakan oleh bank sentral. Melalui kebijakan moneter, pemerintah dapat mempertahankan, menambah, mengurangi jumlah uang yang beredar dalam upaya mempertahankan kemampuan pertumbuhan ekonomi sekaligus mengendalikan inflasi.

   Jika yang dilakukan adalah menambah jumlah uang yang beredar, maka dikatakan pemerintah menempuh kebijakan moneter ekspansif (monetary expansive). Sebaliknya jika jumlah uang yang beredar dikurangi, maka dikatakan pemerintah melakukan kebijakan moneter kontraktif atau kebijakan uang ketat (tight money policy).

   Keberhasilan dari kebijakan moneter di antaranya dapat menciptakan peningkatan kesempatan kerja dan semakin meningkatnya iklim usaha yang bergairah. Dengan demikian apabila kita rinci lebih lanjut maka tujuan kebijakan moneter adalah sebagai berikut.

   A. Menjaga Stabilitas Ekonomi

   Stabilitas ekonomi akan tercapai apabila tercipta keadaan ekonomi yang stabil. Untuk mewujudkan hal ini, maka harus terwujud arus perputaran barang dan arus perputaran uang yang berjalan secara seimbang dan terkendali. Dengan demikian, perlu adanya pengaturan jumlah uang yang beredar sesuai dengan kebutuhan oleh bank sentral.

   B. Menjaga Kestabilan Harga

   Jumlah uang yang beredar di masyarakat sangat mempengaruhi tingkat harga - harga yang berlaku. Dengan adanya pengaturan jumlah uang yang beredar oleh bank sentral, maka tingkat harga dari waktu ke waktu relatif akan terkendali. Jika keadaan harga stabil, masyarakat akan percaya bahwa membeli barang sekarang akan sama dengan membeli barang pada masa yang akan datang.

   C. Meningkatkan Kesempatan Kerja

   Stabilitas ekonomi yang baik akan mendorong peningkatan jumlah investor untuk mengembangkan investasi - investasi baru yang akan membuka lapangan kerja baru, sehingga terjadi peningkatan kesempatan kerja. Stabilitas ekonomi tercapai apabila pengaturan jumlah uang yang beredar dapat dikendalikan dengan baik oleh bank sentral.

   D. Memperbaiki Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran

   Melalui kebijakan moneter, pemerintah dapat memperbaiki neraca perdagangan luar negeri menjadi surplus (ekspor lebih besar daripada imor) atau minimal berimbang. Bentuk kebijakan moneter pada permasalahan ini seperti pemerintah melakukan devaluasi (menurunkan nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing). Dengan adanya devaluasi, diharapkan nilai ekspor kita meningkat dan berpengaruh pada neraca perdagangan dan neraca pembayaran ke arah yang lebih baik.



Related Posts:

Pengertian, Penyebab, Jenis, dan Dampak Inflasi

Pengertian, Penyebab, Jenis, dan Dampak Inflasi

  Pengertian, Penyebab, Jenis, dan Dampak Inflasi


   Pengertian Inflasi

   Inflasi adalah gejala - gejala kenaikan harga barang - barang yang sifatnya itu umum dan terus - menerus. Dapat disebut inflasi jika ada tiga faktor, yaitu kenaikan harga, sifatnya umum, dan berlangsung terus - menerus.

   A. Kenaikan Harga

   Harga barang dapat di katakan naik jika harganya enjadi tinggi dari harga sebelunya. Contohnya harga cabai Rp 30.000 / kg pada minggu lalu, sedangkan pada minggu ini harga cabai rawit menjadi Rp. 90.000 / kg lebih mahal dari minggu kemarin.

   B. Sifatnya Umum

   Kenaikan harga suatu barang tidak dapat di katakan inflasi jika naiknya barang tersebut tidak menyebabkan harga - harga secara umum. Contohnya, apabila harga BBM naik maka tarif angkatan umum, bahan - bahan pokok menjadi naik ini baru dapat disebut inflasi.

   C. Berlangsung Terus - Menerus

   Naiknya harga suatu barang tidak dapat di katakan inflasi jika naiknya tersebut terjadinya hanya sesat, inflasi itu dilakukan dalam rentang minimal bulanan.

   Penyebab Inflasi

   Inflasi di setiap negara disebabkan oleh faktor yang berbeda - beda. Beberapa penyebab inflasi diantaranya bisa disebabkan oleh sektor ekspor - impor, tabungan atau investasi, pengeluaran dan penerimaan negara, sektor pemerintah dan swasta. untuk lebih jelasnya, perhatikan beberapa uraian berikut.

   A. Inflasi Disebabkan Oleh Sektor Ekspor - Impor

   Jika ekspor suatu negara lebih besar daripada impor, akan mengakibatkan terjadinya tekanan inflasi, tekanan inflasi terjadi karena semakin besar jumlah uang yang beredar di dalam negeri akibat penerimaan devisa.

   B. Inflasi Disebabkan Oleh Sektor Penerimaan Dan Pengeluaran Negara

   Sektor penerimaan dan pengeluaran suatu negara yang defisit menjadi penyebab inflasi. Karena pengeluaran pemerintah lebih besar dari penerimaannya, maka untuk menutupi keadaan tersebut akan dilakukan dengan mengeluarkan uang baru, pengeluaran uang baru menimbulkan tekanan inflasi.

   C. Inflasi Disebabkan Oleh Sektor Swasta

   Pengeluaran kredit dalam jumlah yang cukup besar untuk memenuhi permintaan kredit swasta dapat juga menyebabkan terjadinya inflasi.

   Dari penyebab inflasi di atas dapat kita simpulkan bahwa pengendalian jumlah uang yang beredar di masyarakat dan keseimbangan antara permintaan dan penawaran barang merupakan salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menekan inflasi.

   Jenis - Jenis Inflasi

   Inflasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut.

   A. Menurut Tingkat Keparahan Atau Laju Inflasi

   1) Inflasi ringan (Creeping Inflation), Inflasi yang tingkatannya masih di bawah 10% setahun.
   2) Inflasi sedang, inflasi yang tingkatannya berada diantara 10% - 30%.
   3) Inflasi berat, inflasi yang tingkatannya berada diantara 30% - 100% setahun.
   4) Hiper inflasi, inflasi yang tingkat keparahannya berada di atas 100% setahun. Hal ini pernah dialami Indonesia pada masa orde lama.

   B. Menurut Penyebab Awal Inflasi

   1) Demand Pull Inflation yaitu inflasi yang disebabkan karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat.
   2) Cost Push Inflation yaitu inflasi yang timbul karena kenaikan ongkos produsi secara terus - menerus.
   3) Inflasi Permintaan dan Penawaran, inflasi ini disebabkan kenaikan permintaan di satu sisi dan penawaran di sisi lain. 
   Inflasi muncul karena pelaku permintaan dan penawaran yang tidak seimbang, artinya jika permintaan barang bertambah sementara penyediaan barang mengalami kekurangan.

   C. Berdasarkan Asal Inflasi

   1) Domestic Inflation atau inflasi yang berasal dari dalam negeri. 
   Inflasi ini terjadi karena pengaruh kejadian ekonomi yang terjadi di dalam negeri, misalnya terjadinya defisit anggaran belanja negara yang secara terus - menerus di atas dengan mencetak uang. Hal ini menyebabkan jumlah uang yang dibutuhkan di masyarakat melebihi transaksinya dan ini menyebabkan nilai uang menjadi lebih rendah dan harga barang meningkat.

   2) Imported Inflation atau inflasi yang tertular dari luar negeri.
   Inflasi ini disebabkan oleh kenaikan harga barang ekspor seperti teh dan kopi di luar negeri (negara tujuan ekspor), harganya mengalami kenaikan dan ini membawa pengaruh terhadap harga di dalam negeri.

   Cara Mengendalikan Inflasi

   Usaha untuk mengatasi terjadinya inflasi harus dimulai dari penyebab terjadinya inflasi supaya dapat dicari jalan keluarnya. Secara teoritis untuk mengatasi inflasi relatif mudah, yaitu dengan cara mengatasi pokok pangkalnya, mengurangi jumlah uang yang beredar. Berikut ini kebijakan yang diharapkan dapat mengatasi inflasi.

   A. Kebijakan Moneter

   Segala kebijakan pemerintah di bidang moneter dengan tujuan menjaga kestabilan moneter untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kebijakan ini antara lain sebagai berikut.
   1) Politik diskonto, yaitu kebijakan dengan mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menaikan suku bunga bank, hal ini diharapkan permintaan kredit akan berkurang.
   2) Operasi pasar terbuka, yaitu kebijakan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menjual Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
   3) Menaikan cadangan kas, sehingga uang yang diedarkan oleh bank umum menjadi berkurang.
   4) Kredit selektif, politik bank sentral untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara memperketat pemberian kredit.
   5) Politik sanering, ini dilakukan bila sudah terjadi hiper inflasi, ini pernah dilakukan BI pada tanggal 13 Desember 1965 yang melakukan pemotongan uang dari Rp. 1.000,00 menjadi Rp 1,00.

   B. Kebijakan Fiskal

   Kebijakan fiskal dapat dilakukan dengan cara berikut ini.
   1) Menaikkan tarif pajak, diharapkan masyarakat akan menyetor uang lebih banyak kepada pemerintah sebagai pembayaran pajak, sehingga dapat mengurangi jumlah uang yang beredar.
   2) Mengatur penerimaan dan pengeluaran pemerintah.
   3) Mengadakan pinjaman pemerintah, misalnya pemerintah memotong gaji pegawai negeri 10% untuk ditabung. Ini terjadi pada masa orde lama.

   C Kebijakan Non - Moneter

   Kebijakan ini dapat dilakukan dengan cara berikut.
   1) Menaikan hasil produksi, pemerintah memberikan subsidi kepada industri untuk lebih produktif dan menghasilkan output yang lebih banyak, sehingga harga akan menjadi turun.
   2) Kebijakan upah, pemerintah menghimbau kepada serikat buruh untuk tidak meminta kenaikan upah disaat sedang inflasi.
   3) Pengawasan harga, kebijakan pemerintah dengan menentukan harga maksimum bagi barang - barang tertentu.

   Dampak Inflasi

   Setelah Anda mengetahui mengenai inflasi, tentu yang terpikir sekarang adalah dampak yang ditimbulkan oleh inflasi tersebut apa saja? Inflasi sebagai suatu gejala ekonomi tentunya akan memiliki dampak terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Untuk membahas ini tentunya terlebih dahulu kita ingat kembali tentang kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi terdiri atas kegiatan konsumsi, produksi dan distribusi. Adapun dampak inflasi dijelaskan sebagai berikut.

   A. Dampak Terhadap Konsumen

   Inflasi menyebabkan harga barang - barang yang dikonsumsi naik, sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami kenaikan. Dengan keadaan seperti ini, maka akan terjadi perubahan pola konsumsi pada masyarakat seperti berikut.
   1) Kuantitas konsumsi berkurang, misalnya dari kebiasaan membeli lima buah menjadi tiga buah saja.
   2) Adanya peralihan merk dari barang yang dikonsumsi menjadi barang yang murah.

   Pengurangan jumlah barang dan peralihan penggunaan barang yang dikonsumsi menyebabkan jumlah permintaan terhadap suatu barang menurun, dan ini mengakibatkan kelesuan perusahaan dan ini akan mengarah pada terjadinya PHK.

   B. Dampak Terhadap Produsen

   Dampak inflasi terhadap produsen adalah produksi menjadi menurun, penurunan disebabkan oleh alasan berikut ini.
   1) Kenaikan harga mengurangi kemampuan produsen untuk membeli faktor produksi misalnya bahan baku. Kekurangan bahan baku dapat mengakibatkan jumlah produksi berkurang.
   2) Tingginya tingkat bunga pada saat inflasi menyebabkan produksi kesulitan memperluas produksi.
   3) Munculnya suatu sikap dari produsen yang bersifat spekulatif diantaranya mengarahkan modalnya pada investasi baru, dan kewajiban memproduksi berkurang, akan mengarah terjadinya PHK.

   C. Dampak Terhadap Distribusi

   Dampak inflasi terhadap distribusi adalah pendapatan masyarakat menjadi terganggu, karena orang berpenghasilan tetap secara riil pendapatannya mengalami penurunan. Untuk menutupi kebutuhan, ia harus menggunakan tabungan atau berhutang. Dengan demikian inflasi memperlebar kesenjangan distribusi pendapatan diantara anggota - anggota masyarakat, sehingga dampaknya saling berhubungan antara konsumen, produsen dan pihak - pihak lain.


Related Posts:

Sistem Pemungutan Pajak

Sistem Pemungutan Pajak

  Sistem Pemungutan Pajak

   Di Indonesia ada 3 sistem pemungutan pajak yang berlaku, yaitu Official Assesment System, Self Assessment System, dan With holding Tax System. Berikut penjelasan sistem pemungutan pajak tersebut.

   A. Official Assesment System

   Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak terletak pada fiskus atau aparat pemungut pajak. Sistem ini pada umumnya diterapkan pada pengenaan pajak langsung. Dalam hal ini wajib pajak bersifat pasif karena utang pajak baru timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak fiskus.

   Sistem diterapkan dalam hal pelunasan Pajak Bumi Bangunan (PBB), dimana KPP akan mengeluarkan surat ketetapan pajak mengenai besarnya PBB yang terutang setiap tahun. Jadi wajib pajak tidak perlu menghitung sendiri, tapi cukup membayar PBB berdasarkan Surat Pembayaran Pajak Terutang (SPPT) yang dikeluarkan oleh KPP dimana tempat objek pajak tersebut terdaftar.

   B. Self Assesment System

   SIstem ini adalah sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak terletak pada pihak wajib pajak yang bersangkutan. Dalam sistem ini wajib pajak sifat aktif untuk menghitung, menyetor dan melaporkan pajaknya sendiri, sedangkan fiskus hanya memberi penerangan, pengawasan atau sebagai verifikasi.

   Sistem ini diterapkan dalam penyampaian SPT Tahunan PPh (baik untuk wajib pajak badan maupun wajib pajak orang pribadi), dan SPT masa PPN.

   C. With Holding Tax System

   Sistem ini adalah sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang terutang tidak terletak pada fiskus maupun wajib pajak sendiri melainkan pada pihak ketiga yang telah ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

   Diterapkan dalam mekanisme pemotongan atau pemungutan sesuai PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 26, PPh Final Pasal 4 ayat 2, PPh Pasal 15, dan PPN. Sebagai bukti atas pelunasan pajak ini biasanya berupa bukti potong atau bukti pungut. Dalam kasus tertentu ada juga yang berupa Surat Setoran Pajak (SSP). Bukti - bukti pemotongan ini nanti dilampiri dalam SPT Tahunan PPh atau SPT Masa PPN dari wajib pajak yang bersangkutan.

Related Posts:

Manfaat Pajak

Manfaat Pajak

  Manfaat Pajak

   Penggunaan uang pajak meliputi mulai dari belanja pegawai sampai dengan pembiayaan berbagai proyek pembangunan. Pembangunan sarana umum seperti jalan - jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit / puskesmas, kantor polisi dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak. Peranan penerimaan pajak bagi suatu negara menjadi sangat dominan dalam menunjang jalannya roda pemerintahan dan pembiayaan pembangunan.

   Suparmoko (2000) menyebutkan manfaat pajak digunakan untuk :
   A. Membiayai pengeluaran - pengeluaran negara seperti pengeluaran yang bersifat self liquiditing (contohnya adalah pengeluaran untuk proyek produktif barang ekspor).
   B. Membiayai pengeluaran reproduktif (pengeluaran yang memberikan keuntungan ekonomis bagi masyarakat seperti pengeluaran untuk pengairan dan pertanian).
   C. Membiayai pengeluaran yang bersifat tidak self liquiditing dan tidak reproduktif (contohnya adalah pengeluaran untuk pendirian monumen dan objek rekreasi.
   D. Membiayai pengeluaran yang tidak produktif (contohnya adalah pengeluaran untuk membiayai pertahanan negara atau perang untuk membiayai pertahanan negara atau perang dan pengeluaran untuk penghematan di masa yang akan datang yaitu pengeluaran untuk anak yatim piatu).

   Pajak yang dipungut oleh negara dilakukan berdasarkan asas pemungutan pajak dan sistem pemungutan pajak yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan perpajakan yang berlaku di Indonesia. Pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak digunakan untuk pengeluaran publik, seperti kesehatan, pendidikan, keamanan, transportasi, dan infrastruktur.

Related Posts:

Fungsi - Fungsi Pajak

Fungsi - Fungsi Pajak

  Fungsi - Fungsi Pajak

   A. Fungsi Anggaran (Budgetair)

   Pajak merupakan salah satu sumber dana yang digunakan pemerintah dan bermanfaat untuk membiayai pengeluaran - pengeluaran. Penerimaan negara dari sektor perpajakan dimasukkan ke dalam komponen penerimaan dalam negeri pada APBN.

   B. Fungsi Mengatur (Regulerend)

   Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. Contohnya adalah pengenaan pajak yang lebih tinggi kepada barang mewah dan minuman keras.

   C. Fungsi Stabilitas

   Pajak sebagai penerimaan negara dapat digunakan untuk menjalankan kebijakan - kebijakan pemerintah. Contohnya adalah kebijakan stabilitas harga dengan tujuan untuk menekan inflasi dengan cara mengatur peredaran uang di masyarakat lewat pemungutan dan penggunaan pajak yang lebih efisien dan efektif.

   D. Fungsi Redistribusi Pendapatan

   Penerimaan negara dari pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran umum dan pembangunan nasional sehingga dapat membuka kesempatan kerja dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.



Related Posts:

Macam - Macam Lembaga Pengendalian Sosial

Macam - Macam Lembaga Pengendalian Sosial

  Macam - Macam Lembaga Pengendalian Sosial

   Dalam pelaksanaan pengendalian sosial kita mengenal pengendalian sosial formal maupun pengendalian sosial nonformal. Berdasarkan sifat pengendalian sosial terdapat pengendalian yang sifatnya preventif yang diusahakan sebelum tindak pelanggaran. Pengendalian sosial represif yaitu pengendalian sosial setelah tindak pelanggaran itu dilakukan. Terdapat beberapa jenis lembaga pengendalian sosial. Lembaga pengendalian sosial tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

   A. Lembaga Kepolisian

   Polisi merupakan aparat keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas sebagai pelindung terhadap ketertiban masyarakat, menangkap pelaku - pelaku pelanggar hukum serta melakukan tindak lanjut terhadap penyelesaian suatu pelanggaran hukum untuk disampaikan ke pihak kejaksaan. 

   Lembaga kepolisian terbagi - bagi menjadi beberapa fungsi, misalnya seperti bagian bimbingan masyarakat, TKP, reserse, brigadir mobil, bagian operasi khusus dan lain - lain yang mengarah pada terciptanya suatu tertib sosial. Hal tersebut dilakukan di setiap sisi kehidupan, seperti ketertiban hukum di laut dengan aparat kepolisian laut, ketertiban berlalu lintas oleh satuan polisi lalu lintas, ketertiban di udara oleh polisi - polisi udara dan ketertiban umum yang menyangkut kepentingan - kepentingan di masyarakat.

   B. Lembaga Kejaksaan

   Lembaga kejaksaan pada hakikatnya merupakan lembaga formal yang bertugas sebagai penuntut umum, yaitu pihak yang melakukan penuntutan terhadap mereka yang melakukan pelanggaran hukum berdasarkan tertib hukum yang berlaku. Pekerjaan lembaga kejaksaan pada dasarnya merupakan tindak lanjut dari lembaga kepolisian yang menangkap dan menyidik pelaku - pelaku pelanggaran.

   C. Lembaga Pengadilan

   Lembaga pengadilan pada hakikatnya juga merupakan lembaga pengendalian sosial formal yang bertugas untuk memeriksa kembali hasil penyidikan dan BAP dari kepolisian serta menindaklanjuti tuntutan dari kejaksaan terhadap kasus pelanggaran itu sendiri. Lembaga pengadilan merupakan lembaga pengayoman sekaligus lembaga untuk memperoleh rasa keadilan dalam masyarakat. Lembaga pengadilan akan memutuskan seseorang dinyatakan bersalah atau tidak bersalah berdasarkan pemeriksaan di dalam persidangan yang dilaksanakan secara intensif.

   D. Lembaga KPK

   KPK merupakan lembaga baru di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri yang dibentuk untuk menyempurnakan tugas polisi, kejaksaan dan pengadilan khusus mengenai pemberantasan korupsi di tanah air. Lembaga ini dibentuk oleh presiden dan bertanggung jawab langsung kepada presiden.

   E. Lembaga Adat

   Pada masyarakat tradisional, hukum adat masih sangat kental berlaku di masyarakat. Penyimpangan perilaku diselesaikan berdasarkan aturan hukum adat yang berlaku di bawah penyelenggaraan tokoh - tokoh adat setempat, misalnya hukum adat Kalimantan Tengah yang memberikan hukuman kepada muda - mudi yang tertangkap basah pacaran. Sesuai dengan hukum adat yang berlaku pihak laki - laki dituntut untuk menikahi perempuan sebagaimana ketentuan hukum adat.

   F. Tokoh - Tokoh Masyarakat

   Pengendalian sosial dapat dilakukan oleh para pemuka masyarakat yang mempunyai pengaruh atau karisma untuk mengatur berbagai kegiatan di dalam lingkup masyarakat. Tokoh - tokoh masyarakat ini merupakan panutan sekaligus pengendali yang dipatuhi oleh warga masyarakat yang lain. Semua usaha dilakukan warga masyarakat untuk memberikan opini dan penekanan terhadap pihak - pihak yang dianggap melanggar ketentuan perundangan yang berlaku, baik yang disampaikan secara langsung maupun tidak langsung disebut kontrol sosial.

Related Posts:

Pengertian Perilaku Menyimpang Menurut Para Ahli

Pengertian Perilaku Menyimpang Menurut Para Ahli

  Pengertian Perilaku Menyimpang Menurut Para Ahli

   Pada dasarnya perilaku menyimpang merupakan perilaku warga masyarakat yang tidak sesuai dengan prinsip - prinsip nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku menyimpang ini akan meresahkan masyarakat karena seringkali merugikan kepentingan - kepentingan umum serta merusak sistem sosial yang telah matang dalam masyarakat. Oleh karena itu, perilaku menyimpang dapat diminimalisasi mulai dari keluarga, di sekolah, di lingkungan kerja maupun dalam lingkungan masyarakat luas.

   Berikut ini akan disampaikan pengertian perilaku menyimpang dari para ahli.
 

   A. James Vander Zenden

   Penyimpangan adalah perilaku yang oleh sejumlah besar dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.

   B. Robert M.Z. Lawang

   Penyimpangan adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang itu.

   C. Paul B. Horton

   Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma - norma kelompok atau masyarakat.

   D. Lewis Coser

   Mengemukakan bahwa perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.

Related Posts:

Bentuk - Bentuk Perilaku Menyimpang

Bentuk - Bentuk Perilaku Menyimpang

  Bentuk - Bentuk Perilaku Menyimpang

   Melalui perubahan - perubahan sosial budaya di satu sisi memang memberikan dampak positif berupa peningkatan efisiensi dan efektivitas kerja manusia yang ditandai dengan munculnya peralatan - peralatan teknologi canggih serta produk - produk barang - barang pemuas kebutuhan yang sangat beraneka ragam dengan penampilan yang sangat menarik. Berdasarkan peningkatan perubahan sosial budaya di satu sisi akan memunculkan suatu pengaruh negatif yang berupa penyimpangan - penyimpangan perilaku oleh warga masyarakat tertentu yang tidak dapat menyikapi perubahan - perubahan sosial budaya.

   Secara umum ada 4 macam bentuk penyimpangan, yaitu sebagai berikut.

   A. Penyimpangan Gaya Hidup

   Penyimpangan gaya hidup pada dasarnya merupakan salah satu jenis penyimpangan perilaku yang tergolong ringan. Misalnya dalam bentuk perilaku sebagai berikut.
   1) Penyimpangan dalam mengenakan make up.
   2) Penyimpangan model pakaian.
   3) Penyimpangan gaya pembicaraan, dan sebagainya.

   B. Penyimpangan Pemakaian Barang - Barang Konsumsi

   Penyimpangan model ini sudah mempunyai bobot yang lebih berat karena sudah ada unsur perdata maupun unsur yang pidana. Penyimpangan terhadap barang - barang konsumsi dapat dicontohkan sebagai berikut.
   1) Penyimpangan terhadap gaya minum - minuman keras.
   2) Penyimpangan dalam pemakaian obat - obat terlarang

   C. Penyimpangan Seksual

   Penyimpangan seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan oleh masyarakat. Faktor - faktor penyimpangan seks yaitu sebagai berikut.
   1) Mengalami kegagalan dalam rumah tangga.
   2) Lemahnya hukum dan peradaban yang ada di dalam masyarakat.
   3) Faktor genetika dari tiap - tiap orang yang mempunyai konsumsi seks yang berbeda - beda.

   D. Kriminalitas

   Pada penyimpangan kriminal termasuk penyimpangan yang paling berat, yaitu dalam bentuk perilaku - perilaku yang secara langsung bertentangan dengan hukum positif dalam masyarakat. Contoh - contoh penyimpangan kriminalitas, antara lain :
   1) Aktivitas penipuan
   2) Aktivitas pemalsuan dokumen dan tanda tangan
   3) Penganiayaan dan pembunuhan.
   4) Pencurian, perampokan, pemerkosaan, dan lain - lain.

   Berdasarkan esensi dari penyimpangan perilaku itu sendiri, perilaku menyimpang dapat diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut.


   A. Penyimpangan Primer

   Penyimpangan primer adalah perilaku menyimpang yang hanya dilakukan sementara saja dan tidak berulang kali. Hal ini bisa diakibatkan karena keterbatasan pengetahuan dan pemahaman terhadap suatu hal.

   B. Penyimpangan Sekunder

   Penyimpangan sekunder adalah penyimpangan perilaku secara khas yang dilakukan berulang kali oleh individu ataupun kelompok. Perilaku menyimpang yang demikian yang patut mendapat perhatian dari kita semua terutama oleh aparat keamanan dan aparat peradilan.

   C. Penyimpangan Prosedur Individual

   Penyimpangan prosedur individual adalah penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh seseorang. Penyimpangan ini dapat berupa penyimpangan prosedur maupun penyimpangan kekuasaan yang seringkali dilakukan oleh kelompok penguasa kepada kelompok yang dikuasai.

   D. Penyimpangan Kelompok

   Penyimpangan kelompok adalah suatu bentuk penyimpangan perilaku yang dilakukan secara bersama - sama melalui prosedur yang melembaga dan direncanakan dalam perkembangan atau sering disebut kolusi.


   Dalam kenyataannya di lapangan, bentuk - bentuk perilaku menyimpang yang kita jumpai dalam kehidupan sehari - hari di tengah masyarakat adalah penyimpangan - penyimpangan yang bersifat komprehensif artinya dapat dilakukan oleh siapa saja dalam berbagai bidang kehidupan. Bentuk - bentuk perilaku menyimpang itu antara lain.

   A. Penyalahgunaan Narkotika

   Narkotika adalah sejenis obat bius yang sangat berbahaya jika disalahgunakan. Penyalahgunaan narkotika adalah penggunaan narkotika tanpa izin dengan tujuan untuk memperoleh kenikmatan. Penggunaan narkotika sudah diatur dengan norma - norma yang jelas, apabila penggunaannya tidak sesuai dengan norma - norma tersebut dan bukan untuk kepentingan yang positif, maka tindakan tersebut tergolong penyimpangan.

   B. Perkelahian Pelajar

   Perkelahian antarpelajar termasuk perilaku menyimpang karena bertentangan dengan norma - norma dan nilai - nilai masyarakat dan tergolong kenakalan remaja. Masalah perkelahian antarpelajar termasuk dan berkaitan dengan krisis moral, sebab tindakan - tindakan ini berlawanan dengan kaidah - kaidah masyarakat dan kaidah - kaidah agama. Tujuannya bukan untuk mencapai nilai yang baik, tetapi sekadar balas dendam atau sebagian pamer kekuatan.

   C. Hubungan Seksual di Luar Nikah

   Secara umum kita ketahui bahwa hubungan seksual di luar nikah tidak dapat dibenarkan, baik oleh norma moral maupun norma agama. Hubungan seksual dapat dibenarkan setelah seseorang secara resmi menikah. Hubungan seksual di luar nikah merupakan tindakan menyimpang sehingga ditentang oleh masyarakat. Jenis hubungan seksual di luar nikah ialah kumpul kebo, pelacuran, dan pemerkosaan. Kumpul kebo dan pelacuran tidak dibenarkan dan tidak diakui oleh masyarakat karena bertentangan dengan nilai - nilai dan norma - norma masyarakat dan dianggap perbuatan asusila.

   D. Homoseksualitas

   Homoseksualitas adalah kecenderungan seseorang untuk tertarik pada orang yang berjenis kelamin sama sebagai mitra seksual. Jika pria yang melakukan tindakan ini disebut homoseks, sedangkan jika perempuan yang melakukan tindakan ini disebut lesbian. Pada umumnya seseorang menjadi homoseks maupun lesbian karena pengaruh lingkungan sosial. Homoseksualitas bertentangan dengan norma - norma sosial dan agama, sehingga dianggap sebagai perilaku menyimpang.

   E. Alkoholisme

   Minuman yang mengandung alkohol tinggi dapat membuat orang menjadi mabuk dan tidak berpikir secara normal. Minuman alkohol mempunyai dampak negatif terhadap saraf, sehingga berakibat seorang pemabuk kurang mampu mengendalikan diri secara fisik, sosial maupun psikologis. Dampak negatif tersebut dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain, misalnya : melakukan keonaran, keributan, pencurian, pemerkosaan dan lain - lain.

   F. Pembunuhan

   Pembunuhan merupakan tindakan kriminal berat yang tidak berperikemanusiaan. Oleh karena itu, seseorang yang melakukan pembunuhan, selain akan disingkirkan oleh masyarakat, juga dapat dikenai hukuman yang ber

Related Posts:

Teori - Teori Perkembangan Kepribadian

Teori - Teori Perkembangan Kepribadian

  Teori - Teori Perkembangan Kepribadian

   1. Teori Tabula Rasa

   Pada tahun 1690, John Locke mengemukakan Teori Tabula Rasa dalam bukunya yang berjudul "An Essay Concerning Human Understanding". Menurut teori ini, manusia yang baru lahir seperti batu tulis yang bersih dan akan menjadi seperti apa kepribadian seseorang ditentukan oleh pengalaman yang didapatkannya. 

   Teori ini mengandaikan bahwa semua individu pada waktu lahir mempunyai potensi kepribadian yang sama. Kepribadian seseorang setelah itu semata - mata hasil pengalaman - pengalaman sesudah lahir. Perbedaan pengalaman yang dialami seseorang itulah yang menyebabkan adanya bermacam - macam kepribadian dan adanya perbedaan kepribadian antara individu yang satu dengan individu yang lain.

   Teori tersebut tidak dapat diterima seluruhnya. Kita mengetahui bahwa setiap orang memiliki kecenderungan khas sebagai warisan yang dibawanya sejak lahir yang akan memengaruhi kepribadiannya pada waktu dewasa. Akan tetapi juga harus diingat bahwa warisan genetik hanya menentukan potensi kepribadian setiap orang. Tumbuh dan berkembangnya potensi itu tidak seperti garis lurus, namun ada kemungkinan akan terjadi penyimpangan. Kepribadian seseorang tidak selalu berkembang sesuai dengan potensi yang diwarisinya.

   Warisan genetik itu memang memengaruhi kepribadian, tetapi tidak mutlak menentukan sifat kepribadian seseorang. Pengalaman hidup, khususnya pengalaman - pengalaman yang diperoleh pada usia dini, sangat menentukan kepribadian individu.

   2. Teori Cermin Diri

   Teori Cermin Diri (The Looking Glass Self) ini dikemukakan oleh Charles H. Cooley. Teori ini merupakan gambaran bahwa seseorang hanya bisa berkembang dengan bantuan orang lain. Setiap orang menggambarkan diri mereka sendiri dengan cara bagaimana orang - orang lain memandang mereka, misalnya ada orang tua dan keluarga yang mengatakan bahwa anak gadisnya cantik. Jika hal itu sering diulang secara konsisten oleh orang - orang yang berbeda - beda, akhirnya gadis tersebut akan merasa dan bertindak seperti seorang yang cantik. Teori ini didasarkan pada analogi dengan cara bercermin dan mengumpamakan gambar yang tampak pada cermin tersebut sebagai gambaran diri kita yang terlihat orang lain.

   Gambaran diri seseorang tidak selalu berkaitan dengan fakta - fakta objektif, misalnya seorang gadis yang sebenarnya cantik, tetapi tidak pernah merasa yakin bahwa dia cantik karena mulai dari awal hidupnya selalu diperlakukan orang tuanya sebagai anak yang tidak menarik. Jadi, melalui tanggap orang lain, seseorang menentukan apakah dia cantik atau jelek, hebat atau bodoh, dermawan atau pelit, dan sebagainya.

   Ada tiga langkah dalam proses pembentukan cermin diri, yaitu sebagai berikut.
   A. Imajinasi tentang pandangan orang lain terhadap diri seseorang, seperti bagaimana pakaian atau tingkah lakunya di mata orang lain.
   B. Imajinasi terhadap penilaian orang lain tentang apa yang terdapat pada diri masing - masing orang, misalnya pakaian yang dipakai
   C. Perasaan seseorang tentang penilaian - penilaian itu, seperti bangga, kecewa, gembira atau rendah diri.

   3. Teori Diri Antisosial

   Teori ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Dia berpendapat bahwa diri manusia mempunyai tiga bagian, yaitu Id, ego dan superego.
   A. Id adalah pusat nafsu serta dorongan yang bersifat naluriah, tidak sosial, rakus, dan antisosial.
   B. Ego adalah bagian yang bersifat sadar dan rasional yang mengatur pengendalian superego terhadap Id. Ego secara kasar dapat disebut sebagai akal pikiran.
   C. Superego adalah kompleks dari cita - cita dan nilai - nilai sosial yang dihayati seseorang serta membentuk hati nurani atau disebut sebagai kesadaran sosial.
   Teori ini menyatakan bahwa masyarakat atau lingkungan sosial selamanya akan mengalami konflik menghalangi seseorang untuk mencapai kesenangannya. Masyarakat selalu menghambat pengungkapan agresi, nafsu seksual, dan dorongan - dorongan lainnya atau dengan kata lain, id selalu berperang dengan superego. Id biasanya ditekan tetapi sewaktu - waktu ia akan lepas menantang superego, sehingga menyebabkan beban rasa bersalah yang sulit dipikul oleh diri. Kecemasan yang mencekam diri seseorang itu dapat diukur dengan bertitik tolah pada jauhnya superego berkuasa terhadap id dan ego. Dengan cara demikian, Freud menekankan aspek - aspek tekanan jiwa dan frustasi sebagai akibat hidup berkelompok.

   4. Teori Ralph dan Conton

   Teori ini mengatakan bahwa setiap kebudayaan menekankan serangkaian pengaruh umum terhadap individu yang tumbuh di bawah kebudayaan itu. Pengaruh - pengaruh ini berbeda antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, tetapi semuanya merupakan bagian dari pengalaman bagi setiap orang yang termasuk dalam masyarakat tertentu. 

   Setiap masyarakat akan memberikan pengalaman tertentu yang tidak diberikan oleh masyarakat lain kepada anggotanya. Dari pengalaman sosial itu timbul pembentukan kepribadian yang khas dari masyarakat tersebut. Selanjutnya dari pembentukan kepribadian yang khas ini kita mengenal ciri umum masyarakat tertentu sebagai wujud kepribadian masyarakat tersebut.

   5. Teori Subkultural Soerjono Soekanto

   Teori ini mencoba melihat kaitan antara kebudayaan dan kepribadian dalam ruang lingkup yang lebih sempit, yaitu kebudayaan khusus (subcultural). Dia menyebutkan ada beberapa tipe kebudayaan khusus yang memengaruhi kepribadian sebagai berikut.

   A. Kebudayaan Khusus Atas Dasar Faktor Kedaerahan

   Di sini dijumpai kepribadian yang berbeda dari individu - individu yang merupakan anggota suatu masyarakat tertentu karena masing - masing tinggal di daerah - daerah yang berlainan dengan kebudayaan khusus yang berbeda pula.

   B. Cara Hidup di Kota dan di Desa yang Berbeda

   Ciri khas yang dapat dilihat pada anggota masyarakat yang hidup di kota besar adalah sikap individualistik, sedangkan orang desa lebih menampakkan diri sebagai masyarakat yang mempunyai sikap gotong royong yang sangat tinggi.

   C. Kebudayaan Khusus Kelas Sosial

   Dalam kenyataan di masyarakat, setiap kelas sosial mengembangkan kebudayaan yang saling berbeda, yang pada akhirnya menghasilkan kepribadian yang berbeda pula pada masing - masing anggotanya, misalnya kebiasaan orang - orang yang berasal dari kelas atas dalam mengisi waktu liburannya ke luar negeri. Kebiasaan tersebut akan menghasilkan kepribadian yang berbeda dengan kelas sosial lainnya di masyarakat.


Related Posts:

Tipe - Tipe Kepribadian

Tipe - Tipe Kepribadian

  Tipe - Tipe Kepribadian

   Tiap orang memiliki kepribadian sendiri - sendiri karena setiap orang memiliki warisan biologis dan proses sosialisasi yang berbeda - beda. Secara umum ada 3 tipe kepribadian menurut Charles Colly. Tiga tipe kepribadian itu secara rinci adalah sebagai berikut.

   A. Kepribadian Normatif (normative man)

   Seseorang dikatakan memiliki kepribadian normatif apabila orang tersebut memiliki proses sosialisasi yang seimbang yang dapat menjaga dan menerapkan keseimbangan antara perlakuan terhadap dirinya dan perlakuan terhadap orang lain sesuai dengan tata nilai yang ada di dalam masyarakat. Tipe kepribadian ini ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri yang sangat tinggi dan dapat menampung banyak aspirasi dari orang lain.

   B. Kepribadian Otoriter (otoriter man)

   Salah satu tipe kepribadian yang dimiliki seseorang adalah kepribadian otoriter. Tipe kepribadian ini terbentuk melalui proses sosialisasi tertentu di mana individu tersebut lebih memenangkan kepentingan - kepentingan terhadap dirinya dari pada kepentingan - kepentingan terhadap orang lain. Situasi ini dapat saja terjadi pada anak - anak tunggal atau anak - anak yang sejak kecil mendapat dukungan dan perlindungan yang lebih dari lingkungan orang - orang di sekitarnya. Salah satu ciri dari kepribadian otoriter adalah menonjolnya kehendak pribadi, kurang menampung banyak aspirasi dan seringkali memandang keberadaan orang lain.

   Tipe kepribadian ini biasanya dimiliki oleh orang - orang yang sejak kecil memimpin suatu kelompok - kelompok permainan, memimpin organisasi atau pemimpin - pemimpin partai politik.

   C. Kepribadian Perbatasan (marginal man)

   Seseorang dikatakan memiliki kepribadian perbatasan apabila orang ini memiliki dualisme budaya karena proses perkawinan atau situasi tertentu hingga mereka harus mengabdi pada dua struktur budaya masyarakat yang tidak sama.

   Kepribadian ini sering kali terdapat pada orang - orang campuran antara dua golongan etnis, ataupun pada orang - orang yang berdiri pada 2 kelas masyarakat ataupun seorang yang mendapat 2 jenis pendidikan berlatar belakang berbeda. Salah satu ciri seseorang yang berkepribadian tipe ini adalah sering kali mengalami perubahan - perubahan sifat yang khas (perilakunya bersifat labil). Hal ini dilakukan karena di dalam dirinya terdapat dualisme sistem berpikir ataupun dualisme pengabdian sehingga yang muncul adalah bentuk - bentuk perilaku dengan prinsip - prinsip yang saling berlainan.

Related Posts:

Tahap - Tahap Perkembangan Kepribadian

Tahap - Tahap Perkembangan Kepribadian

  Tahap - Tahap Perkembangan Kepribadian Sebagai Hasil Sosialisasi


   Secara umum perkembangan dan proses pembentukan kepribadian setiap individu terjadi melalui fase - fase sebagai berikut.

   A. Fase Pertama

   Menurut Charles H. Cooly (1864 - 1929), mengatakan bahwa proses perkembangan kepribadian seseorang dimulai kurang lebih usia 1 - 2 tahun yang ditandai dengan saat - saat seorang anak mengenal dirinya sendiri. Dalam proses perkembangan kesadaran tentang diri sendiri ini anak kecil dibantu oleh orang - orang dewasa di lingkungan keluarganya yang mengajarkan kepadanya bahwa ia mempunyai suatu nama tersendiri dan ia adalah putra bapak dan ibu.

   Dia dikatakan manis, dikatakan pintar, dikatakan nakal, dan seterusnya. Pada proses ini si anak mulai mengenali orang lain serta norma - norma yang berlaku di lingkungan yang kecil seperti di dalam keluarga. Fase ini merupakan fase awal dan salah satu hal yang penting pada fase ini adalah bahwa seorang anak mulai mempunyai pandangan tentang dirinya sebagai suatu individu yang tersendiri yang secara psikologis mulai memiliki rasa ego dan super ego.

   Kepribadian seseorang dapat dibedakan menjadi 2 bagian penting, yaitu sebagai berikut.
   1) Bagian pertama, berisi unsur dasar dari berbagai sikap yang disebut atitudes yang kurang lebih bersifat permanen dan tidak mudah berubah di kemudian hari.
   2) Bagian kedua adalah unsur - unsur yang terdiri dari keyakinan. Keyakinan atau anggapan - anggapan yang lebih fleksibel yang sifatnya mudah berubah. Anggapan - anggapan ini diperoleh berdasarkan pengalaman melalui pergaulan dengan orang lain.

   Unsur yang pertama juga disebut struktur dasar kepribadian (basic personality structure), sedangkan unsur yang kedua disebut capital personality.

   B. Fase Kedua

   Fase kedua ini merupakan fase perkembangan yang telah dimiliki seorang anak. Anak mulai berkembang karakternya sesuai dengan tipe pergaulan yang ada di lingkungannya termasuk struktur tata nilai maupun struktur budayanya. Pada fase ini, anak mulai menyadari bahwa pandangan orang lain tentang dirinya disertai dengan penilaian - penilaian, misalnya manis, bodoh, nakal, malas, dan seterusnya. 

   Pendek kata penilaian ini bisa positif dan negatif. Apabila seorang anak mendapatkan penilaian positif maka anak akan mengalami kebahagiaan atau senang. Sebaliknya ketika seorang anak mendapat penilaian yang buruk maka dia akan frustasi. Dari titik inilah anak berusaha untuk mempertebal kepribadian dengan memerhatikan penilaian dari orang - orang yang ada di sekitarnya.

   Proses ini berlangsung relatif panjang hingga anak menjelang masa kedewasaannya hingga kepribadian tersebut mulai nampak dengan tipe - tipe perilaku yang khas yang tampak dari perangai, kegemaran, IQ serta bakat - bakat yang dimiliki oleh anak tersebut. Adapun bagian - bagian dari kepribadian secara umum terdiri dari :
   

   1) Dorongan - Dorongan (drivers)

   Pada unsur dorongan merupakan pusat dari kehendak manusia untuk melakukan sesuatu aktivitas yang selanjutnya akan membentuk motif - motif tertentu untuk mewujudkan suatu keinginan. Dorongan ini dibedakan menjadi kehendak dan nafsu - nafsu. Kehendak adalah dorongan - dorongan yang bersifat kultural artinya sesuai dengan tingkat peradaban dan tingkat perekonomian seseorang. Semakin tinggi tingkat perekonomiannya dan semakin tingkat peradabannya, maka kehendak seseorang akan semakin banyak pula jumlah dan jenisnya.

   Bagian yang kedua berupa nafsu. Nafsu ini merupakan kehendak yang terdorong oleh kebutuhan biologis, misalnya nafsu makan, tidur, birahi, amarah, dan lain - lain. Tiap orang kaya atau miskin mempunyai nafsu yang sama.

   2) Naluri (Insting)

   Naluri atau Insting merupakan suatu dorongan yang bersifat kodrati yang melekat dengan hakikat hidup sebagai makhluk. Misalnya seorang ibu mempunyai naluri yang kuat untuk mempunyai anak, untuk mengasuh dan membesarkan anak hingga dewasa. Naluri ini akan dapat dilakukan pada setiap makhluk hidup tanpa harus belajar terlebih dahulu seolah - oleh telah menyatu dengan hakikat hidupnya sebagai makhluk hidup.

   3) Getaran Hati (emosi)

   Pada dasarnya emosi atau getaran hati adalah sesuatu yang abstrak yang menjadi sumber perasaan manusia. Emosi ini akan menjadi pengukur segala sesuatu yang ada pada jiwa manusia seperti senang, sedih, indah, serasi, dan seterusnya.

   4) Perangai

   Perangai merupakan perwujudan dari perpaduan antara hati dan pikiran manusia yang tampak dari raut muka maupun gerak - gerik seseorang. Perangai ini merupakan salah satu unsur dari kepribadian yang secara riil yang dilihat dan diidentifikasi oleh orang lain.

   5) Intelegensi

   Intelegensi adalah tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang. Intelegensi ini di dalamnya termasuk IQ, memori - memori pengetahuan, serta pengalaman - pengalaman yang telah diperoleh seseorang selama proses sosialisasi. Intelegensi merupakan dasar kecakapan seseorang secara umum.

   6) Bakat - Bakat

   Bakat - Bakat pada hakikatnya merupakan sesuatu yang abstrak yang diperoleh seseorang karena warisan biologis yang diturunkan oleh leluhurnya, seperti bakat seni, berdagang, berpolitik, dan lain - lain. Bakat - bakat ini merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam mengembangkan keterampilan - keterampilan yang ada pada seseorang. Setiap orang memiliki bakat - bakat yang berbeda - beda walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama.

   C. Fase Ketiga

   Pada tingkat perkembangannya kepribadian seseorang mengalami suatu perkembangan yang relatif tetap, yaitu dengan terbentuknya perilaku - perilaku yang khas sebagai perwujudan kepribadian yang bersifat abstrak. Pada fase ketiga ini disebut fase kedewasaan jika seseorang telah berusia antara 25 - 28 tahun. 

   Dalam hal ini yang menjadi pertanyaan bagi kita apakah kepribadian seseorang cenderung tetap atau apakan dapat mengalami perubahan? Pada dasarnya kepribadian yang terdiri dari 2 bagian. Bagian yang pertama (Basic personality structure) cenderung tetap, sedangkan bagian yang kedua (Capital Personality) dapat mengalami perubahan atau penyesuaian.

Related Posts:

Faktor - Faktor Pembentuk Kepribadian

Faktor - Faktor Pembentuk Kepribadian

  Faktor - Faktor Pembentuk Kepribadian

   Kepribadian seseorang terbentuk berdasarkan proses perpaduan antara faktor - faktor pembawaan yang dimiliki seseorang dari leluhurnya dengan faktor - faktor lingkungan yang diperoleh seseorang melalui proses sosalisasi dan pergaulan sepanjang hidup. Demikian juga orang yang bergaul di lingkungan masyarakat yang berbeda - beda akan menghasilkan suatu proses pembentukan kepribadian yang berbeda - beda pula.

   Faktor - faktor yang memengaruhi proses pembentukan kepribadian seseorang sebagai berikut.

   A. Faktor Pembawaan

   Faktor pembawaan adalah faktor - faktor yang berupa bawaan dari leluhurnya berasal dari ayah, ibu, kakek dan nenek dari ayah maupun dari ibu.

   B. Faktor Environment / Lingkungan

   1) Lingkungan Keluarga

   Situasi lingkungan keluarga sangat memengaruhi proses pembentukan kepribadian. Oleh karena pada masa kanak - kanak seorang individu sangat efektif proses awal pembentukan kepribadiannya dengan meniru dan memerhatikan perilaku orang - orang yang ada di lingkungan keluarganya terutama adalah ayah dan ibunya.

   2) Lingkungan Pendidikan

   Lingkungan pendidikan adalah lingkungan sekolah sejak taman kanak - kanak sampai perguruan tinggi. Situasi pendidikan di mana seorang individu bersekolah juga sangat efektif dalam proses pembentukan kepribadiannya. Dengan pemberian bekal pengetahuan nilai - nilai dan pendidikan - pendidikan budi pekerti maka seorang individu akan dikuatkan fondasi kepribadiannya dalam proses kepribadian yang dewasa.

   Dalam suatu program pendidikan sesungguhnya telah diperhatikan bahan - bahan yang akan diberikan kepada peserta didik melalui program pengajaran. Akan tetapi, tidak semua sekolah mempunyai perangkat dan kemampuan untuk melaksanakan proses pembekalan ataupun penyampaian program - program pengajaran dalam pikiran peserta didik.

   3) Lingkungan Pergaulan (lingkungan kerja)

   Lingkungan pergaulan pada dasarnya adalah lingkungan di mana seorang individu secara efektif menghabiskan waktunya pada lingkungan tersebut. Lingkungan ini dapat berupa teman sepermainan, lingkungan setempat maupun lingkungan tempat kerja. Pada pergaulan di lingkungan sepermainan pada umumnya individu bergaul dengan orang lain yang sebaya.

   4) Media Massa

   Media massa mempunyai peran cukup efektif dalam proses pembentukan kepribadian. Peran media adalah saat seorang individu mulai mengenal buku, majalan, koran, radio, televisi, VCD, internet dan lain - lain. Hal ini juga dapat mengarah pembentukan kepribadian yang tidak diinginkan.

   5. Lingkungan Masyarakat Luas

   Komponen yang terakhir yang mempengaruhi proses pembentukan kepribadian seseorang adalah lingkungan masyarakat luas.

Related Posts:

Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Proses Sosialisasi

Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Proses Sosialisasi


  Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Proses Sosialisasi

   A. Faktor Intrinsik

   Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang melakukan proses sosialisasi tersebut. Wujud nyata dari faktor intrinsik antara lain dapat berupa pembawaan - pembawaan ataupun warisan biologis termasuk kemampuan - kemampuan yang ada pada diri seseorang. Misalnya bakat, IQ, motivasi, emosi, hobi, karakter, dan lain - lain. Faktor - faktor ini akan menjadi bekal seorang i ndividu dalam melaksanakan berbagai macam aktivitas dalam proses sosialisasi.

   B. Faktor Ekstrinsik

   Faktor ekstrinsik pada dasarnya merupakan faktor - faktor yang berasal dari luar diri individu yang melakukan proses sosialisasi tersebut. Faktor ekstrinsik ini dapat berupa norma - norma, sistem sosial, sistem budaya, dan sistem mata pencaharian yang ada di dalam masyarakat. Untuk melakukan proses sosialisasi seorang individu akan dibatasi dengan nilai - nilai dan norma - norma yang ada di dalam masyarakat.

Related Posts:

Pola Sosialisasi

Pola Sosialisasi

  Pola Sosialisasi

   Selain sebagai proses belajar dan mewariskan suatu kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sosialisasi juga sebagai sarana untuk mengembangkan diri sendiri yang berarti membangun diri sendiri untuk membentuk kepribadiannya. Dalam sosialisasi dikenal dua macam sosialisasi, yaitu sosialisasi represif (repressive socialization) dan sosialisasi partisipatif (partisipatory socialization).

   A. Sosialisasi Represif

   Di masyarakat seringkali kita melihat ada orang tua yang memberikan hukuman fisik pada anak yang tidak menaati perintahnya. Misalnya memukul anak yang tidak mau belajar, atau mengunci anak di kamar mandi karena berkelahi dengan teman. Contoh ini merupakan salah satu bentuk sosialisasi represif yang ada di sekitar kita. 

   Sosialisasi Represif merupakan sosialisasi yang lebih menekankan penggunaan hukuman, terutama hukuman fisik terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anak.

   Adapun ciri - ciri sosialisasi represif di antaranya sebagai berikut.
   1) Menghukum perilaku yang keliru.
   2) Adanya hukuman dan imbalan materiil.
   3) Kepatuhan anak kepada orang tua
   4) Perintah sebagai komunikasi.
   5) Komunikasi nonverbal atau komunikasi satu arah yang berasal dari orang tua.
   6) Sosialisasi berpusat pada orang tua.
   7) Anak memerhatikan harapan orang tua.
   8) Dalam keluarga biasanya didominasi orang tua.

   Sosialisasi represif umumnya dilakukan oleh orang tua yang otoriter. Sikap orang tua yang otoriter dapat menghambat pembentukan kepribadian seorang anak karena anak tidak dapat membentuk sikap mandiri dalam bertindak sesuai dengan perannya. Seorang anak yang sejak kecil selalu dikendalikan secara berlebihan oleh orang tuanya, setelah dewasa ia tidak akan berani mengembangkan diri, tidak dapat mengambil suatu keputusan dan akan selalu bergantung pada orang lain. Kata - kata "harus", "jangan", dan "tidak boleh ini dan itu" akan selalu terngiang - ngiang di pikirannya.

   B. Sosialisasi Partisipatif

   Pola ini lebih menekankan pada interaksi anak yang menjadi pusat sosialisasi. Dalam pola ini, bahasa merupakan sarana yang paling baik sebagai alat untuk membentuk hati nurani seseorang dan sebagai perantara dalam pengembangan diri. Melalui bahasa, seseorang belajar berkomunikasi, belajar berpikir, dan mengenal diri.

   Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa sosialisasi partisipatif memiliki ciri - ciri antara lain sebagai berikut.
   1) Memberikan imbalan bagi perilaku baik.
   2) Hukuman dan imbalan bersifat simbolis.
   3) Otonomi anak.
   4) Interaksi sebagai komunikasi.
   5) Komunikasi verbal atau komunikasi dua arah, baik dari anak maupun dari orang tua.
   6) Sosialisasi berpusat pada anak.
   7) Orang tua memerhatikan keinginan anak.
   8) Dalam keluarga biasanya mempunyai tujuan yang sama.

Related Posts:

Jenis Sosialisasi

Jenis Sosialisasi

  Jenis Sosialisasi

   Sosialisasi dapat dilakukan dari lingkungan yang paling dekat hingga berkembang ke lingkungan sosial yang lebih luas. Tahapan proses sosialisasi tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis sebagai berikut :


   A. Sosialisasi Primer

   Sosialisasi primer merupakan sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil sampai ia menjadi anggota masyarakat. Sosialisasi primer berlangsung mulai balita, anak - anak, dalam teman sepermainan, dan memasuki masa sekolah. Dalam tahap tersebut, peran orang - orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas.

   Corak kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh corak kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dan anggota keluarga terdekat, teman - temannya, dan sekolah. Dengan demikian, sosialisasi primer mengacu bukan saja pada masa awal anak mulai menjalani sosialisasi, tetapi lebih dari itu. Alasannya apapun yang diserap anak di masa tersebut akan menjadi ciri mendasar kepribadian anak setelah dewasa.

   B. Sosialisasi Sekunder

   Sosialisasi sekunder merupakan proses sosialisasi kelanjutan dari sosialisasi primer. Proses ini terjadi ketika individu dimasukkan ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Sosialisasi i ni diawali dengan istilah "desosiasi", dan "resolisasi". Dalam proses "desosialisasi", seseorang mengalami "pencabutan" identitas diri yang lama. Adapun dalam "resolisasi", seseorang diberi suatu identitas diri yang baru, misalnya seorang murid yang sudah lulus sekolah, kemudian memasuki jenjang Perguruan Tinggi.

   Menurut Goffman (1961), kedua proses tersebut biasanya berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu tertentu, bersama - sama menjalani hidup yang terkungkung, dan diatur secara formal. Institusi total tersebut contohnya lembaga permasyarakatan, rumah sakit jiwa, atau lembaga pendidikan militer.

Related Posts:

Tujuan Sosialisasi

Tujuan Sosialisasi

  Tujuan Sosialisasi


   Dalam proses sosialisasi sangat disadari bahwa sosialisasi yang dilakukan dengan tujuan yang sangat mendasar. Adapun tujuan dari proses sosialisasi sebagai berikut.


   A. Untuk Mengetahui Lingkungan Sosial

   Salah satu tujuan sosialisasi adalah untuk mengetahui lingkungan sosial baik lingkungan sosial tempat individu bertempat tinggal termasuk lingkungan sosial yang baru. Lingkungan sosial ini meliputi pihak - pihak yang mempunyai keterkaitan dengan aktivitas individu tersebut.

   B. Untuk Mengetahui Lingkungan Fisik yang Baru

   Dengan mengetahui lingkungan fisik dari sesuatu daerah seseorang akan mengenali arah, posisi, kedudukan, skema dan sub - sub area yang berada di lingkungan yang baru tersebut. Pengetahuan seperti ini akan sangat berguna bagi seseorang yang baru untuk mendukung kelancaran proses menjalankan kedudukan dalam tugas kedinasan yang baru.

   C. Untuk Mengetahui Nilai - Nilai dan Norma - Norma yang Berlaku di Suatu Masyarakat

   Setiap masyarakat memiliki sistem tata nilai yang berbeda - beda. Oleh sebab itu, bagi seorang individu yang memasuki lingkungan sosial baru perlu mengetahui sistem tata kelakuan, peradaban, tata nilai serta adat istiadat yang berlaku di daerah itu.

   D. Untuk Mengetahui Lingkungan Sosial Budaya Suatu Masyarakat

   Dalam suatu proses sosialisasi akhirnya sosial budaya suatu masyarakat dapat diketahui tipenya.

Related Posts:

Pengertian Sosialisasi Menurut Para Ahli

Pengertian Sosialisasi Menurut Para Ahli

  Pengertian Sosialisasi Menurut Para Ahli

   Proses sosialisasi pada hakikatnya adalah proses belajar berinteraksi bagi individu di tengah - tengah masyarakat. Proses ini adalah proses pengenalan terhadap lingkungan sosial dan lingkungan alam yang ada di sekitarnya, mulai dari lingkungan keluarga, teman sepermainan, lingkungan sekolah, lingkungan kerja, dan lingkungan masyarakat luas.

   Di bawah ini akan diuraikan pengertian sosialisasi dari para ahli sebagai berikut.

   A. Soerjono Soekanto

   Sosialisasi adalah proses mengomunikasikan kebudayaan kepada warga masyarakat yang baru.

   B. Koentjaraningrat

   Sosialisasi adalah seluruh proses di mana seorang individu sejak masa kanak - kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu - individu lain yang hidup dalam masyarakt sekitarnya.

   C. Peter Barger

   Sosialisasi adalah proses seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.

   D. Edward Shils

   Sosialisasi merupakan proses sosial yang dijalankan seseorang atau proses sepanjang umur yang perlu dilalu seseorang individu untuk menjadi seorang anggota kelompok dan masyarakatnya melalui pembelajaran kebudayaan dari kelompok dan masyarakat tersebut.

   E. Horton dan Hunt

   Sosialisasi adalah suatu proses seseorang menghayati (internalize) norma - norma kelompok tempat ia hidup sehingga timbulah diri yang unik.

   F. Ahmadi

   Pengertian sosialisasi mencakup :
   1) Proses sosialisasi adalah proses belajar. Yaitu suatu proses akomodasi di mana individu menahan, mengubah impuls - impuls dalam dirinya lalu diikuti oleh upaya pewarisan cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya
   2) Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide - ide nilai - nilai dan tingkah laku dalam masyarakat di mana ia hidup, dan
   3) Semua sikap dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan secara sistematis dalam pribadinya.

Related Posts:

Keteraturan Sosial

Keteraturan Sosial

  Keteraturan Sosial

   Setiap manusia dalam hidup bermasyarakat selalu menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar terjadi keserasian yang memberikan kepuasan hidupnya. Sebagai anggota masyarakat manusia berhadapan dengan lingkungan alam seperti iklim, tanah, dan sumber alam. Manusia juga berhadapan dengan lingkungannya. Ia berhadapan dengan sesama manusia yang masing - masing mempunyai kehendak, keinginan, perasaan, dan sifat yang berbeda - beda.

   Kehidupan masyarakat perlu keteraturan sosial agar terjadi hubungan yang selaras. Adanya keteraturan sosial itulah yang membawa kenikmatan dalam berhubungan dengan lingkungannya. Keteraturan sosial bagi manusia tidak terjadi secara tiba - tiba tetapi memerlukan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup lalma. Hanya dengan hidup teratur maka proses sosial akan berjalan wajar.

   Keteraturan sosial diartikan sebagai suatu keadaan hubungan sosial yang berlangsung di antara anggota masyarakat secara selaras, serasi, dan harmonis sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Suasana masyarakat yang teratur menunjukkan bahwa setiap orang melakukan tugas dan kewajibannya sesuai dengan aturan yang berlaku. 

   Keteraturan sosial akan mewujudkan suasana permukiman yang penduduknya aman, tenteram, rukun, saling menghargai, saling menghormati dan bergotong royong. Bentuk konkret dari keteraturan sosial adalah adanya keselarasan yang diwujudkan dalam kerja sama antar anggota masyarakat, misalnya kehidupan masyarakat yang saling membantu, saling menghargai, saling menghormati, dan lain - lain.

   Ada beberapa unsur keteraturan sosial, yakni tertib sosial, order, keajekan, dan pola.

   1. Tertib Sosial

   Tertib sosial adalah gambaran tentang kondisi kehidupan atau suatu masyarakat yang teratur, dinamis, dan aman sebagai akibat adanya hubungan yang selaras antara tindakan, norma, dan nilai sosial dalam interaksi sosial. Kehidupan suatu masyarakat yang tertib ditandai oleh beberapa hal antara lain :
   A. Individu atau kelompok bertindak sesuai norma dan nilai yang berlaku
   B. Adanya lembaga sosial yang saling mendukung
   C. Adanya sistem norma dan nilai sosial yang diakui dan dijunjung tinggi oleh anggota masyarakat
   D. Adanya kerja sama yang harmonis dan menyenangkan

   2. Order

   Order adalah suatu sistem norma dan nilai yang diakui dan dipatuhi oleh masyarakat, misalnya perintah untuk melaksanakan kerja bakti membersihkan selokan, membersihkan halaman dan bersih desa.

   3. Keajekan

   Keajekan adalah suatu keadaan yang memperlihatkan kondisi keteraturan sosial yang tetap dan berlangsung secara terus menerus.
   Contoh keajekan antara lain sebagai berikut.
   A. Setiap pagi siswa pergi ke sekolah dengan mengenakan pakaian seragam sosial, mengikuti pelajaran, dan lain lain.
   B. Ayah pergi ke kantor untuk bekerja demi kesejahteraan keluarga.

   4. Pola

   Pola dalam sosiologi berarti gambaran atau corak hubungan sosial yang tetap dalam interaksi sosial. Contoh pola adalah sebagai berikut.
   A. Seorang siswa harus menghormati gurunya.
   B. Seorang anak harus berbakti pada orang tuanya.

   Terbentuknya pola dalalm interaksi sosial tersebut melalui proses cukup lama dan berulang - ulang yang akhirnya muncul menjadi model yang tetap untuk dicontoh dan ditiru oleh anggota masyarakat. Oleh karena itu, pola sistem norma pada masyarakat tertentu akan berbeda dengan pola sistem norma masyarakat lainnya.

   Syarat - syarat terjadinya keteraturan sosial sebagai berikut.
   1. Kesadaran warga masyarakat tentang pentingnya menciptakan keteraturan
   2. Terdapat norma sosial yang sesuai dengan kebutuhan serta peradaban manusia.
   3. Terdapat aparat penegak hukum yang konsisten dalam mengerjakan tugas, fungsi dan wewenangnya.



Related Posts: