Fungsi Uang : Fungsi Asli dan Fungsi Turunan

Fungsi Uang : Fungsi Asli dan Fungsi Turunan

  Fungsi Uang : Fungsi Asli dan Fungsi Turunan

   Dalam kegiatan perekonomian, fungsi uang dikategorikan menjadi dua macam, yaitu fungsi asli dan fungsi turunan.

   A. Fungsi Asli (Fungsi Primer)

   1) Uang Sebagai Alat Tukar (Medium of Exchange)

   Uang dapat dipertukarkan dengan segala sesuatu yang dibutuhkan seseorang, yang berupa barang atau jasa. Kita dapat memenuhi semua kebutuhan dengan cara menukarkan uang yang dimiliki dengan barang / jasa yang dibutuhkan. Contohnya, Anda memiliki uang Rp. 10.000 sedangkan anda membutuhkan sebuah buku tulis, maka uang tersebut dapat ditukarkan dengan sebuah buku tulis yang dibutuhkan.

   2) Uang Sebagai Alat Satuan Hitung (Unit of Exchange)

   Fungsi uang ini dapat digunakan untuk mengukur dan menentukan nilai suatu barang. Di Indonesia, rupiah dijadikan sebagai dasar pengukuran nilai suatu barang dan jasa yang diperjualbelikan di pasar. Contohnya, harga sebuah pensil Rp. 1500 sedangkan harga sebuah pulpen Rp. 3000. Maka dapat ditentukan bahwa pulpen memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan sebuah pensil. Dapat pula dikatakan bahwa nilai sebuah pulpen dua kali lipat dari sebuah pensil.

   B. Fungsi Turunan (Fungsi Sekunder)

   1) Uang Sebagai Alat Pembayaran Hutang

   Uang dapat digunakan untuk melunasi berbagai bentuk kewajiban terhadap pihak lain. Dalam hal ini fungsi uang dilakukan dengan cara penyerahan uang kepada pihak lain tanpa diimbangi dengan penerimaan barang lain. Contohnya yaitu uang untuk membayar pajak, membayar denda, membayar utang, membayar iuran, dan memberikan sumbangan.

   2) Uang Sebagai Alat Penimbun Kekayaan

   Menyimpan kekayaan dalam bentuk uang akan lebih fleksibel daripada dalam wujud barang. Keuntungan apabila menyimpan kekayaaan dalam bentuk uang, yaitu jika terjadi sesuatu yang bersifat mendadak dapat segera dipenuhi.

   3) Uang Sebagai Alat Pemindah Kekayaan

   Uang dapat berfungsi untuk memindahkan kekayaan dari satu daerah ke daerah lain. Contohnya : Jika seseorang memiliki rumah di desa dan ingin memindahkan ke kota maka bisa dilakukan dengan cara menjual rumah yang di desa, lalu membeli rumah yang ada di kota.

   4) Uang sebagai Alat Pembentuk Modal dan Pendorong Kegiatan Ekonomi

   Arus peredaran uang dalam kegiatan ekonomi dapat dijadikan acuan bagi tumbuh dan berkembangnya kegiatan usaha. Semakin cepat arus peredaran uang yang diikuti dengan meningkatnya kegiatan produksi akan membawa kemajuan bagi perekonomian bangsa. Modal usaha dalam bentuk uang dapat di investasikan untuk mendirikan perusahaan atau badan - badan usaha.

Related Posts:

Upaya Mengatasi Konflik Sosial

Upaya Mengatasi Konflik Sosial

  Upaya Mengatasi Konflik Sosial

   Pengendalian suatu konflik hanya mungkin dapat dilakukan apabila berbagai pihak yang berkonflik terorganisir secara jelas. Menekankan sebuah konflik agar tidak berlanjut menjadi sebuah tindak kekerasan memerlukan strategi pendekatan yang tepat.

   1. Pengendalian Secara Umum

   Secara umum, terdapat beberapa cara dalam upaya mengendalikan atau meredakan sebuah konflik, yaitu sebagai berikut.

   a. Konfiliasi (consiliation)

   Konsiliasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial yang dilakukan oleh lembaga - lembaga tertentu yang dapat memberikan keputusan dengan adil. Dalam konsiliasi berbagai kelompok yang berkonflik duduk bersama mendiskusikan hal - hal yang menjadi pokok permasalahan. Contoh bentuk pengendalian bentuk seperti ini adalah melalui lembaga perwakilan rakyat.

   b. Arbitrasi (arbitration)

   Arbitrasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial melalui pihak ketiga dan kedua belah pihak yang berkonflik menyetujuinya. Keputusan - keputusan yang diambil pihak ketiga hanya dipatuhi oleh pihak - pihak yang berkonflik

   c. Mediasi (mediation)

   Mediasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial di mana pihak - pihak yang berkonflik sepakat menunjuk pihak ketiga sebagai mediator. Namun berbeda dengan arbitrasi, keputusan - keputusan pihak ketiga tidak mengikat manapun.

   d. Adjudication

   Adjudication merupakan cara penyelesaian konflik melalui pengadilan yang tetap dan adil. Pada bentuk ini, telah terjadi konflik yang terjadi antara dua belah pihak, kemudian pihak tersebut memilih untuk menyelesaikan konfliknya di pengadilan.

   e. Segregasi (segregation)

   Upaya saling menghindar atau memisahkan diri untuk mengurangi ketegangan.

   f. Stalemate

   Konflik yang berhenti dengan sendirinya karena kekuatan yang seimbang.

   g. Kompromi (compromise)

   Kedua belah pihak yang bertentangan berusaha mencari penyelesaian dengan mengurangi tuntutan. Contohnya perjanjian antarnegara tentang batas wilayah perairan.

   h. Coercion

   Penyelesaian konflik dengan paksaan. Hal ini terjadi disebabkan salah satu pihak berada dalam keadaan yang lemah dibandingkan dengan pihak lawan.

   i. Konversi

   Salah satu pihak mengalah dan mau menerima pendirian pihak lain.

   j. Gencatan Senjata

   Penghentian konflik untuk sementara waktu yang biasanya dalam bentuk peperangan untuk menyembuhkan korban.

   2. Pengendalian Menggunakan Manajemen Konflik

   Di samping cara - cara di atas, gaya pendekatan seseorang atau kelompok dalam menghadapi situasi konflik dapat dilaksanakan sesuai dengan tekanan relatif atas apa yang dinamakan cooperativeness dan asssertiveness. Cooperativiness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat individu atau kelompoknya lain, sedangkan assertivenes merupakan keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat individu atau kelopok sendiri. Ada lima gaya manajemen konflik berkaitan dengan adaanya tekanan relatif di antara keinginan untuk menuju ke arah cooperativeness atau assertiveness sesuai dengan intensitasnya, yaitu sebagai berikut.

   a. Tindakan Menghindari

   Bersikap tidak kooperatif dan assertif, menarik diri dari situasi yang berkembang atau bersikap negral dalam segala macam cuaca.

   b. Kompetisi atau Komando Otoritatif

   Bersikap tidak kooperatif, tetapi asertif, bekerja dengan cara menentang keinginan pihak lain, berjuang untuk mendominasi dalam situasi menang atau kalah dan memaksakan segala sesuatu agar sesuai dengan kesimpulan tertentu dengan menggunakan kekuasaan yang ada.

   c. Akomodasi atau Meratakan

   Bersikap tidak kooperatif, tetapi tidak asertif, membiarkan keinginan pihak lain menonjol, meratakan perbedaan - perbedaan guna mempertahankan harmoni yang diusahakan secara buatan.

   d. Kompromis

   Bersikap cukup kooperatif dan juga asertif dalam intensitas yang cukup. Bekerja menuju ke arah pemuasan pihak - pihak yang berkepentingan, mengupayakan tawar - menawar untuk mencapai pemecahan yang dapat diterima kedua belah pihak meskipun tidak sampai tingkat optimal, tak seorangpun merasa menang, dan tak seorangpun merasa bahwa yang bersangkutan menang atau kalah secara mutlak.

   e. Kolaborasi (kerja sama)

   Bersikap kooperatif maupun asertif, berusaha untuk mencapai kepuasan bagi pihak - pihak yang berkepentingan dengan jalan bekerja melalui perbedaan - perbedaan yang ada, mencari dan memecahkan masalah hingga setiap individu atau kelompok mencapai keuntungan masing - masing sesuai dengan harapannya.

   3. Hasil Manajemen Konflik

   Dari gaya manajemen konflik tersebut kemungkinan hasil yang didapat sebagai berikut.

   a. Konflik Kalah - Kalah

   Konflik kalah - kalah terjadi apabila tak seorangpun di antara pihak yang terlibat mencapai tujuan yang sebenarnya dan alasan atau faktor - faktor penyebab konflik tidak mengalami perubahan. Hasil kalah - kalah biasanya akan terjadi apabila konflik dikelola dengan sikap menghindari, akomodasi, meratakan dan atau melalui kompromis.

   Sikap menghindari merupakan sebuah bentuk ekstrim tidak ada perhatian. Seseorang bersikap seakan - akan konflik tidak ada dan mereka hanya berharap bahwa konflik tersebut akan terselesaikan dengan sendirinya. Akomodasi berusaha menekan perbedaan - perbedaan antara pihak yang berkonflik dan menekankan pada persamaan - persamaan pada bidang - bidang kesepakatan.

   Kompromis akan terjadi apabila dibuat akomodasi sedemikian rupa, sehingga masing - masing pihak yang berkonflik mengorbankan hal tertentu yang dianggap mereka sebagai hal yang bernilai. Akibatnya, tidak ada satu pihakpun yang mencapai keinginan mereka dengan sepenuhnya dan menciptakan kondisi - kondisi anteseden untuk konflik - konflik yang mungkin akan muncul pada masa yang akan datang.

   b. Konflik Menang - Kalah

   Pada konflik menang - kalah, salah satu pihak mencapai apa yang diinginkannya dengan mengorbankan keinginan pihak lain. Hal tersebut mungkin disebabkan karena adanya persaingan, dimana orang mencapai kemenangan melalui kekuatan, keterampilan yang superior, atau karena unsur dominasi. Ia juga dapat merupakan hasil dari komando otoratif, ketika seorang otoriter mendikte sebuah pemecahan, kemudian dispesifikasikan apa yang akan dicapai, apa yang akan dikorbankan, dan oleh siapa. Jika figur otoritas tersebut merupakan pihak aktif di dalam konflik yang berlangsung, maka dapat diperkirakan siapa yang akan menjadi pemenang dan siapa yang akan kalah. Strategi - strategi menang - kalah juga tidak memecahkan sebab pokok terjadi konflik, kemungkinan pada lain waktu konflik - konflik akan muncul lagi.

   c. Konflik Menang - Menang

   Konflik menang - menang dilaksanakan dengan jalan menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam konflik yang terjadi. Hal tersebut dapat dicapai jika dilakukan konfrontasi persoalan - persoalan yang ada dan digunakan cara pemecahan masalah untuk mengatasi perbedaan - perbedaan pendapat dan pandangan.

   Kondisi menang - menang meniadakan alasan - alasan untuk melanjutkan atau menimbulkan kembali konflik yang ada karena tiada hal yang dihindari ataupun ditekankan. Semua persoalan - persoalan yang relevan diperbincangkan dan dibahas secara terbuka.

   Pemecahan masalah dan kerja sama dapat dikatakan sebagai pendekatan yang paling berhasil dan paling baik dalam usaha manajemen konflik. Akan tetapi, bukan berarti pemecahan yang lain tidak memiliki nilai potensial dalam pengelolaan suatu konflik. Namun juga terdapat konflik yang tidak dapat dikelola dengan kolaborasi. Untuk hal - hal demikian dapat dipakai prinsip "minnus mallun" (terbaik di antara yang kurang baik). Dalam menangani konflik, terutama yang sifatnya destruktif, kita harus menjunjung tinggi demokrasi, transparansi, dan toleransi dalam segala aspek kehidupan.

   4. Perdamaian Melalui Kekuatan

   Konsep perdamaian melalui kekuatan mendukung penggunaan cara apapun yang diperlukan. Pendekatan ini melahirkan model kekerasan kriminal dan mengandalkan pencegahan melalui intimidasi untuk mengurangi perilaku kekerasan dan mendukung pengembangan teknologi. Tindakan tersebut dijalankan oleh negara, polisi atau militer, dan sistem pengadilan kriminal, tetapi pada tingkat yang ekstrim, jika negara dirasa tidak efektif, maka kelompok - kelompok yang peduli akan turut campur tangan.

   5. Pola Kontrol Hukum 

   Pendekatan ini menekankan pada negosiasi dan perjanjian pengendalian senjata di lingkungan Internasional, penegakan hukum secara efektif yang digabungkan dengan program sosial untuk menghadapi para pelanggar hukum di tingkat lokal, serta kerangka hukum untuk melindungi hak asasi manusia. Inti pendekatan ini adalah salah satunya jalan untuk menghentikan kekerasan dengan mempertahankan aturan hukum. Pertikaian antarkelompok harus diselesaikan di ruang pengadilan, bukan di medan perang karena manusia pada dasarnya bersifat rasional, sehingga dapat diajarkan untuk melakukan cara yang rasional.

   6. Keamanan Bersama dan Konflik Tanpa Kekerasan

   Pendekatan ini menuntut adanya konstruksi institusi yang bisa menghambat munculnya sebab - sebab kekerasan, dan tidak menekankan pada organisasi agen kontrol sosial seperti militer dan kepolisian. Pendekatan ini menekankan pada kerja sama dan konflik tanpa kekerasan.

   Adapun asumsi mendasar pendekatan ini antara lain sebagai berikut.
   a. Tidak ada manusia yang akan aman sampai setiap orang merasa aman.
   b. Kekuatan diperlukan untuk mempertahankan perdamaian.
   c. Penyelesaian masalah dengan cara kekerasan hanya akan menghasilkan kepuasan sementara.
   d. Kekerasan struktur bisa menjadi destruktif seperti bentuk kekerasan lain.
   e. Konflik tidak harus menjadi suatu kemenangan bagi salah satu pihak dan kekalahan pada pihak lain.
   f. Perjuangan tanpa kekerasan secara moral dan strategi lebih bernilai dari perjuangan dengan kekerasan.
   
   Secara singkat, pendekatan keamanan bersama menghendaki adanya permulaan kembali semua pendekatan mendasar terhadap hubungan manusia dari tngkat keluarga sampai pada sistem dunia.

Related Posts:

Dampak Konflik Sosial

Dampak Konflik Sosial

  Dampak Konflik Sosial

   Setiap konflik yang terjadi dalam masyarakat akan membawa dampak, baik dampak secara langsung maupun tidak langsung, dampak positif maupun dampak negatif.

   1. Dampak Secara Langsung

   Dampak ini dirasakan oleh pihak - pihak yang terlibat dalam konflik. Adapun dampak secara langsung antara lain sebagai berikut.
   a. Menimbulkan keretakan hubungan antarindividu atau kelompok dengan individu atau kelompok lainnya.
   b. Adanya perubahan kepribadian seseorang, seperti selalu muncul rasa curiga, rasa benci dan akhirnya dapat berubah menjadi tindak kekerasan.
   c. Hancurnya harta benda dan korban jiwa, jika konflik tersebut berubah menjadi tindak kekerasan.
   d. Kemiskinan bertambah akibat tidak kondusifnya keamanan.

   2. Dampak Tidak Langsung

   Dampak tidak langsung merupakan dampak yang dirasakan oleh pihak - pihak yang tidak terlibat langsung dalam sebuah konflik ataupun dampak jangka panjang suatu konflik yang tidak secara langsung dirasakan oleh pihak - pihak yang berkonflik.

   3. Dampak Positif Adanya Konflik

   Sebuah konflik juga memiliki sisi positif. Adapun sisi positif sebuah konflik antara lain sebagai berikut.
   a. Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok.
   b. Munculnya pribadi - pribadi yang kuat dan tahan uji menghadapi berbagai situasi konflik.
   c. Membantu menghidupkan kembali norma - norma lama dan menciptakan norma - norma baru.
   d. Munculnya kompromi baru apabila pihak yang berkonflik dalam kekuatan seimbang.
   e. Konflik dapat memperjelas berbagai aspek kehidupan yang masih belum tuntas.
   f. Konflik dapat mengurangi rasa ketergantungan terhadap individu atau kelompok.

   4. Dampak Negatif Adanya Konflik

   Adapun dampak negatif yang ditimbulkan oleh konflik adalah sebagai berikut.
   a. Konflik dapat menimbulkan keretakan hubungan antara individu dan kelompok.
   b. Konflik menyebabkan rusaknya berbagai harta benda dan jatuhnya korban jiwa.
   c. Konflik menyebabkan adanya perubahan kepribadian.
   d. Konflik menyebabkan dominasi kelompok pemenang.

Related Posts:

Macam - Macam Konflik Sosial

Macam - Macam Konflik Sosial

  Macam - Macam Konflik Sosial

   Munculnya konflik dikarenakan adanya perbedaan dan keragaman. Berdasarkan pernyataan tersebut, Indonesia adalah salah satu negara yang berpotensi konflik. Dapat kita lihat berita - berita di media massa, berbagai konflik terjadi di Indonesia baik konflik horizontal maupun vertikal. Konflik horizontal menunjuk pada konflik yang berkembang di antara anggota masyarakat. Konflik horizontal adalah konflik yang bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan, seperti di Papua, Poso, Sambas, dan Sampit. Konflik vertikal adalah konflik yang terjadi antara masyarakat dengan negara. Umumnya konflik terjadi karena ketidakpuasan akan cara kerja pemerintah, seperti konflik dengan para buruh, konflik Aceh, serta daerah - daerah yang muncul gerakan separatisme. Namun, dalam kenyataannya ditemukan banyak konflik dengan bentuk dan jenis yang beragam.

   1. Menurut Soerjono Soekanto

   Soerjono Soekanto (1989) berusaha mengklasifikasikan bentuk dan jenis - jenis konflik tersebut. Menurutnya, konflik mempunyai beberapa bentuk khusus, yaitu sebagai berikut.

   A. Konflik Pribadi

   Konflik terjadi dalam diri seseorang terhadap orang lain. Umumnya konflik pribadi diawali perasaan tidak suka terhadap orang lain yang pada akhirnya melahirkan perasaan benci yang mendalam. Perasaan tersebut mendorong untuk memaki, menghina, bahkan memusnahkan pihak lawan. Pada dasarnya konflik pribadi sering terjadi dalam masyarakat. Misalnya individu yang terlibat hutang atau masalah pembagian warisan dalam keluarga.

   B. Konflik Rasial

   Konflik rasial umumnya terjadi di suatu negara yang memiliki keragaman suku dan ras. Lalu apa yang dimaksud dengan ras? Ras merupakan pengelompokan manusia berdasarkan ciri - ciri biologisnya, seperti bentuk muka, bentuk hidung, warna kulit, dan warna rambut. Secara umum, ras di dunia dikelompokkan menjadi lima ras, yaitu Australoid, mongoloid, Kaukasoid, Negroid dan ras - ras khusus. Hal ini berarti kehidupan dunia berpotensi munculnya konflik juga jika perbedaan antar ras dipertajam. Misalnya orang - orang kulit hitam dengan kulit putih akibat diskriminasi di Afrika.

   C. Konflik Antarkelas Sosial

   Kelas - kelas di masyarakat terjadi karena adanya sesuatu yang dihargai, seperti kekayaan, kehormatan, dan kekuasaaan. Semua itu menjadi dasar penempatan seseorang dalam kelas - kelas sosial, yaitu kelas sosial atas, menengah dan bawah. Seseorang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar menempati posisi atas, sedangkan orang yang tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan berada pada posisi bawah. Dari setiap kelas mengandung hak dan kewajiban serta kepentingan yang berbeda - beda. Jika perbedaan ini tidak dapat diatasi, maka situasi kondisi tersebut mampu memicu munculnya konflik rasial. Misalnya konflik antara buruh dengan pimpinan dalam sebuah perusahaan yang menuntut upah.

   D. Konflik Politik Antargolongan

   Dunia perpolitikan pun tidak lepas dari munculnya konflik sosial. Politik adalah cara bertindak dalam menghadapi atau menangani suatu masalah. Konflik politik terjadi karena setiap golongan di masyarakat melakukan politik yang berbeda - beda pada saat menghadapi suatu masalah yang sama. Perbedaan inilah yang menjadi peluang terjadinya konflik antargolongan terbuka lebar.

   Salah satu contoh adalah undang - undang pornoaksi dan pornografi sedang direncanakan. Masyarakat Indonesia terbelah menjadi dua pemikiran, sehingga terjadi pertentangan antara kelompok masyarakat yang setuju dengan kelompok yang tidak menyetujuinya.

   E. Konflik Bersifat Internasional

   Konflk internasional biasanya terjadi karena perbedaan kepentingan yang menyangkut kedaulatan negara yang saling berkonflik. Akibat dari konflik ini adalah seluruh rakyat dalam suatu negara merasakannya. Pada umumnya, konflik internasional berlangsung dalam kurun waktu yang lama dan pada akhirnya menimbulkan perang antar bangsa. Misalnya konflik antara negara Irak dan Amerika Serikat yang melibatkan beberapa negara besar.

   2. Menurut Mulyasa

   Mulyasa (2003) membagi konflik berdasarkan tingkatannya menjadi enam, yaitu sebagai berikut.

   A. Konflik Intrapersonal

   Konflik intrapersonal yaitu konflik internal yang terjadi dalam diri seseorang. Konflik intrapersonal akan terjadi ketika individu harus emilih dua atau lebih tujuan yang saling bertentangan, dan bimbang mana yang harus dipilih untuk dilakukan. Misalnya, konflik antara tugas sekolah dengan acara pribadi. Konflik ini bisa diibaratkan seperti makan buah simalakama, dimakan salah tidak dimakan juga salah, dan kedua pilihan yang ada memiliki akibat yang seimbang. Konflik intrapersonal juga bisa disebabkan oleh tuntutan tugas yang melebihi kemampuan.

   B. Konflik Interpersonal

   Konflik interpersonal yaitu konflik yang terjadi antarindividu. Konflik yang terjadi ketika adanya perbedaan tentang isu tertentu, tindakan dan tujuan di mana hasil bersama sangat menentukan. Misalnya konflik antartenaga kependidikan dalam memilih mata pelajaran unggulan daerah.

   C. Konflik Intragrup

   Konflik intragrup yaitu konflik antara anggota dalam satu kelompok. Setiap kelompok dapat mengalami konflik substantif atau efektif. Konflik substantif terjadi karena adanya latar belakang keahlian yang berbeda, ketika anggota dari suatu komite menghasilkan kesimpulan yang berbeda atas data yang sama. Sedangkan konflik efektif terjadi karena tanggapan emosional terhadap suatu situasi konflik tersebut.

   D. Konflik Intergrup

   Konflik intergrup yaitu konflik yang terjadi antar kelompok. Konflik intergrup terjadi karena adanya saling ketergantungan, perbedaan persepsi, perbedaan tujuan dan meningkatnya tuntutan akan keahlian. Misalnya konflik antarkelompok guru kesenian dengan kelompok guru matematika. Kelompok guru kesenian memandang bahwa untuk membelajaarkan lagu tertentu dan melatih pernafasan perlu disuarakan dengan keras, sementara kelompok guru matematika merasa terganggu karena para peserta didiknya tidak konsentrasi belajar.

   E. Konflik Intraorganisasi

   Konflik intraorganisasi yaitu konflik yang terjadi antarbagian dalam suatu organisasi, misalnya konflik antara bidang kurikulum dengan bidang kesiswaan.

   F. Konflik Interorganisasi

   Konflik interorganisasi adalah hal yang tidak asing lagi bagi organisasi manapun. Konflik ini menyebabkan sulitnya koordinasi dan integrasi dari kegiatan yang berkaitan dengan tugas - tugas dan pekerjaan. Dalam setiap kasus, hubungan interorganisasi harus diatur sebaik mungkin untuk mempertahankan kolaborasi dan menghindari semua konsekuensi disfungsional dari setiap konflik yang mungkin timbul.

   3. Menurut Dahrendorf

   Menurut Dahrendorf (1986), konflik dibedakan menjadi 4 macam, antara lain sebagai berikut.
   a. Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan - peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran).
   b. Konflik antara kelompok - kelompok sosial (antarkeluarga, antargeng).
   c. Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa)
   d. Konflik antarsatuan nasional (perang saudara)

Related Posts:

Proses Terjadinya Konflik Sosial

Proses Terjadinya Konflik Sosial

   Proses Terjadinya Konflik Sosial

   Proses konflik tidak hanya mengacu kepada bentuk konflik yang nampak dan tindakan yang terbuka dan penuh kekerasan, tapi juga bentuk yang tidak nampak, seperti situasi ketidaksepakatan antarpihak. Menurut Robbins (1996) proses konflik terdiri dari lima tahap, yaitu sebagai berikut.

   1. Oposisi atau Ketidakcocokan Potensial

   Oposisi atau ketidakcocokan potensial adalah adanya kondisi yang menciptakan kesempatan untuk munculnya konflik. Kondisi ini tidak perlu langsung mengarah ke konfli, tetapi salah satu kondisi tersebut perlu jika konflik harus muncul. Kondisi tersebut dikelompokkan dalam kategori : komunikasi, struktur dan variabel pribadi. Komunikasi yang buruk merupakan alasan utama konflik. Selain itu, masalah - masalah dalam proses komunikasi berperan dalam menghalangi kolaborasi dan merangsang kesalahpahaman. 

   Struktur juga bisa menjadi titik awal konflik. Struktur dalam hal ini meliputi ukuran, derajat spesialisasi dalam tugas yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi, kecocokan anggota, tujuan, gaya kepemimpinan, sistem imbalan dan derajat ketergantungan antara kelompok - kelompok. Variabel pribadi juga bisa menjadi titik awal dari konflik. Pernahkah kita mengalami situasi ketika bertemu dengan orang langsung tidak menyukainya? Apakah dilihat dari kumisnya, suaranya, pakaiannya dan sebagainya. Karakter pribadi yang mencakup sistem nilai individual tiap orang dan karakteristik kepribadian, serta perbedaan individual bisa menjadi titik awal konflik.

   2. Kognisi dan Personalisasi

   Kognisi dan personalisasi adalah persepsi dari salah satu pihak atau masing - masing pihak terhadap konflik yang sering dihadapi. Kesadaran oleh salah satu pihak atau lebih akan eksistensi kondisi - kondisi yang menciptakan kesempatan untuk timbulnya konflik. Jika hal ini terjadi dan berlanjut pada tingkat terasakan, yaitu pelibatan emosional dalam suatu konflik yang akan menciptakan kecemasan, ketegangan, frustasi dan permusuhan.

   Kognisi dan personalisasi merupakan tahap di mana isu - isu konflik biasanya didefinisikan dan akan menentukan jalan untuk penyelesaian konflik. Misalnya, emosi yang negatif dapat menyebabkan peremehan persoalan menurunnya tingkat kepercayaan dan interprestasi negatif atas perilaku pihak lain. Sebaliknya, perasaan positif dapat meningkatkan kemampuan untuk melihat potensi hubungan di antara elemen - elemen suatu masalah, memandang secara lebih luas suatu situasi dan mengembangkan berbagai solusi yang lebih inovatif. Konflik disyaratkan adanya persepsi dengan kata lain bahwa tidak berarti konflik bersifat personalisasi. Selanjutnya, konflik pada tingkatan perasaan yaitu ketika orang mulai terlibat secara emosional.

   3. Maksud

   Maksud adalah keputusan untuk bertindak dalam suatu cara tertentu dari pihak - pihak yang berkonflik. Maksud dari pihak yang berkonflik ini akan tercermin atau terwujud dalam perilaku, walaupun tidak selalu konsistem. Maksud dalam penanganan suatu konflik ada lima, sebagai berikut.

   a. bersaing, tegas dan tidak kooperatif, yaitu suatu hasrat untuk memuaskan kepentingan seseorang atau diri sendiri, tidak peduli dampaknya terhadap pihak lain dalam suatu episode konflik.
   b. berkolaborasi, bila pihak - pihak yang berkonflik masing - masing berhasrat untuk memenuhi sepenuhnya kepentingan dari semua pihak, kooperatif dan pencarian hasil yang bermanfaat bagi semua pihak.
   c. menghindar, jika salah satu dari pihak yang berkonflik mempunyai hasrat untuk menarik diri, mengabaikan dari atau menekan suatu konflik.
   d. mengakomodasi, bila satu pihak berusaha untuk memuaskan seorang lawan, atau kesediaan dari salah satu pihak dalam suatu konflik untuk menaruh kepentingan lawannya di atas kepentingannya.
   e. berkompromi, adalah suatu situasi di mana masing - masing pihak dalam suatu konflik bersedia untuk melepaskan atau mengurangi tuntutannya masing - masing.

   4. Perilaku

   Perilaku mencakup pernyataan, tindakan dan reaksi yang dibuat untuk menghancurkan pihak lain, serangan fisik yang agresif, ancaman dan ultimatum, serangan verbal yang tegas, pertanyaan atau tantanga terang - terangan terhadap pihak lain, dan ketidaksepakatan atau salah paham kecil.

   5. Hasil

   Hasil adalah jalinan aksi reaksi antara pihak - pihak yang berkonflik dan menghasilkan konsekuensi. Hasil dapat bersifat fungsional, artinya konflik menghasilkan suatu perbaikan kinerja kelompok atau disfungsional yang artinya merintangi kinerja kelompok oleh pihak - pihak yang berkonflik. Perilaku meliputi, upaya terang - terangan untuk menghancurkan pihak lain, serangan fisik yang agresif, ancaman dan ultimatum, serangan verbal yang tegas, pertanyaan atau tantangan terang - terangan terhadap pihak lain, dan ketidaksepakatan atau salah paham kecil.

Related Posts:

Kriteria Perbedaan Sosial

Kriteria Perbedaan Sosial

  Kriteria Perbedaan Sosial

   1. Kriteria Diferensiasi Sosial

   Diferensiasi sosial ditandai dengan adanya perbedaan berdasarkan ciri - ciri sebagai berikut.

   A. Ciri Fisik

   Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri - ciri tertentu. Misalnya warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dan sebagainya.

   B. Ciri Sosial

   Diferensiasi sosial ini muncul karena perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk di dalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan. Contohnya pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan kantor.

   C. Ciri Budaya

   Diferensiasi budaya berhubungan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat menyangkut nilai -nilai yang dianutnya, seperti religi atau kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai - nilai yang dianut suatu masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian, arsitektur, pakaian adat, agama dan sebagainya.

   Kriteria yang menjadi pokok dan lokasi nyata suatu uraian tentang kebudayaan suku bangsa (etnografi) adalah sebagai berikut.
   a. Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa atau lebih.
   b. Kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh identitas penduduk sendiri.
   c. Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh wilayah - wilayah geografis (wilayah secara fisik).
   d. Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kesatuan ekologis.
   e. Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang mempunyai pengalaman sejarah yang sama.
   f. Kesatuan penduduk yang interaksi di antara mereka sangat dalam.
   g. Kesatuan masyarakat dengan sistem sosial yang seragam.

   Di antara suku - suku bangsa di Indonesia, terdapat persamaan mendasar, yaitu :
   a. Kehidupan sosial yang berdasarkan kekeluargaan.
   b. Hukum adat.
   c. Sistem hak milik tanah.
   d. Kekerabatan, adat perkawinan serta persekutuan dalam masyarakat.

   2. Kriteria Stratifikasi Sosial

   Kriteria atau ukuran yang umumnya digunakan untuk mengelompokkan para anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan tertentu. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut.

   A. Kekayaan

   Kekayaan atau sering juga disebut ukuran ekonomi. Orang yang memiliki harta benda berlimpah (kaya) akan lebih dihargai dan dihormati daripada orang yang miskin.

   B. Kekuasaan

   Kekuasaan dipengaruhi oleh kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat. Seorang yang memiliki kekuasaan dan wewenang besar akan menempati lapisan sosial atas, sebaliknya orang yang tidak mempunyai kekuasaan berada di lapisan bawah.

   C. Keturunan

   Ukuran keturunan terlepas dari ukuran kekayaan atau kekuasaan. Keturunan yang dimaksud adalah keturunan berdasarkan golongan kebangsawanan atau kehormatan. Kaum bangsawan akan menempati lapisan atas, misalnya seperti gelar - gelar berikut ini :
   1) Andi di masyarakat Bugis.
   2) Raden di masyarakat Jawa.
   3) Teungku di masyarakat Aceh, dan sebagainya.

   D. Kepandaian Ilmu Pengetahuan

   Seseorang yang berpendidikan tinggi dan meraih gelar kesarjanaan atau yang memiliki keahlian / professional dipandang berkedudukan lebih tinggi, jika dibandingkan orang berpendidikan rendah. Status seseorang juga ditentukan dalam penguasaan pengetahuan lain, misalnya pengetahuan agama, keterampilan khusus, kesaktian, dan sebagainya.

   Selain kriteria yang telah dibahas tersebut, terdapat juga beberapa ciri umum mengenai faktor - faktor yang menentukan adanya lapisan atau stratifikasi sosial, yaitu sebagai berikut.

   a. Status atas dasasr fungsi dan pekerjaan, misalnya sebagai dokter, guru dan militer. Semuanya sangat menentukan kedudukan dalam masyarakat.
   b. Status seseorang yang beragama. Jika seseorang bersungguh - sungguh dengan penuh ketulusan dan taat dalam menjalankan agamanya, kedudukan orang yang bersangkutan pada masyarakat akan terangkat.
   c. Latar belakang sosial dan lamanya seseorang atau kelompok yang tinggal pada suatu tempat. BIasanya seseorang yang berada di suatu daerah atau kampung akan dihargai masyarakatnya jika yang bersangkutan turut mendirikan daerah atau kampung tersebut. Oleh karena itu, tidak sedikit warga masyarakatnya segan dan hormat terhadapnya.
   d. Status atas dasar jenis kelamin dan umur. Orang yang lebih tua di masyarakat pada umumnya mendapat penghormatan dari yang lebih muda.

Related Posts:

Faktor - Faktor Penyebab Konflik Sosial

Faktor - Faktor Penyebab Konflik Sosial

  Faktor - Faktor Penyebab Konflik Sosial

   Konflik yang terjadi mempunyai berbagai macam penyebab. Begitu beragamnya sumber konflik yang terjadi antarmanusia, sehingga sulit untuk dideskripsikan secara jelas dan terperinci sumber konflik tersebut. Hal ini dikarenakan sesuatu yang seharusnya bisa menjadi sumber konflik, tetapi di lain pihak ternyata tidak menjadi sumber konflik, demikian halnya sebaliknya.

   Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri - ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan - perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan lain sebagianya.

   Dengan demikian, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antaranggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. Konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

   Kesimpulannya, sumber konflik sangat beragam. Sumber konflik dapat bersifat rasional dan tidak rasional. Oleh karena itu, kita tidak dapat menetapkan secara tegas bahwa yang menjadi sumber konflik adalah sesuatu hal tertentu, apalagi hanya didasarkan pada hal - hal yang sifatnya rasional.

   Pada umumnya, penyebab munculnya konflik kepentingan sebagai berikut.
   1. Perbedaan kebutuhan, nilai dan tujuan.
   2. Langkanya sumber daya, seperti kekuatan, pengaruh, ruang, waktu, uang, popularitas dan posisi.
   3. Persaingan.

   Ketika kebutuhan, nilai dan tujuan saling bertentangan, ketika sejumlah sumber daya menjadi terbatas dan ketika persaingan untuk suatu penghargaan serta hak - hak istimewa muncul, konflik kepentingan akan muncul.

   Banyak orang berpendapat bahwa konflik terjadi karena adanya perebutan sesuatu yang jumlahnya terbatas. Adapula yang berpendapat bahwa konflik muncul karena adanya ketimpangan-ketimpangan dalam masyarakat, terutama antara kelas atas dan kelas bawah. Selain itu juga karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan, kebutuhan, dan tujuan dari masing masing anggota masyarakat. Sementara itu, Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa sebab sebab terjadinya konflik antara lain sebagai berikut.

   1. Perbedaan Antarperorangan

   Perbedaan ini dapat berupa perbedaan perasaan, pendirian, atau pendapat. Hal ini mengingat bahwa manusia adalah individu yang unik atau istimewa, karena tidak pernah ada kesamaan yang baku antara yang satu dengan yang lain.

   Perbedaan-perbedaan inilah yang dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya konflik sosial, sebab dalam menjalani sebuah pola interaksi sosial, tidak mungkin seseorang akan selalu sejalan dengan individu yang lain. Misalnya dalam suatu diskusi kelas, kamu bersama kelompokmu kebetulan sebagai penyaji makalah. 

   Pada satu kesempatan, ada temanmu yang mencoba untuk mengacaukan jalannya diskusi dengan menanyakan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dibahas dalam diskusi tersebut. Kamu yang bertindak selaku moderator melakukan interupsi dan mencoba meluruskan pertanyaan untuk kembali ke permasalahan pokok. Namun temanmu (si penanya) tadi menganggap kelompokmu payah dan tidak siap untuk menjawab pertanyaan. Perbedaan pandangan dan pendirian tersebut akan menimbulkan perasaan amarah dan benci yang apabila tidak ada kontrol terhadap emosional kelompok akan terjadi konflik.

   2. Perbedaan Kebudayaan

   Perbedaan kebudayaan mempengaruhi pola pemikiran dan tingkah laku perseorangan dalam kelompok kebudayaan yang bersangkutan. Selain perbedaan dalam tataran individual, kebudayaan dalam masing-masing kelompok juga tidak sama. Setiap individu dibesarkan dalam lingkungan kebudayaan yang berbeda-beda. Dalam lingkungan kelompok masyarakat yang samapun tidak menutup kemungkinan akan terjadi perbedaan kebudayaan, karena kebudayaan lingkungan keluarga yang membesarkannya tidak sama. 

   Yang jelas, dalam tataran kebudayaan ini akan terjadi perbedaan nilai dan norma yang ada dalam lingkungan masyarakat. Ukuran yang dipakai oleh satu kelompok atau masyarakat tidak akan sama dengan yang dipakai oleh kelompok atau masyarakat lain. Apabila tidak terdapat rasa saling pengertian dan menghormati perbedaan tersebut, tidak menutup kemungkinan faktor ini akan menimbulkan terjadinya konflik sosial

   Contohnya seseorang yang dibesarkan pada lingkungan kebudayaan yang bersifat individualis dihadapkan pada pergaulan kelompok yang bersifat sosial. Dia akan mengalami kesulitan apabila suatu saat ia ditunjuk selaku pembuat kebijakan kelompok. Ada kecenderungan dia akan melakukan pemaksaan kehendak sehingga kebijakan yang diambil hanya menguntungkan satu pihak saja. Kebijakan semacam ini akan di tentang oleh kelompok besar dan yang pasti kebijakan tersebut tidak akan diterima sebagai kesepakatan bersama. Padahal dalam kelompok harus mengedepankan kepentingan bersama. Di sinilah letak timbulnya pertentangan yang disebabkan perbedaan kebudayaan.

   Contoh lainnya adalah seseorang yang berasal dari etnis A yang memiliki kebudayaan A, pindah ke wilayah B dengan kebudayaan B. Jika orang tersebut tetap membawa kebudayaan asal dengan konservatif, tentu saja ia tidak akan diterima dengan baik di wilayah barunya. Dengan kata lain meskipun orang tersebut memiliki pengaruh yang kuat, alangkah lebih baik jika tetap melakukan penyesuaian terhadap kebudayaan tempat tinggalnya yang baru.

   3. Bentrokan Kepentingan

   Bentrokan kepentingan dapat terjadi di bidang ekonomi, politik, dan sebagainya. Hal ini karena setiap individu memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda dalam melihat atau mengerjakan sesuatu. Demikian pula halnya dengan suatu kelompok tentu juga akan memiliki kebutuhan dan kepentingan yang tidak sama dengan kelompok lain.

   Misalnya kebijakan mengirimkan pemenang Miss Indonesia untuk mengikuti kontes Miss World. Dalam hal ini, pemerintah menyetujui pengiriman tersebut, karena dipandang sebagai kepentingan untuk promosi kepariwisataan dan kebudayaan. Di sisi lain, ada kelompok yang menolak pengiriman tersebut karena dipandang bertentangan dengan norma atau adat ketimuran (bangsa Indonesia). Bangsa Indonesia selama ini dianggap sebagai suatu bangsa yang menjunjung tinggi budaya timur yang santun.

   4. Perubahan Sosial yang Terlalu Cepat di Dalam Masyarakat

   Perubahan adalah sesuatu yang wajar terjadi, namun jika terjadi secara cepat akan menyebabkan gejala sosial, karena adanya ketidaksiapan dan keterkejutan masyarakat yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya konflik sosial. Perubahan - perubahan yang terjadi secara cepat dan mendadak dapat menyebabkant erjadinya disorganisasi dan perbedaan pendirian mengenai reorganisasi sistem nilai yang baru. Perubahan tersebut akan membuat keguncangan proses - proses sosial di dalam masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat yang ada.

   Salah satu contohnya kenaikan BBM, termasuk perubahan yang begitu cepat. Masyarakat banyak yang kurang siap dan kemudian menimbulkan aksi penolakan terhadap perubahan tersebut.

   Selain beberapa hal di atas, proses sosial dalam masyarakat ada juga yang menyebabkan atau berpeluang menimbulkan konflik, yaitu Persaingan dan Kontravensi.

   1. Persaingan (Competition)

   Dalam persaingan individu atau kelompok berusaha mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum. Cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu adalah dengan menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan.

   Jika dikelompokkan, ada dua macam persaingan, yaitu persaingan yang bersifat pribadi dan tidak pribadi atau kelompok. Persaingan pribadi merupakan persaingan yang dilakukan orang per orang atau individu untuk memperoleh kedudukan dalam organisasi. Persaingan kelompok, misalnya terjadi antara dua macam perusahaan dengan produk yang sama untuk memperebutkan pasar di suatu wilayah.
   
   Persaingan pribadi dan kelompok menghasilkan beberapa bentuk persaingan, antara lain persaingan di bidang ekonomi, kebudayaan, kedudukan dan peranan, dan persaingan ras.

   A. Persaingan di Bidang Kebudayaan

   Persaingan di bidang kebudayaan merupakan persaingan antara dua kebudayaan untuk memperebutkan pengaruh di suatu wilayah. Persaingan kebudayaan misalnya terjadi antara kebudayaan pendatang dengan kebudayaan penduduk asli. Bangsa pendatang akan berusaha agar kebudayaannya dipakai di wilayah di mana ia datang. Begitu pula sebaliknya, penduduk asli akan berusaha agar bangsa pendatang menggunakan kebudayaannya dalam kehidupan.

   B. Persaingan Kedudukan dan Peranan

   Apabila dalam diri seseorang atau kelompok terdapat keinginan-keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kedudukan dan peranan terpandang maka terjadilah persaingan. Kedudukan dan peranan yang dikejar tergantung pada apa yang paling dihargai oleh masyarakat pada suatu masa tertentu.

   C. Persaingan Ras

   Persaingan ras sebenarnya juga merupakan persaingan di bidang kebudayaan. Perbedaan ras baik perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, maupun corak rambut hanya merupakan suatu perlambang kesadaran dan sikap atau perbedaan-perbedaan dalam kebudayaan. Persaingan dalam batas-batas tertentu memiliki fungsi. Berikut ini adalah beberapa fungsi persaingan
   1. alat untuk mengadakan seleksi atas dasar jenis kelamin dan sosial;
   2. menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang bersifat kompetitif;
   3. jalan untuk menyalurkan keinginan, kepentingan, serta nilai-nilai yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian sehingga tersalurkan dengan baik oleh mereka yang bersaing;
   4. alat untuk menyaring para warga golongan fungsional sehingga menghasilkan pembagian kerja yang efektif.

   Persaingan dalam segala bentuknya akan menghasilkan hal-hal yang bersifat positif maupun negatif. Hal-hal positif yang dihasilkan dengan adanya persaingan, antara lain makin kuatnya solidaritas kelompok, dicapainya kemajuan, dan terbentuknya kepribadian seseorang.

   1) Makin Kuatnya Solidaritas Kelompok

   Persaingan yang dilakukan dengan jujur akan menyebabkan individu saling menyesuaikan diri dalam hubungan sosialnya. Dengan demikian, keserasian dalam kelompok akan tercapai. Hal itu bisa tercapai apabila persaingan dilakukan dengan jujur.

   2) Dicapainya Kemajuan

   Persaingan akan lebih banyak dijumpai pada masyarakat yang maju dan berkembang pesat. Untuk itu, individu yang berada dalam masyarakat tersebut harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut. Persaingan akan menyebabkan seseorang terdorong untuk bekerja keras supaya dapat berperan dalam masyarakat.

   3) Terbentuknya Kepribadian Seseorang

   Persaingan yang dilakukan dengan jujur dapat menimbulkan tumbuhnya rasa sosial dalam diri seseorang. Namun sebaliknya, persaingan juga bisa menimbulkan hal yang negatif, yaitu terciptanya disorganisasi. Adanya disorganisasi karena masyarakat hampir tidak diberi kesempatan untuk menyesuaikan diri dan melakukan reorganisasi saat terjadi perubahan. Hal itu disebabkan karena perubahan yang terjadi bersifat cepat atau revolusi.

   2. Kontravensi

   Kontravensi berasal dari bahasa Latin, contra dan venire yang berarti menghalangi atau menantang. Kontravensi merupakan usaha untuk menghalang-halangi pihak lain dalam mencapai tujuan. Tujuan utama tindakan dalam kontravensi adalah menggagalkan tercapainya tujuan pihak lain. Hal itu dilakukan karena rasa tidak senang atas keberhasilan pihak lain yang dirasa merugikan. Namun demikian, dalam kontravensi tidak ada maksud untuk menghancurkan pihak lain.

   Menurut Leopold von Wiese dan Howard Becker ada lima macam bentuk kontravensi.
   1. Kontravensi umum, antara lain dilakukan dengan penolakan, keengganan, perlawanan, perbuatan menghalanghalangi, protes, gangguan-gangguan, dan kekerasan.
   2. Kontravensi sederhana, antara lain dilakukan dengan menyangkal pernyataan pihak lain di depan umum, memakimaki orang lain melalui selebaran, mencerca, dan memfitnah.
   3. Kontravensi intensif, antara lain dilakukan dengan menghasut, menyebarkan desas-desus, dan mengecewakan pihak lain.
   4. Kontravensi rahasia, antara lain dilakukan dengan pengkhianatan dan mengumumkan rahasia pihak lain.
   5. Kontravensi taktis, antara lain dilakukan dengan mengejutkan lawan dan mengganggu pihak lain.


   Selain pendapat diatas, terdapat pendapat - pendapat para ahli mengenai faktor - faktor penyebab konflik. Menurut Anoraga (dalam Saputro, 2003) suatu konflik dapat terjadi karena perbedaan pendapat, salah paham, ada pihak yang dirugikan, dan perasaan sensitif.

   1. Perbedaan Pendapat

   Suatu konflik yang terjadi karena perbedaan pendapat dimana masing - masing pihak merasa dirinya benar, tidak ada yang mau mengakui kesalahan, dan apabila perbedaan pendapat tersebut sangat tajam, maka dapat menimbulkan rasa kurang enak, ketegangan dan sebagainya.

   2. Salah Paham

   Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik. Misalnya tindakan seseorang yang tujuan sebenarnya baik, tetapi diterima sebaliknya oleh individu yang lain.

   3. Ada Pihak Yang Dirugikan

   Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain atau masing - masing pihak merasa dirugikan pihak lain, sehingga seseorang yang dirugikan merasa kurang enak, kurang senang atau bahkan membenci.

   4. Perasaan Sensitif

   Perasaan Sensitif adalah seseorang yang terlalu perasa, sehingga sering menyalah artikan tindakan orang lain. Contoh, mungkin tindakan seseorang wajar, tetapi oleh pihak lain dianggap merugikan.

Related Posts:

Sejarah Kerajaan Islam di Sumatra

Kerajaan Islam di Sumatra

  Kerajaan Islam di Sumatra

   1. Kerajaan Samudra Pasai

   Kerajaan Samudra Pasai terletak di Aceh, merupakan kerajaan Islam pertama di Aceh, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meruah Silu pada tahun 1267 M. Bukti - bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja - raja Pasai di kampung Geudong, Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan di desa Beuringin, kecamatan Samudra, sebelah timur Lhokseumawe.

   Di antara makam raja - raja tersebut, terdapat nama Sultan Malik Al - Saleh, Raja Pasai Pertama. Malik al - Saleh adalah nama baru Meurah Silu setelah ia masuk Islam, dan merupakan sultan Islam pertama di Indonesia.

   Pada masa jayanya, Samudra Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam, Arab dan Persia. Komoditas Utama adalah lada. Sebagai bandar perdagangan besar, Samudra Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudra Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam. Seiring perkembangan zaman, Samudra Pasai mengalami kemunduran, hingga ditaklukan oleh Majapahit sekitar tahun 1360 M. Pada tahun 1524 M ditaklukan oleh kerajaan Aceh.

   Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan besar, pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam. Sebagai kerajaan besar, di kerajaan ini juga berkembang suatu kehidupan yang menghasilkan karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu.

   Sejalan dengan itu, juga berkembang ilmu tasawuf. Di antara buku tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Durru al - Manzum, karya Maulana Abu Ishak. Kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan.

   2. Kerajaan Aceh Darussalam

   Kerajaan Aceh berdiri menjelang keruntuhan Samudra Pasai, Sebagaimana tercatat dalam sejarah, pada tahun 1360 M, Samudra Pasai ditaklukan oleh Majapahit, dan sejak saat itu, kerajaan Pasai terus mengalami kemunduran. Diperkirakan, menjelang berakhirnya abad ke - 14 M, kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri dengan penguasa pertama Sultan Ali Mughayat Syah.

   A. Letak Kerajaan Aceh Darussalam

   Pada awalnya, wilayah Kerajaan Aceh ini hanya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Ketika Mughayat Syah naik tahta menggantikan ayahnya, ia berhasil memperkuat kekuatan dan mempersatukan wilayah Aceh dalam kekuasaannya, termasuk menaklukan kerajaan Samudra Pasai.

   Kerajaan Aceh lebih dikenal dengan nama Aceh Darussalam dengan wilayah yang luas, hasil dari penaklukan kerajaan - kerajaan kecil di sekitarnya. Sejarah mencatat bahwa, usaha Mughayat Syah untuk mengusir Portugis dari seluruh bumi Aceh dengan menaklukan kerajaan - kerajaan kecil yang sudah berada di bawah portugis berjalan lancar. Dengan jatuhnya Pasai pada tahun 1524 M, Aceh Darussalam menjadi satu - satunya kerajaan yang memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut.

   Dalam sejarahnya, Aceh Darussalam mencapai masa kejayaan di masa Sultan Iskandar Muda (1590 - 1636). Pada masa itu, Aceh merupakan salah satu pusat perdagangan yang sangat ramai di Asia Tenggara. Kerajaan Aceh pada masa itu juga memiliki hubungan diplomatik dengan dinasti Usmani di Turki, Inggris dan Belanda. Pada masa Iskandar Muda, Aceh pernah mengirim utusan ke Turki Usmani dengan membawa hadiah. Kunjungan ini diterima oleh Khalifah Turki Usmani dan ia mengirim hadiah balasan berupa sebuah meriam dan penasehat militer untuk membantu memperkuat angkatan perang Aceh. Wilayah kekuasaan Aceh mencapai Pariaman wilayah pesisir Sumatra Barat.

   B. Kehidupan Ekonomi

   Perekonomian Kerajaan Aceh berkembang pesat, daerahnya yang subur banyak menghasilkan lada. Kekuasaan Aceh atas daerah - daerah pantai timur dan barat Sumatra menambah jumlah ekspor ladanya. Penguasaan Aceh atas beberapa daerah di Semenanjung Malaka menyebabkan bertambahnya badan ekspor penting timah dan lada. Kapal - kapal Aceh aktif dalam perdagangan dan pelayaran sampai Laut Merah.

   C. Kehidupan Budaya

   Kejayaan yang dialami oleh kerajaan Aceh tersebut tidak banyak diketahui dalam bidang kebudayaan. Walaupun ada perkembangan dalam bidan gkebudayaan, tetapi tidak sepesat perkembangan dalam aktivitas perekonomian. Peninggalan kebudayaan yang terlihat nyata adalah Masjid Baiturrahman.

   D. Penyebab Kemunduran Kerajaan Aceh

   1) Setelah Sultan Iskandar Muda wafat, tidak ada raja - raja besar yang mampu mengendalikan daerah Aceh yang demikian luas. Di bawah Sultan Iskandar Thani, sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu mulai terasa dan terlebih lagi setelah meninggalnya Sultan Iskandar Thani.

   2) Daerah kekuasaannya banyak yang melepaskan diri seperti Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau dan Siak.

   3. Kesultanan Palembang

   A. Sejarah Berdirinya Kesultanan Palembang

   Sebelum berdiri Kesultanan Palembang, telah berdiri kerajaan Palembang, dari Kiyai Gede Sedo Ing Lautan hingga Pangeran Sedo Ing Rejek. Saat itu Palembang menjadi wilayah kekuasaan Demak dan Mataram. Pangeran Ario Kesumo mendirikan kesultanan Palembang Darussalam. Sebagai Sultan pertama dia bergelar Sultan Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayyidatul Iman, yang memerintah dari tahun 1659 - 1706.

   Dalam tahun 1703, beliau menobatkan seorang putranya dari Ratu Agung sebagai Raja Palembang Darussalam yang kedua dengan gelar Sultan Muhammad Mansur Jayo Ing Lago (1706 - 1714). Dalam tahun 1709 Sultan Muhammad Mansur Menobatkan puteranya yang sulung, Raden Abubakar, menjadi Pangeran Ratu Purboyo.

   Pada tahun 1813, Sultan Mahmud Badaruddin II kembali ke Palembang, memegang tampuk pemerintahan Kesultanan (1813 - 1821). Saat itu, Sultan Mahmud Badaruddin II menobatkan putra sulungnya menjadi raja dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu  (1819 - 1821), kemudian Sultan Mahmud Badaruddin bergelar Susuhunan.

   Setelah Sultan Mahmud Badaruddin II diasingkan (1821) beliau digantikan putra sulung Sultan Ahmad Najamuddin II bernama Raden Ahmad dengan gelar  Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom (1821 - 1823). Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom juga melakukan perlawanan terhadap Belanda. DIa ditangkap kemudian dibuang ke Banda, lalu ke Manado. Lantaran seringnya para Sultan Palembang melakukan perlawanan, tahun 1825, Belanda akhirnya membubarkan kesultanan Palembang Darussalam.

   B. Kehidupan Sosial - Budaya

   Struktur penduduk dalam pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam terbagi ke dalam dua golongan, yaitu :
   1) Priyayi. Golongan ini merupakan turunan raja - raja (sultan - sultan) atau kaum ningrat.
   2) Rakyat. Golongan ini terbagi ke dalam dua kelompok. Pertama Kelompok "miji" atau di daerah pedalaman. Kedua, kelompok "senan", yaitu golongan rakyat yang lebih rendah dari miji, namun memiliki keistimewaan tersendiri. Maksudnya, kelompok ini tidak boleh dipekerjakan oleh siapapun kecuali hanya untuk sultan. Misalnya membuat atau memperbaiki perahu - perahu dan rumah - rumah sultan atau mendayung perahu untuknya.

Related Posts:

Cara Mengatasi Permasalahan Sosial

Cara Mengatasi Permasalahan Sosial

  Cara Mengatasi Permasalahan Sosial

   Kita sudah mengetahui bahwa ada beberapa penyebab terjadinya permasalahan sosial, lalu bagaimana cara mengatasinya? Berikut ini merupakan permasalahan sosial yang ada di masyarakat, serta penjelasan tentang upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut.

   1. Kebodohan

   Upaya - upaya untuk mengatasi masalah kebodohan dapat dilakukan dengan cara - cara berikut.
   a. Memperluas kesempatan belajar bagi semua orang.
   b. Membebaskan biaya pendidikan dengan memberikan subsidi pendidikan melalui sekolah - sekolah.
   c. Mengembangkan gerakan orang tua asuh untuk memberikan pertolongan pada anak - anak usia sekolah yang terbentuk pada masalah biaya pendidikan. 
   d. Mendirikan unit - unit sekolah baru yang merata dan tersebar di seluruh pelosok tanah air.
   e. Menyediakan sarana dan prasarana belajar, seperti perpustakaan desa, taman bacaan, museum, dan balai latihan kerja.
   f. Program sekolah terbuka merupakan sekolah yang waktu belajarnya tidak terlalu padat dan terikat. Sekolah terbuka diperuntukkan bagi siswa yang kurang mampu. Dengan sekolah terbuka, siswa dapat sekolah meskipun sudah bekerja.
   g. Program pendidikan luar sekolah biasanya berupa kursus - kursus seperti menjahit, perbengkelan, ataupun komputer. Pemerintah mengadakan program pendidikan luar sekolah agar anak - anak yang tidak sekolah atau putus sekolah dapat tetap memiliki ilmu dan keterampilan.

   2. Pengangguran

   Ada berbagai cara untuk mengatasi pengangguran, antara lain sebagai berikut.

   A. Peningkatan Mobilitas Tenaga Kerja dan Modal

   Peningkatan mobilitas tenaga kerja dilakukan dengan memindahkan pekerja ke kesempatan kerja yang ada dan melatih ulang keterampilannya, sehingga dapat memenuhi tuntutan kualifikasi di tempat baru. Peningkatan mobilitas modal dilakukan dengan memindahkan industri (padat karya) ke wilayah yang mengalami masalah pengangguran. Cara ini baik digunakan untuk mengatasi masalah pengangguran struktural.

   B. Menggalakkan Program Transmigrasi

   Program transmirasi merupakan cara efektif meratakan pembangunan, dan jumlah penduduk, serta untuk mengatasi masalah pengangguran. Transmigrasi adalah solusi terbaik untuk mengatasi pengangguran jika diikuti dengan memberikan pelatihan dan pemberian modal untuk membuka usaha di wilayah transmigrasi. Dengan demikian terdapat lapangan pekerjaan baru dan mengurangi jumlah pengangguran.

   C. Penyediaan Informasi Tentang Kebutuhan Tenaga Kerja

   Untuk mengatasi pengangguran musiman, perlu adanya pemberian informasi mengenai tempat - tempat yang sedang membutuhkan tenaga kerja. Masalah pengangguran dapat muncul karena seorang tidak tahu perusahaan apa saja yang membuka lowongan kerja, atau perusahaan seperti apa yang cocok dengan keterampilan yang dimiliki. masalah tersebut adalah masalah penyampaian informasi.

   Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diadakan sistem informasi yang memudahkan orang mencari pekerjaan. Sistem tersebut dapat berupa pengumuman lowongan kerja di kampus dan media massa. Dapat juga berupa pengenalan profil perusahaan di sekolah - sekolah kejuruan, kampus, balai latihan kerja, dan bursa kerja.

   D. Pertumbuhan Ekonomi

   Pertumbuhan ekonomi dapat digunakan untuk mengatasi pengangguran friksional. Dalam situasi normal, pengangguran friksional tidak mengganggu karena sifatnya hanya sementara. Tingginya tingkat perpindahan kerja justru menggerakkan perusahaan untuk meningkatkan diri (karier dan gaji) tanpa harus beprindah ke perusahaan lain.

   Menurut Keynes, pengangguran yang disengaja terjai bila orang lebih suka menganggur daripada harus bekerja dengan upah rendah. Di sejumlah negara, pemerintah menyediakan tunjangan / santunan bagi para pengangguran. Bila upah kerja rendah, maka orang lebih suka menganggur dengan mendapatkan santunan pengangguran. Untuk mengatasi pengangguran jenis ini diperlukan adanya dorongan - dorongan (penyuluhan) untuk giat bekerja.
 
   Pengangguran tidak disengaja terjadi bila pekerja berkeinginan bekerja pada upah yang berlaku tetapi tidak mendapatkan lowongan pekerjaan. Dalam jangka panjang masalah tersebut dapat diatasi dengan pertumbuhan ekonomi.

   E. Program Pendidikan dan Pelatihan Kerja

   Pengangguran disebabkan oleh masalah tenaga kerja yang tidak terampil dan ahli. Perusahaan lebih menyukai calon pegawai yang sudah memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. Masalah tersebut amat relevan di negara kita, mengingat sejumlah besar pengangguran adalah orang yang belum memilii keterampilan atau keahlian tertentu.

   F. Meningkatkan dan mendorong kewirausahaan

   Adanya UKM dengan pemberian modal yang diberikan oleh pemerintah dan kerjasama dengan pihak swasta dapat meningkatkan jumlah wiraswasta. Menumbuhkan jiwa wirausaha sejak sekolah dapat merubah paradigma dalam mencari pekerjaan. Hal inilah yang harus didukung oleh pemerintah. Mendukung kegiatan wirausaha kecil dan memberikan pelatihan - pelatihan wirausaha hingga memberikan pinjaman - pinjaman wirausaha dapat meningkatkan dan mendorong kewirausahaan. Kewirausahaan bukan saja dapat mengatasi pengangguran, tetapi juga merupakan bentuk usaha untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.

   3. Kemiskinan

   Untuk mengatasi kemiskinan memang memerlukan perhatian dari semua pihak yaitu dengan melakukan upaya - upaya sebagai berikut.
   a. Membatasi pertumbuhan penduduk melalui program keluarga berencana dan program keluarga sejahtera. Hal ini dimaksudkan agar   semua generasi yang lahir mempunyai potensi untuk memperoleh jaminan hidup yang memadai dari orang tuanya.
   b. Mengembangkan pendidikan terutama bagi lapisan ekonomi lemah yang tinggal di daerah - daerah pedesaan.
   c. Mengembangkan industri kecil di pedesaan dengan bimbingan teknis, pinjaman kredit, dan mengoordinasikan pemasaran hasil produk kerajinan melalui koperasi.
   d. Membudayakan hidup sederhana.
   e. Melaksanakan program inpres desa tertinggal antara lain dengan pinjaman kecil secara bergulir sebagai modal usaha di pedesaan.
   f. Membudayakan gemar menabung.
   g. Membudayakan pemakaian produk dalam negeri, dan lain - lain.

   4. Kesehatan

   Untuk menanggulangi masalah kesehatan dapat dilakukan dengan beberapa langkah berikut.
   a. Peningkatan gizi masyarakat.
   b. Pelaksanaan Imunisasi.
   c. Penambahan fasilitas kesehatan.
   d. Penyediaan pelayanan kesehatan gratis.
   e. Pengadaan obat generik.
   f. Penambahan jumlah tenaga medis.
   g. Melakukan penyuluhan tentang arti pentingnya kebersihan dan pola hidup sehat.

   5. Kejahatan

   Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kejahatan.
   a. Peningkatan kesejahteraan rakyat untuk mengurangi pengangguran yang dengan sendirinya akan mengurangi kejahatan.
   b. Memperbaiki sistem administrasi dan pengawasan untuk mencegah terjadinya penyimpangan - penyimpangan.
   c. Peningkatan penyuluhan hukum untuk memeratakan kesadaran hukum rakyat.
   d. Menambah personil kepolisian dan personil penegak hukum lainnya untuk lebih meningkatkan tindakan represif maupun preventif.
   e. Meningkatkan ketangguhan moral serta profesionalisme bagi para pelaksana penegak hukum.

   6. Konflik

   Usaha untuk meredakan pertikaian atau konflik dalam mencapai kestabilan dinamakan akomodasi. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk penyelesaian konflik tersebut, antara lain sebagai berikut.

   A. Abitrasi

   Abitrasi yaitu suatu perselisihan yang langsung dihentikan oleh pihak ketiga. dalam hal ini pemerintah dan aparat penegak hukum yang memberikan keputusan, dan diterima serta ditaati oleh kedua belah pihak yang berkonflik dengan memberi sanksi yang tegas.

   b. Mediasi

   Mediasi merupakan penghentian pertikaian oleh pihak ketiga, tetapi tidak diberikan keputusan yang mengikat.

   C. Konsiliasi

   Konsiliasi yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak - pihak yang berselisih, sehingga tercapai persetujuan bersama.

   D. Stalemate

   Stalemata yaitu keadaan ketika kedua belah pihak yang bertentangan memiliki kekuatan yang seimbang. Lalu berhenti pada suatu titik tidak saling menyerang. Keadaan ini terjadi karena kedua belah pihak tidak mungkin lagi untuk maju atau mundur.

   E. Adjudication (Ajudikasi)

   Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan dengan mengutamakan sisi keadilan dan tidak memihak kepada siapapun.

   7. Kenakalan Remaja

   Hal - hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja adalah sebagai berikut.

   a. Tindakan Preventif

   Tindakan preventif adalah tindakan yang dilakukan oleh pihak berwajib sebelum penyimpangan sosial terjadi agar suatu tindak pelanggaran dapat diredam atau dicegah. Pengendalian yang bersifat preventif umumnya dilakukan dengan cara bimbingan, pengarahan dan ajakan.

   Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara umum dapat dilakukan dengan cara berikut.
   1) Mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja.
   2) Mengetahui kesulitan - kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan - kesulitan manakah yang biasanya menjadi sebab timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan.
   3) Usaha pembinaan remaja, dapat dilakukan dengan cara berikut.
   a. Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.
   b. Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampilan melainkan pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etika.
   c. Menyediakan sarana - sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.
   d. Usaha memperbaiki keadaan lingkungan sekitar keadaan sosial keluarga, maupun masyarakat dimana terjadi banyak kenakalan remaja.

   b. Tindakan Represif

   Tindakan Represif adalah suatu tindakan aktif yang dilakukan pihak berwajib pada saat penyimpangan sosial terjadi agar penyimpangan yang terjadi dapat dihentikan.
  
   Usaha menindak pelanggaran norma - norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan menerapkan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran.

   Tindakan represif terhadap kenakalan remaja dapat dilakukan dengan cara berikut.
   1) Di rumah, remaja harus menaati peraturan dan tata cara yang berlaku. Di samping itu, perlu adanya semacam hukuman yang dibuat oleh orang tua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Pelaksanaan tata tertib harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama, sedangkan hak dan kewajiban anggota keluarga mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur.

   2) Di sekolah, kepala sekolah yang berwenang dalam pelaksanaan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Dalam beberapa hal guru juga berhak bertindak. Akan tetapi, hukuman yang berat seperti menskors maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Guru, dan staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran dan kemungkinan - kemungkinan pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya, tindakan represif dapat diberikan dalam bentuk peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar dan orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan team guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara, dan sebagainya tergantung dari pelanggaran tata tertib sekolah yang digariskan.

   c. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi

   TIndakan ini dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkah laku si pelanggar dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus, hal ini sering ditanggulangi oleh lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.

   Dari pembahasan mengenai penganggulangan masalah kenakalan remaja ini, perlu ditekankan bahwa segala usaha harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat jasmani dan rohani, teguh dalam kepercayaan dan iman sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.

   8. Kependudukan

   Pemerintah terus berupaya mengatasi masalah - masalah kependudukan. Upaya yang dijalankan pemerintah untuk mengatasi masalah kependudukan, antara .lain sebagai berikut.
   a. Menekan laju pertumbuhan penduduk melalui program keluarga berencana. 
   b. Melaksanakan program transmigrasi.
   c. Meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan.
   d. Membuka lapangan kerja sebanyak mungkin, dan sebagainya.

   9. Kebakaran

   Kebakaran pemukiman sangat meresahkan warga. Kita harus berusaha mencegah terjadinya kebakaran di lingkungan kita. Caranya sebagai berikut.
   a. Merawat kompor supaya layak pakai dan tidak bermasalah.
   b. Merawat jaringan listrik, kabel yang mulai mengelupas harus diganti.
   c. Mematikan kompor setelah memasak.
   d. Berhati - hati menggunakan lilin dan korek api.

   Selain kebakaran pemukiman, kebakaran hutan sering terjadi pada musim kemarau. Asap kebakaran hutan mengganggu kesehatan dan lalu lintas. Selain itu, kawasan hijau hutan akan semakin berkurang.

   10. Kemiskinan

   Mengurangi kemiskinan dapat dilakukan dengan beberapa program pemerintah yang mengedepankan kepentingan rakyat. Program tersebut, antara lain sebagai berikut.

   a. Meningkatkan pendidikan rakyat. Pendidikan harus dapat dicapai oleh semua kalangan dengan melaksanakan wajib belajar. Program ini bertujuan menciptakan anak Indonesia yang cerdas, berintelektual tinggi, serta dapat berguna bagi kepentingan bangsa dan negara.
   b. Membuka banyak lapangan kerja. Program ini merupakan salah satu langkah efektif untuk menekan kemiskinan karena dengan adanya lapangan pekerjaan, maka seseorang akan bekerja dan mendapat penghasilan untuk kesejahteraan keluarganya.
   c. Stop eksplorasi / pengurasan kekayaan alam Indonesia oleh perusahaan asing. Banyak kekayaan Indonesia yang dikelola oleh pihak asing dengan alasan kita tidak mampu. Padahal jika kekayaan alam Indonesia dikelola sendiri, maka hasil pengelolaannya akan dinikmati oleh rakyat.




Related Posts:

Sejarah Kerajaan Islam di Sulawesi : Kehidupan Politik, Ekonomi dan Sosial

Sejarah Kerajaan Islam di Sulawesi : Kehidupan Politik, Ekonomi dan Sosial

  Sejarah Kerajaan Islam di Sulawesi : Kehidupan Politik, Ekonomi dan Sosial

   Kerajaan Makassar sebenarnya terdiri atas 2 kerajaan yakni Kerajaan Gowa dan Tallo. Kerajaan itu bersatu di bawah pimpinan raja Gowa yaitu Daeng Manrabba. Setelah menganut agama Islam, ia bergelar Sultan Alauddin. Raja Tallo, yaitu Karaeng Mattoaya yang bergelar Sultan Abdullah, menjadi mangku bumi. Bersatunya kedua kerajaan tersebut bersamaan dengan tersebarnya agama Islam ke Sulawesi Selatan. Pusat pemerintahan dari Kerajaan Makassar terletak di Sombaopu. Letak Kerajaan Makassar sangat strategis karena berada di jalur lalu lintas pelayaran antara Malaka dan Maluku.

   A. Kehidupan Politik

   Perkembangan pesat Kerajaan Makassar tidak terlepas dari raja - raja yang pernah memerintahnya, yaitu seperti berikut ini.

   1. Raja Alauddin

   Raja Makassar yang pertama memeluk Islam bernama Raja Alauddin yang memerintah Makassar dari tahun 1561 - 1638 M. Kerajaan Makassar mulai terjun dalam dunia perdagangan sehingga menyebabkan meningkatnya kesejahteraan Kerajaan Makassar. Setelah wafatnya Raja Alauddin, keadaan pemerintahan kerajaan tidak dapat diketahui dengan pasti.

   2. Sultan Hasanuddin

   Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, kerajaan Makassar mencapai masa kejayaannya. Dalam waktu yang cukup singkat Kerajaan Makassar telah berhasil menguasai seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Sultan Hasanuddin berkeinginan menguasai sepenuhnya jalur perdagangan nusantara mendorong perluasan kekuasaannya ke kepulauan Nusa Tenggara seperti Sumbawa dan sebagian Flores.

   Pertentangan antara Makassar dan Belanda sering menimbulkan peperangan. Keberanian Sultan Hasanuddin untuk memporak - porandakan pasukan Belanda di Makassar mengakibatkan Belanda semakin terdesak. Atas keberaniannya Belanda memberi julukan kepada Sultan Hassanudin dengan sebutan "Ayam Jantan dari Timur".

   Dalam upaya menguasai Kerajaan Makassar, Belanda menjalin hubungan dengan Raja Bone, yaitu Arung Palaka. Saat terjadi peperangan antara Sultan Hasanuddin dengan pasukan kompeni VOC yang dibantu oleh pasukan Aru Palaka dan pasukan Kapten Yonker, ternyata Sultan Hasanuddin dipaksa untuk menandatangani perjanjian di Desa Bongaya pada tahun 1667. Adapun Isi perjanjian Bongaya adalah sebagai berikut.

   1. VOC menguasai monopoli perdagangan di Sulawesi Selatan.dan Sulawesi Tenggara.
   2. Makassar harus melepas seluruh daerah bawahannya seperti Sopeng, Luwu, Wajo dan Bone.
   3. Aru Palaka dikukuhkan sebagai Raja Bone.
   4. Makassar harus menyerahkan seluruh benteng - bentengnya.
   5. Makassar harus membayar biaya perang dalam bentuk hasil bumi kepada VOC setiap tahun.

   Perjanjian tersebut sangat merugikan rakyat Indonesia, terlebih di Makassar dan politik adu domba Belanda terhadap Sultan Hasanuddin dan Aru Palaka telah menghancurkan persatuan rakyat di Makassar.

   3. Mapasomba

   Setelah Sultan Hasanuddin turun tahta, ia digantikan oleh putranya yang bernama Mapasomba. Sultan Hasanudddin sangat berharap agar Mapasomba dapat bekerja sama dengan Belanda. Tujuannya agar Kerajaan Makassar dapat bertahan. Mapasomba jauh lebih keras daripada Ayahnya sehingga Belanda mengerahkan pasukan besar - besaran untuk menghadapi Mapasomba. Pasukan Mapasomba berhasil dihancurkan dan ia tidak diketahui nasibnya.

   B. Kehidupan Sosial

   Kehidupan sosial masyarakat kerajaan Makassar diwarnai oleh ajaran agama Islam. Mayoritas masyarakat Makassar beragama Islam sampai sekarang. Dwi tunggal Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah sangat giat mengislamkan rakyatnya. Merkea juga berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dengan berpegang teguh pada keyakinan bahwa Tuhan menciptakan lautan untuk semua hamba - Nya.

   C. Kehidupan Ekonomi

   Kerajaan Makassar yang terletak di Sulawesi itu sangat strategis. Kerajaan itu kemudian berkembang pesat menjadi pusat perdagangan. Kegiatan perekonomian masyarakat Makassar bertumpu pada perdagangan dan pelayaran. Terlebih lagi Masyarakat Sulawesi terkenal sebagai pelaut ulung dan pemberani dalam mengarungi samudera.

   Berkembang Makassar sebagai pusat perdagangan di wilayah timur Indonesia mengakibatkan banyak pedagang asing seperti Portugis, Inggris dan Denmark berdagang di Makassar. Dengan kapal jenis pinisi dan lambo, pedagang Makassar memegang peranan penting dalam perdagangan di Indonesia.

Related Posts:

Sejarah Kerajaan Cirebon

Sejarah Kerajaan Cirebon

  Sejarah Kerajaan Cirebon

   A. Sejarah Berdirinya Kerajaan Cirebon

   Kerajaan Cirebon merupakan bagian dari administratif Jawa Barat. Cirebon didirikan pada 1 Sura 1445 M, oleh Pangeran Cakrabuana. Pada tahun 1479 M Pangeran Cakrabuana sebagai penguasa Cirebon yang bertempat di kraton Pakungwati menyerahkan kekuasaannya pada Sunan Gunung Jati. Sejak inilah Cirebon menjadi negara merdeka dan bercorak Islam.

   B. Kondisi Sosial Budaya

   Kondisi Sosial Kerajaan Cirebon tidak lepas dari pelabuhan karena pada mulanya Cirebon memang sebuah bandar pelabuhan. Dari sini tidak mengherankan juga kondisi sosial di Kerajaan Cirebon juga terdiri dari beberapa golongan. DI antara golongan yang ada, yaitu golongan raja beserta keluarga, golongan elite, golongan non elite, dan golongan budak.

   Cirebon memiliki beberapa tradisi ataupun budaya dan kesenian yang sampai sampai saat ini masih terus berjalan dan masih terus dilakukan oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah upacara tradisional Maulid Nabi Muhammad SAW yang ada sejak pemerintahan Pangeran Cakrabuana dan juga upacara Pajang Jimat.

Related Posts:

Pengaruh Kebudayaan Islam di Indonesia

Pengaruh Kebudayaan Islam di Indonesia

  Pengaruh Kebudayaan Islam di Indonesia

   Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Buddha Hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia. Akulturasi budaya tersebut dapat dilihat dari berbagai bidang sebagai berikut.

   1. Seni Bangunan

   Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam dan istana. Masjid adalah tempat ibadahnya orang Islam. Di Indonesia, istilah masjid biasanya menunjuk pada tempat untuk menyelenggarakan shalat Jumat. Masjid di Indonesia biasanya mempunyai ciri khas tersendiri, diantaranya sebagai berikut.

   A. Atapnya berbentuk "atap tumpang" yaitu atap bersusun. Jumlah atap tumpang itu selalu ganji, 3 atau 5.
   B. Tidak adanya menara. Pada masa itu masjid yang mempunyai menara hanya masjid Banten dan masjid Kudus.
   C. Biasanya masjid dibuat dekat istana, berada di sebelah utara atau selatan. Biasanya didirikan di tepi barat alun - alun. Letak masjid ini melambangkan bersatunya rakyat dan raja.

   Ciri - ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari : 
   A. Makam - makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat - tempat yang keramat.
   B. Makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing, nisannya juga terbuat dari batu.
   C. Diatas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan Kubba.
   D. Dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok - kelompok makam.

   2. Aksara dan Seni Sastra

   Wujud akulturasi dalam seni sastra terlihat dari tulisan / aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu. Bentuk seni sastra yang berkembang sebagai berikut.

   A. Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah.
   B. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi.
   C. Suluk adalah kitab yang membentangkan soal - soal tasawwuf.

   Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa, kedatangan Islam ke Indonesia membawa pengaruh cukup besar bagi kebudayaan Indonesia. Tetapi bukan berarti menghapus semua yang ada sebelumnya. Misalnya, kesenian wayang yang telah ada sebelum kedatangan Islam. Bahkan wayang ini digunakan para wali untku menyebarkan agama Islam.

   3. Sistem Pemerintahan

   Dalam Pemerintahan, sebelum Islam masuk Indonesia, sudah berkembang pemerintahan yang bercorak Hindu dan Buddha. Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan seperti halnya para wali dan apabila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan di Candi tetapi dimakamkan secara Islam.

   4. Sistem Kalender

   Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal kalender Saka. Dalam kalender Saka ini ditemukan nama - nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon, wage, dan kliwon. Setelah berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan seperti tahun Hijriah. Nama - nama bulan yang digunakan adalah 12, sama dengan penanggalan Hijriyah.

   Demikian pula, nama - nama bulan mengacu pada bahasa bulan Arab yaitu 
   1. Sura (Muharram), 
   2. Sapar (Safar), 
   3. Mulud (Rabi'ul awal),
   4. Bakda Mulud (Rabi'ul akhir),
   5. Jumadilawal (Jumadil Awal),
   6. Jumadilakir (Jumadil Akhir),
   7. Rejeb (Rajab),
   8. Ruwah (Sya'ban),
   9. Pasa (Ramadhan),
   10. Sawal (Syawal),
   11. Sela (Dzulqaidah),
   12. Besar (Dzulhijjah). 

Related Posts: